Beliau berkata: “Wahai Tuhanku, tidakkah Engkau kasihan dengan tangisanku ini?” Maka Allah swt mewahyukan: “Wahai Daud, apakah engkau lupa dengan dosamu dan ingat dengan tangisanmu?” Daud menjawab: “Wahai Tuhanku, mana mungkin aku lupa akan dosaku. Setiap kali aku membaca Zabur, air yang mengalir pun jadi berhenti, angin berhenti berhembus, burung hinggap di atas kepalaku dan binatang buas datang ke mihrabku dengan jinak. Wahai Tuhanku, keterasingan apa yang ada diantara diriku dengan dirimu?”
* Gambar Sekadar Hiasan
Alhamdulillah, Alhamdulillah, Alhamdulillah. Selawat dan salam buat Rasulullah s.a.w.
Ghaust adalah berasal daripada perkataan Bahasa Arab yang bermaksud pertolongan atau bantuan. Perkataan Ghaust, Qutub dan Sultan merupakan satu ungkapan yang disandang oleh salah seorang Auliya illah yang menerajui tampuk pemerintahan para-para wali.
Peranan Wali yang bergelar Ghaust
Peranan Ghaust lebih besar daripada peranan Auliyaillah yang lain kerana dengan doanya kepada ALLAH S.W.T, manusia akan mendapat bantuan dan pertolongan. Jadi perkataan Ghaust ini diambil dari satu perkataan tersebut .
Peninggalan Nubuwwah diamanahkan kepada Al-Wilayah
Di dalam sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Ibnu Hibban dengan sanad kepada Abu Hurairah Radiallahu anhu daripada Nabi s.a.w yang bermaksud :
“Tidak sunyi bumi Allah ini daripada tiga puluh orang seperti Nabi Ibrahim Khalilurrahman kerana melalui mereka kamu diberi pertolongan dan melalui mereka kamu diberi rezeki serta melalui mereka, ALLAH S.W.T turunkan hujan kepada kamu ”.
Selepas wafatnya Rasulullah s.a.w tidak ada lagi Nabi dan juga Rasul yang diutuskan. Pintu Nubuwwah telah tertutup, yang ada hanyalah Al-wilayah (kewaliyan). Merekalah yang mewarisi tugas Nabi-nabi dan Rasul-rasul sehingga turunnya Nabi Isa Alaihissalam dari langit.
Keyakinan Sufiyyah
Kaum Sufi meyakini kewujudan kerajaan Auliyaillah. Keyakinan kaum Sufi bukanlah suatu bentuk kepercayaan yang membuta tuli tanpa dalil, bahkan pastinya keyakinan ini bersumberkan daripada Hadis Nabi dan Athar Salaf. Turut menyumbang lagi keyakinan mereka ialah pengalaman-pengalaman yang ditempuh sendiri oleh mereka yang terpilih dalam kembara menuju kepada TUHAN. Pengalaman-pengalaman yang sedemikian itu terpahat dalam kitab-kitab Tasauf sepanjang zaman dan di seluruh pelusuk dunia Islam.
Bilangan Auliyaillah yang termaktub dalam Hadis Nabi dan Athar
Oleh sebab banyak jumlah Hadis Nabi dan Athar, sehingga menjadi seolah-olah satu kebodohan untuk tidak mempercayainya, kerana Hadis Nabi dan Athar telah mencapai kepada darjah Mutawatir. Kerajaan para Auliyaillah yang diterajui oleh Ghaust mempunyai 356 ahli kabinetnya. Bilangan itu telah tersebut dalam hadis yang telah diriwayatkan oleh Hafiz Abu Nu-aim dengan sanad daripada Abdullah bin Mas’ud Radiallahu anhuu, iaitu sabda Rasulullah s.a.w :
* Klik Disini
“ Sesungguhnya bagi Allah pada makhluk ciptaanNya itu ada 300 orang, hati mereka di atas hati Nabi Adam Alaihissalam dan bagi ALLAH S.W.T pada makhluk ciptaanNya itu ada 7 orang hati mereka di atas hati Nabi Ibrahim Alaihissalam dan bagi Allah pada makhluk ciptaannya itu ada 40 orang hati mereka di atas hati Nabi Musa Alaihissalam dan bagi ALLAH S.W.T pada makhluk ciptaanNya itu ada 5 orang hati mereka di atas hati Jibril Alaihissalam dan bagi ALLAH S.W.T pada makhluk ciptaanNya itu ada 3 orang hati mereka di atas hati Mikail Alaihissalam dan bagi ALLAH S.W.T pada makhluk ciptaanNya itu ada 1 orang hati mereka di atas hati Israfil Alaihissalam .”
Wallahu A’lam. Hanya semata-mata limpah kurnia dan rahmat dari Allah Ta’ala.
* Gambar Sekadar Hiasan
Hatim al-A’ashom berkata; “Nafsu adalah tempat istirahatku, Ilmu adalah pedangku dan dosa adalah kegagalanku sedangkan Syaitan adalah musuhku. Aku sebenarnya dikhianati oleh nafsuku.”
* Gambar Sekadar Hiasan
1. Imam al-Bukhari (15,126 rakaat)
“al-Farbari berkata bahwa al-Bukhari berkata: Saya tidak meletakkan 1 hadis pun dalam kitab Sahih saya, kecuali saya mandi terlebih dahulu dan saya salat 2 rakaat”
(Diriwayatkan oleh banyak ahli hadis, diantaranya dalam Thabaqat al-Huffadz, al-Hafidz as-Suyuthi,1/48, Siyar A’lam an-Nubala’, al-Hafidz adz-Dzahabi 12/402, Thabaqat al-Hanabilah, 1/274, Tarikh Baghdad 2/9, Tahdzib al-Asma, Imam an-Nawawi, 1/74, Wafayat al-A’yan 4/190, Tahdzib al-Kamal, al-Hafidz al-Mizzi 1169, Thabaqat as-Subki 2/220, dan al-Hafidz Ibnu Hajar dalam Muqaddimah al-Fath 490 dan at-Tahdzib 9/42)
Sedangkan hadis yang tertera dalam Sahih al-Bukhari berjumlah 7563 hadis. Maka solat yang beliau lakukan juga sesuai jumlah hadis tersebut atau 15126 (lima belas ribu seratus dua puluh enam) rakaat.
“Kami meriwayatkan dari Abdul Quddus bin Hammam, bahwa ia mendengar dari para guru yang berkata seputar al-Bukhari ketika menulis bab-bab salam kitab Sahihnya diantara makam Nabi dan mimbarnya, dan al-Bukhari salat 2 rakaat dalam tiap-tiap bab” (Tahdzib al-Asma’, an-Nawawi, 1/101)
2. Imam Malik bin Anas (800 rakaat)
“Abu Mush’ab dan Ahmad bin Ismail berkata: Malik bin Anas berpuasa sehari dan berbuka sehari selama 60 tahun dan ia solat setiap hari 800 rakaat” (Thabaqat al-Hanabilah, Ibnu Abi Ya’la, 1/61)
3. Imam Ahmad Bin Hanbal (300 rakaat)
“Sungguh saya berdoa kepada Allah untuk Syafii dalam solat saya sejak 40 tahun. Doanya: Ya Allah ampuni saya, kedua orang tua saya dan Muhammad bin Idris asy-Syafii” (Thabaqat al-Syafiiyah al-Kubra, as-Subki, 3/194 dan Manaqib asy-Syafii, al-Baihaqi, 2/254)
“Abdullah bin Ahmad berkata: Bapak saya (Ahmad bin Hanbal) melakukan solat dalam sehari semalam sebanyak 300 rakaat. Ketika beliau sakit liver, maka kondisinya melemah, beliau solat dalam sehari semalam sebanyak 150 rakaat, dan usianya mendekati 80 tahun” (Mukhtashar Tarikh Dimasyqa, Ibnu Rajab al-Hanbali, 1/399)
“Ja’far bin Muhammad bin Ma’bad berkata: Saya melihat Ahmad bin Hanbal solat 6 rakaat setelah Jumaat, masing-masing 2 rakaat” (Thabaqat al-Hanabilah, Ibnu Abi Ya’la, 1/123)
4. Imam Basyar bin Mufadlal (400 rakaat)
“Imam Ahmad berkata tentang Basyar bin Mufadzal al-Raqqasyi: Kepadanyalah puncak kesahihan di Bashrah. Ia salat setiap hari sebanyak 400 rakaat, ia puasa sehari dan berbuka sehari. Ia terpercaya dan memiliki banyak hadis, wafat 180 H” (Thabaqat al-Huffadz, al-Hafidz as-Suyuthi,1/24)
5. Cucu Saidina Ali (1000 rakaat)
“Ali bin Husain bin Ali bin Abi Thalib, hiasan ahli ibadah, disebut demikian karena ia solat dalam sehari sebanyak 1000 rakaat, sehingga di lututnya terdapat benjolan seperti unta” (Tahdzib al-Asma’, al-Hafidz al-Mizzi, 35/41)
“Malik berkata: Telah sampai kepada saya bahawa Ali bin Husain solat dalam sehari semalam 1000 rakaat sampai wafat” (Tadzkirah al-Huffadz, al-Hafidz adz-Dahabi, 1/60)
Kehebatan Sayyidina Uthman ibn Affan mengkhatamkan al-Quran dalam rakaat pertama Solat Subuh, kehebatan Imam Syu’bah mengkhatamkan al-Quran 18,000 kali hanya di sudut sahaja, kehebatan Imam Syafie mengkhatamkan sekali setiap hari dan dua kali pada Bulan Ramadhan, ada juga ulamak yang mengkhatamkan al-Quran empat kali pada waktu siang dan empat kali pada waktu malam.
* Gambar Sekadar Hiasan
Di kalangan santri, dunia wirid dan kalimah thayyibah sudah tidak asing lagi. Ada satu pertanyaan yang sering muncul dari para santri soal perlu atau tidaknya Hizib atau wirid itu diwirid dengan Guru. Habib Luthfi bin Yahya dari Pekalongan memberikan jawaban bahwa Hizib boleh saja dibaca tanpa ijazah Guru. Tapi akan lebih mulia (afdlal) jika Hizib dibaca dengan ijazah dan bimbingan dari Guru yang ahli. Sebab sejak awal dirancang oleh para waliyullah untuk kalangan tertentu dan mempunyai kemampuan lebih. Dan dalam bacaan Hizib terkandung “dosis tingkat tinggi”.
Orang awam tidak bisa memahami kadar dosis itu karena dalam Hizib terkandung banyak sirr (rahasia). Misalnya ada bacaan ayat al-Qur’an yang tidak terkait dengan bacaan do’a sebelumnya, padahal semestinya itu sangat terkait dari asbabun nuzulnya.
Dalam Hizib terkandung makna ismul a’dzam (nama keagungan Allah) yang dibuat secara khusus oleh para waliyullah. Dan Hizib disusun bukan karena keinginan pengarang (muallif), sebab Hizib adalah ilham dari Allah. Dan adapula Hizib yang langsung didapatkan dari Rasulullah SAW seperti Hizib Bahr-nya Al Imam Al Habib Abul Hasan Ali Asy Syadzili. Sehingga Hizib itu mempunyai fadlilah dan khasiyat yang luar biasa.
Bagi Habib Luthfi, pengamal Hizib juga ada syarat usia yang harus dipenuhi. Sebab para pengamal Hizib biasanya selalu dihadapkan berbagai ujian. Ada yang hatinya mudah panas, sehingga cepat marah. Ada yang membentuk kehebatan dan membuat orang lepas kontrol dan merasa diri paling hebat atau benar. Ada yang rejekinya panas dan menguap tanpa bekas dan ada pula yg berantakan kondisi rumah tangganya.
Maka lebih afdhal Hizib memerlukan ijazah dari ulama atau guru yang sangat mumpuni dalam arti mempunyai sanad ijazah Hizib yang bersambung dan paham dosis Hizib. Selain itu dibutuhkan guru yang membimbing agar menjadi orang shaleh dan istiqamah mendampingi dari efek negatif membaca Hizib.
Itulah pentingnya ilmu yang berdasar arahan guru dan pentingnya santri dekat dengan ulama, kyai, pemberi ijazah Hizib agar hidup bertambah barokah dan istiqamah.
Maka perintah duduk bersama para ulama dan mendengarkan kata bijak dari ahli hikmah menjadi tauladan yang patut selalu dijalani. Dari ulama dan ahli hikmah ini akan lahir nasehat dan kebijaksanaan hidup di dunia dan akhirat
Macam Wirid
Definisi wirid disini mencakup berbagai doa atau kalimat yang dibaca di berbagai kesempatan baik setelah sholat atau dikala punya hajat penting dan sebagainya. Perlu diketahui pembagian wirid agar kita sendiri bisa mengira-ngira apa fungsi, dosis dan waktu yang afdhol dalam mengamalkan wirid tersebut. Ada dua jenis wirid/hizib yang dibagi berdasarkan asalnya :
1. Ma’tsur, di ambil dari al-Qur’an atau Hadits Nabi SAW secara literal , doa doa ini terdapat dalam Al-Quran seperti doa sapu jagad (robbana atina dst), atau doa iktirof (robbana dzolamna anfusana dan seterusnya). Dalam hadits Nabi kita bisa membaca berbagai macam doa di dalam karya Al-Imam An-Nawawi Ad-Dimasyqi yakni Al-Adzkar An-Nawawiyah.Wirid jenis ini lebih utama daripada wirid yang bukan ma’tsur.
2. Ghoir Ma’tsur, wirid ini hasil racikan dan eksperimen namun substansinya tetap mengacu kepada Al-Quran atau hadits Nabi shollallahu alaihi wasallam. Hizib termasuk kategori ini, karena terdapat berbagai ‘rahasia’ di balik hizib ini, maka perlu pembimbing atau mursyid yang berlisensi sekaligus berpengalaman, hizib ibarat obat yang diracik oleh para guru mursyid karena dosisnya yang khusus namun biasanya cukup berat, tidak dianjurkan bagi para pemula untuk mengamalkan tanpa bimbingan dan ijazah seorang Mursyid. Pada umumnya wirid atau hizib ini diperoleh langsung dari Nabi secara ghaib walaupun secara fisik Nabi sudah wafat tetapi pada hakekatnya beliau masih hidup.
* Gambar Sekadar Hiasan
Ilmu itu ibarat cahaya. Meskipun proses mencapainya begitu berat dan panjang, ilmu akan menyinari diri dan orang lain. Bagaikan lampu yang menyinari seluruh orang atau benda yang ada dalam jangkauannya. Makanan dan kotoran yang memiliki warna dan bentuk sama bisa dibedakan. Hal itu tidak dapat dibedakan apabila tidak terlihat (gelap) tanpa cahaya. Demikianlah manfaat ilmu, dapat membedakan mana yang baik dan buruk.
Ilmu yang bersifat batin mesti dicapai melalui kekuatan yang berasal dari batin, berfikir, ada kesungguhan dalam jiwa ingin mendapatkan ilmu (cahaya) sehingga belajarnya disiplin dan konsisten. Jika masa belajar saat ini diabaikan maka kesempatan belajar akan hilang atau berkurang (karena dipakai untuk mencari nafkah). Yang lebih masalah lagi apabila sudah tidak ada keinginan mencari ilmu. Kesempatan bagi santri untuk menimba ilmu zahir dan batin yang seluas-luasnya adalah dengan belajar di pesantren dan sekolah untuk ilmu zahirnya, sedangkan untuk ilmu batin didapat dari majelis bersama Guru Mursyid termasuk berzikir untuk menyambungkan hati kepada Allah melalui wasilah-wasilah-Nya.
* Klik Disini
Tantangan bagi mereka yang menuntut ilmu adalah hawa nafsu dan kehidupan dunia yang dikendalikan oleh syetan. Bebas tidak mau diatur, semaunya, mengejar kenikmatan sesaat, adalah di antara bentuk karakter nafsu. Hawa nafsu diciptakan chemistry (senyawa) dengan kehidupan dunia, oleh karenanya amat berbahaya jika tidak dibimbing. Jika nafsu dilatih dan dibimbing maka ia tidak terjebak oleh dunia, bahkan menjadikannya sebagai media untuk meraih kebahagiaan yang abadi.
* Gambar Sekadar Hiasan
“Jika engkau melihat seorang hamba yang ditetapkan oleh Allah dalam menjaga wirid-Nya dan menyebut-nyebutkan-Nya dalam keadaan tersebut, namun ia begitu lama mendapat pertolongan-Nya, maka jangan sampai meremehkan apa yang Allah berikan kepadanya. Sebab, engkau belum melihat tanda-tanda orang yang arif ataupun kegembiraan pencinta Allah pada dirinya. Kalaulah bukan kerana kurnia ilham, tentu tak akan ada wirid”.
(Syekh Ibnu Atha’illah dalam Al-Hikam).
* Klik Disini
Sahabatku, mari kita menyedari bahawa dalam shalat, doa, munajat dan wirid kepada Allah SWT terkandung ekspresi penyucian diri dan ibadah yang telah ditentukan. Cipta rasa seorang hamba yang memulai untuk melakukan pendekatan dengan ibadah tentu beragam. Bisa jadi, apa yang kita mohon ada yang cepat diberi pertolongan Allah, ada pula yang lambat, melalui proses dan jangka waktu bertahap. Semuanya terserah kepada Allah. Kita tidak perlu turut mahu mengatur dan berserah dirilah atas semua yang ditetapkan-Nya.
Dzikir dan doa kepada Allah tanpa keraguan akan menghasilkan nikmat-nikmat yang tidak bisa digambarkan ketenangan dan indahnya percintaan. Sebab, Allah memuliakan hamba-Nya yang berada di jalan itu dengan beragam tanda-tanda. Maka tak hairan, jika ada beberapa di antara dari kita, yang tak tampak tanda-tanda kearifannya, meskipun sebenarnya dia termasuk orang yang telah mengalami pencerahan luar biasa kerana hijabnya dari menyaksi keindahan dari sisi Tuhan.
* Gambar Sekadar Hiasan
Orang-orang yang berjalan menuju Allah memiliki perhatian, semangat dan ketekunan dalam membaca berbagai wirid. Mereka menikmati wirid-wirid tersebut. Inilah tanda kesungguhan mereka di dalam berjalan menuju Allah dan kemampuan pemahaman mereka yang besar. Barang siapa memahami kedudukan wirid, maka ia akan menaruh perhatian yang besar terhadap berbagai macam wirid dan dzikir. Sehingga perjalanannya menuju Allah berlangsung dengan baik dan ia akan senantiasa memperoleh limpahan karunia-Nya.
Adapun seseorang yang berada di dalam kebodohan, sedikit pun ia tidak akan menaruh perhatian terhadap berbagai macam wirid tersebut. Dan seandainya ia membaca salah satu wirid itu, maka ringan baginya untuk meninggalkannya. Jika salah satu wirid yang ia baca terlewatkan kerana suatu sebab, maka ia tidak akan pernah merasa kehilangan maupun merindukannya. Ini merupakan tanda kebodohannya. Seseorang yang demikian keadaannya, sebenarnya ia tidak berjalan menuju Allah Ta’ala. Oleh karena itu, kalian pasti akan melihat keutamaan dan manafaat nyata yang akan diperolehi mereka yang suka membaca wirid, di dunia ini sebelum di Akhirat nanti.
* Klik Disini
Kalian akan melihat perbedaan yang sangat besar antara orang-orang yang mengisi hari-hari mereka di tempat seperti ini dengan membaca, memuliakan dan mengagungkan wirid (ikut membaca wirid sebelum dan setelah subuh, sebelum dan setelah shalat dhuhur, dzikir sebelum shalat ashar, doa ketika berjabat tangan selepas shalat ashar dan wirid setelah ashar dengan hati yang khusyuk) dengan orang-orang yang mengabaikan berbagai macam wirid tersebut. Di antara mereka pasti tampak perbedaan yang sangat besar yang akan tampak dalam perjalanan kehidupan mereka di dunia maupun di Akhirat.
(Tausiyah Al Alim Al Allamah Al Habib Umar bin Hafidz).
* Gambar Sekadar Hiasan
Berikut adalah himpunan doa penenang hati dari Al-Quran dan hadis yang boleh diamalkan. Ianya pendek dan mudah dihafal.
(Allahumma inni a’uuzubika min jahdil bala’. Wa darkish shaqa’. Wa suu il qadhaa’. Wa shamaatatil a’daa’.)
Maksudnya: Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari menemui penderitaan, dari takdir yang buruk & dari keberhasilan musuh
– Sahih Bukhari
DOA 2
يَا حَيُّ يَا قَيُّوْمُ بِرَحْمَتِكَ أَسْتَغِيْث
(Yaa hayyu yaa qayyuumm. Bi rahmatika astaghiiths.)
Maksudnya: Wahai Rabb Yang Maha Hidup, wahai Rabb Yang Berdiri Sendiri tidak memerlukan segala sesuatu, dengan rahmat-Mu aku meminta pertolongan.
– Hadis Riwayat Tirmidzi
DOA 3
اللهُمَّ لا سَهْلَ إلا مَا جَعَلتَهُ سَهْلا وَ أنتَ تَجْعَلُ الحزْنَ إذا شِئْتَ سَهْلا
(Allahumma la sahla illa ma ja’altahu sahla wa anta taj’alul hazna iza syi’ta sahla)
Maksudnya: “Wahai Tuhanku, tiada kemudahan melainkan apa yang Engkau jadikan mudah dan perkara yang susah boleh Engkau jadikan mudah apabila Engkau mengkehendakinya.”
(Allahumma inni a’uuzubika minal hammi wal hazan. wa a’udzubika minal ajzi wal kasali, wa a’udzubika minal jubni wal bukhli, wa a’udzubika min ghalabatid daini wa qahrir rijaal.)
Maksudnya: Ya Allah, aku berlindung padaMu dari rasa sedih dan gelisah, aku berlindung daripada sifat lemah dan malas, dan aku berlindung padamu dari sikap pengecut dan bakhil, dan aku berlindung padaMu dari cengkaman hutang dan penindasan orang.
– Sahih Bukhari
DOA 5
لا إلهَ إلا أنتَ سُبْحَانَكَ إِنِّي كُنْتُ مِنَ الظّالِمِيْنَ
(Laa ilaaha illa anta subhaanaka inni kuntu minaz zholimin.)
Maksudnya: Tiada Tuhan melainkan Engkau (ya Allah)! Maha Suci Engkau, Sesungguhnya aku adalah dari pada orang-orang yang menganiaya diri sendiri.
Maksudnya: Wahai Tuhanku, lapangkanlah bagiku dadaku, dan mudahkanlah bagiku urusanku, dan lancarkanlah lidahku supaya mereka faham ucapanku.
– Surah Taha Ayat 25-28
DOA 7
حَسْبُنَا اللَّهُ وَنِعْمَ الْوَكِيلُ
(Hasbunallah wanikmal wakil)
Maksudnya: Cukuplah Allah sebagai Pelindung kami
– Surah Al-Imran Ayat 173
SEMOGA KITA LEBIH POSITIF MENGHADAPI UJIAN ALLAH
Adalah lumrah bagi manusia untuk berasa ‘down’ atau kecewa terhadap apa jua yang ditakdirkan kepada diri mereka. Namun percayalah itu semua merupakan ujian Allah yang mahu menguji hambaNya agar kembali mengadu dan pasrah kepadaNya. Yang penting, sabar dan mintalah pertolongan Allah kerana Dialah sahaja Yang Maha Berkuasa atas segala sesuatu.
Dari Salman Al-Farisi r.a meriwayatkan bahawa baginda Rasulullah SAW bersabda:
“Sesungguhnya Allah mempunyai sifat malu, dan memberi kepada orang yang tidak meminta dengan pemberian yang banyak. Apabila seseorang mengangkat tangannya dihadapan Allah, memohon sesuatu, maka Allah amat malu untuk memulangkan kedua tangan tersebut dengan tangan kosong”. (Hadis Riwayat Tirmizi)
Oleh itu, marilah kita mengamalkan doa penenang hati ini untuk meredakan perasaan sedih, marah, gelisah, stres, dan mengusir semua perkara negatif dari fikiran kita.
Mudah-mudahan kita sentiasa berada di bawah lindungan dan rahmat Allah.
Hakikat Bermazhab adalah hakikat mengikut Qur’an dan Sunnah. Bagus pemerhatian di bawah ni: Mereka berkata: kamu bermazhab kerana kamu seorang yang taksub! Saya jawab: Tidak! saya bukan taksub. Saya berlindung dengan Allah daripada sifat taksub. Saya bermazhab hanyasanya kerana saya lihat bahwa mazhab-mazhab fiqh semuanya:
1) Musannadah (مسندة): Mazhab-mazhab ini memiliki sanad sampai kepada Rasulullah SAW. sehingga kesahihannya terjamin.
2) Mudallalah (مدللة): Mazhab-mazhab ini memiliki landasan argumentasi/dalil. Dalil tersebut tidak hanya dalil disebutkan secara eksplisit saja, namun ada dalil yang implisit.
3) Muashshalah (مؤصلة): Mazhab-mazhab ini memiliki metodologi berfikir yang terkodifikasikan dalam kitab-kitab usul fiqh, sehingga sangat tepat dan terukur dalam pengambilan dalil dari Al-Qur’an dan Sunnah.
4) Makhdumah (مخدومة): Mazhab-mazhab ini dikhidmah oleh ratusan bahwa ribuan ulama setelahnya, dari matan menjadi syarah dan dari syarah melahirkan hasyiah. Kemudian juga diberi taqrir dan tanbih, serta khidmah ilmiah lainnya. Ini juga memberikan jaminan akan kesahihan pemahaman keagamaan yang ada di dalam mazhab.
5) Muqa’adah (مقعدة): Mazhab-mazhab ini memiliki kaedah-kaedah fiqh yang sangat rasional, seperti kitab “al-Asybah wan Nazoir” karya Imam Suyuti dalam mazhab Syafi’i, kitab “al-Asybah wan Nazoir” karya Ibnu Nujaim dalam Mazhab Hanafi, kitab “Ta’sisun Nazor” dalam Mazhab Maliki, dan kitab “Raudhatun Nadhir” dalam mazhab Hanbali.
6) Mumanhajah (ممنهجة): Mazhab-mazhab ini memiliki manhaj berfikir yang jelas, detail dan tepat
7) Muttasiqah (متسقة): Mazhab-mazhab ini memiliki tingkat amanah ilmiah yang sangat tinggi dalam menisbatkan sebuah pendapat kepada penuturnya, di dalamnya ada yang dikenal dengan qaul mukharraj dan ada juga yang disebut dengan qaul mansus.
8) Munfatihah (منفتحة): Mazhab-mazhab ini memiliki cara berfikir yang elegan dan terbuka serta sangat toleran. Karena mempunyai kaedah-kaedah usul fiqh dan hal-hal yang bersifat kulli yang masih memungkinkan generasi penerusnya untuk mengembangkannya sesuai dengan masalah-masalah kontemporari yang terjadi seiring perkembangan zaman.
(Syeikh Dr. Amru Wardani, Ahli Darul Ifta’ Mesir, Pengajar Usul Fiqh di Masjid al-Azhar).