maahad al-Tahzib wa al-Ta'alim

Imam Abu Hamid Muhammad Al-Ghazali menulis sebuah cerita dalam Mukasyafah Al-Qulub : Alkisah, seorang bangsawan berjalan-jalan di pasar budak. Matanya tertarik pada seorang budak bertubuh sasa. Lalu ia bertanya kepada budak itu, “Maukah kau bekerja untukku? Aku lihat kau mempunyai keterampilan yang aku perlukan.” Dengan tenang budak itu menjawab, “Aku mahu bekerja untuk siapa pun dengan dua syarat.” “Apa dua syaratmu itu anak muda?” tanya sang bangsawan ingin tahu. “Dua syaratku adalah; pertama, aku hanya bekerja siang hari, jangan suruh aku bekerja di malam hari dan kedua, aku tidak mahu tinggal satu rumah denganmu. Beri aku tempat tinggal yang lain.” Mendengar ini, timbul rasa ingin tahu yang lebih dari bangsawan, ia pun berniat untuk mengambil budak itu bekerja, apatah lagi budak itu memenuhi kriteria pekerja yang dia perlukan.

Diringkaskan cerita, dibawalah budak itu ke rumah sang bangsawan. Dia diizinkan untuk tinggal di sebuah gubuk di sebelah rumah mewah bangsawan. Lalu bermulalah hari-hari si budak bekerja bagi majikan barunya. Segala sesuatu berjalan apa adanya. Si budak bekerja di siang hari menjalankan tugas-tugasnya sampai majikannya sangat puas hati terhadapnya. Ingin rasanya majikan itu memintanya kerja juga di malam hari walaupun hanya untuk pekerjaan ringan, tetapi dia teringat akan syarat pertama si budak. Dan dia merasa berpuas hati dengan pekerjaan yang dibuat oleh si budak itu pada siang hari. Semuanya berjalan lancar sampai suatu saat ketika istri si bangsawan merasa ingin memberi hadiah atas kerja keras budak itu. Tanpa sepengetahuan suaminya, malam hari, istri bangsawan itu membawakan sesuatu buat si budak.

Ia menyelinap masuk ke dalam gubuk. Alangkah terperanjatnya istri bangsawan itu apabila ia menemukan budak itu telungkup sujud. Di atasnya bergayut lingkaran putih bercahaya. Menurut Imam Ghazali, cahayanya terpancar dari langit. Melihat ini, istri bangsawan segera berlari menemui suaminya dan berkata, “Wahai suamiku, sesungguhnya budak itu adalah seorang wali Allah!” Dengan segera pasangan suami istri itu bergegas menemui si budak. Apa jawab budak itu ketika bertemu dengan mereka? Ia hanya menjawab singkat, “Bukankah sudah aku minta agar kalian tidak menggangguku di malam hari?”

Lalu ia menadahkan tangannya ke langit seraya menggumamkan sebuah syair: Ya shahib al-sirr, inna al-sirra qad zhahara, fa ma uridu al-hayata ba’da isytahara. Wahai pemilik rahasia, sesungguhnya rahasia ini telah terungkap, maka tak kuinginkan lagi hidup ini setelah rahasia ini tersingkap.” Tak lama setelah membacakan syair ini, si budak pun sujud dan menghembuskan nafasnya yang terakhir, meninggalkan suami istri itu dalam keheranan. Cerita yang agak panjang dari Imam Ghazali itu memberikan kita pengajaran beberapa perkara.

Pertama, bahwa kita (sebagai manusia biasa) tidak boleh mengetahui begitu saja bahwa si fulan ini adalah wali Allah dan fulan yang lain bukan. Menurut para sufi, la ya’rif al-wali illa al-wali, tidak akan mengetahui seorang wali selain wali Tuhan yang lainnya. Allah “mengikat” hati orang-orang yang dekat kepada-Nya dalam satu ikatan cinta. Mereka didekatkan Allah dengan yang lainnya. Al-Quran mengatakan, “Fa allafa baina qulubikum fa ashbahtum bi ni’matihi ikhwana. Maka Allah mempersatukan hatimu, lalu jadilah kamu karena nikmat Allah orang-orang yang bersaudara” (QS. Ali Imran:103).

Ada getaran tertentu ketika seorang wali bertemu dengan wali yang lainnya. Ada aura batiniah yang mempersatukan mereka. Jadi bolehkah kita -sebagai orang awam- mengetahui siapakah dia wali Tuhan yang berjalan di muka bumi? Siapakah dia yang tangisannya di tengah malam dirindukan penghuni ‘Arasy di langit tinggi?

Sebuah kisah tasawuf lainnya mungkin boleh menjawab pertanyaan ini. Alkisah seorang murid bertanya kepada gurunya, “Guru, nun jauh di seberang sana ada orang yang boleh berjalan di atas air?” Gurunya menjawab, “Apa anehnya, dari dulu katak boleh berjalan di atas air.” Muridnya lalu bertanya lagi, “Guru, di tempat yang lain ada orang yang boleh terbang ke sana ke mari.” Guru itu menjawab, “Itu juga tidak aneh, dari dulu lalat beterbangan dari satu tempat kotor ke tempat lainnya.” Oleh kerana ingin tahu, murid itu bertanya lagi, “Tapi guru, ada juga orang yang boleh berada di berbagai tempat pada saat yang sama.” Sang guru pun menjawab, “Anakku, dari dulu setan berada di jutaan hati manusia pada saat yang sama.” Putus asa, murid itu lalu bertanya, “Lalu yang bagaimanakah yang disebut wali Tuhan?”

Dengan tenang guru itu menjawab, “Dia yang dapat memasukkan rasa bahagia pada sesama saudaranya.” Kebanyakan kita tak mengendahkan keadaan orang lain dan lebih memperhatikan diri kita. Seperti banyak sufi besar dalam sejarah, umumnya mereka diejek orang, bahkan sering dianggap gila dan dijauhi masyarakat. Tengoklah kisah, misalnya, Bahlul dan Al-Hallaj. Mereka dianggap “sesat” hanya karena masyarakat di zaman itu tidak mengerti apa yang mereka lakukan. Ini membawa kita pada hikmah kedua dari cerita Imam Ghazali: bahwa anugerah Allah yang dikhususkan kepada para kekasih-Nya adalah “rahsia” antara Dia dan kekasih-Nya.

Seperti kisah si budak di atas, selama ini ia memperoleh kelezatan spiritual dengan bermunajat kepada Allah. Ia merasakan kebahagiaan berduaan dengan kekasihnya tanpa ada tirai di antara mereka. Dalam tasawuf kita mengenal pula istilah “Bukanlah wali jika ia menceritakan karamah-nya kepada orang lain”.

Maksudnya, tidak semua orang akan mengerti apa yang sudah dialami oleh para sufi, sehingga apabila karamah itu disampaikan, orang biasa mungkin akan sukar memahaminya. Ketika Manshur Al-Hallaj hendak dipancung, ia mengangkat tangan ke langit dan berkata, “Tuhanku, maafkan aku kerana aku mengetahui apa yang mereka tidak ketahui, dan maafkan mereka kerana tidak mengetahui apa yang aku ketahui.” Sebagian sufi menilai bahwa “dieksekusinya” Manshur Al-Hallaj adalah konsekuensi dari pengungkapan rahsia yang diberikan Allah khusus kepada Al-Hallaj.

Dengan meneriakkan, “Ana al-Haqq.” Al-Hallaj dipandang telah menyebarkan rahsia itu. Nabi yang mulia pun (semoga rahmat Allah tercurah baginya dan keluarganya) berbicara kepada sahabatnya ‘ala qadri ‘uqulihim, sesuai kadar kemampuan para sahabat itu mencernanya. Kalau memang semua orang di zaman Nabi mempunyai kemampuan mencerna yang sama, maka tidak akan kita dapati pada kitab-kitab hadis tanya jawab antara Nabi dengan para sahabatnya. Kerana itu juga, hadis-hadis tasawuf mempunyai rijal sanad yang sedikit -bahkan kebanyakan di antaranya dinilai sebagai hadis dhaif oleh sebagian ulama- kerana hadis-hadis itu tidak disampaikan kepada orang kebanyakan.

Pernah suatu saat, ayah Ibn ‘Arabi mempertemukan Ibn Rusyd dengan Ibn ‘Arabi. Orang-orang menunggu di luar menanti hasil sidang istimewa itu. Ketika Ibn Rusyd keluar, mereka bertanya kepadanya, “Apa yang sudah terjadi?” Dengan singkat Ibn Rusyd berkata, “Ia (Ibn ‘Arabi) merasakan apa yang selama ini aku ketahui.” Ketika kepada Ibn ‘Arabi ditanyakan hal serupa, ia menjawab, “Ibn Rusyd mengetahui apa yang selama ini aku rasakan.” Baik Ibn ‘Arabi maupun Ibn Rusyd tidak menjelaskan lebih lanjut apa yang mereka maksud dengan jawaban mereka itu. Mungkin mereka khawatir bahwa orang-orang pada waktu itu tidak akan memahami apa yang mereka fahami.

Jika demikian, bagaimana kaitannya dengan fa amma bini’mati rabbika fahaddits, dan terhadap nikmat Tuhanmu, maka hendaklah kamu menyebutnya (QS. Al-Dhuha:11)? Jika anugerah yang diberikan Allah berupa karamah-karamah itu sebaiknya tidak kita sebarkan, bagaimana kita hendak menyebut nikmat Tuhan itu sebagaimana bunyi ayat tadi? Sebagian ahli tafsir menjelaskan bahwa yang dimaksud dengan “menyebut nikmat Tuhan” itu adalah dengan mensyukurinya, dan menurut para sufi, cara mensyukuri nikmat yang khusus itu tidaklah selalu dengan menyebarkan berita tentang karamah itu kepada banyak orang, tetapi dengan “mengajarkan” kepada orang lain sehingga orang itu boleh juga merasakan apa yang dia rasakan. Dengan erti lain, sebarkanlah nikmat kelazatan spiritual yang dianugerahkan Tuhan secara khusus itu dengan mengajarkan agar orang lain memperoleh kenikmatan yang serupa.

Hikmah yang ketiga dari cerita Imam Al-Ghazali adalah: bahwa seorang pecinta Tuhan yang sejati akan meluangkan sebagian waktunya khusus untuk kekasihnya. Sebagaimana si budak yang mengkhususkan waktu malamnya untuk Tuhan, begitu pula seharusnya kita dalam belajar mencintai Tuhan. Dalam istilah tasawuf, kita mengenalnya dengan khalwat. Dalam dunia esoterik kita mengenalinya dengan meditasi. Selain untuk lebih mendekatkan kita kepada Tuhan, berkhalwat dapat juga mengatasi kelelahan-kelelahan psikologi kita.

Dunia moden dengan segala macam ragam telah mengubah hati kita menjadi sarana pergelutan duniawi yang tak kunjung berakhir. Dengan berkhalwat kita sentiasa diingatkan akan tujuan kehidupan kita yang sesungguhnya. Terbukti, dalam berbagai ritual meditasi, orang yang sanggup menenangkan dirinya, lebih bahagia menjalani kehidupan ini. Menenangkan atau menguasai diri adalah tingkatan pertama dari wilayah takwiniyyah, Pada proses selanjutnya, setelah manusia sanggup menguasai dirinya, ia melangkah pada proses menguasai selain dirinya. Imam Ali kw, misalnya, pernah -dengan izin Tuhan- mengembalikan matahari setelah ia terbenam pada satu peperangan kerana para sahabatnya menolak untuk solat dengan alasan waktu yang sudah habis.

Kita tidak akan membicarakan wilayah takwiniyyah itu sekarang. Hikmah ketiga yang diajarkan Imam Ghazali adalah berkhalwat dengan Tuhan. Pernah, seorang Imam diberitahu oleh pembantunya bahwa ada tamu yang menunggunya di masjid. Pembantu Imam itu kehairanan melihat Imam tidak menjawab ketika dia memanggilnya. Imam bahkan melangkah dan masuk ke biliknya. Tak lama setelah itu, Imam keluar dan menemui para tamunya. Setelah para tamu itu pulang, pembantu Imam bertanya kepada Imam atas perilaku Imam yang menghairankannya. Imam menjawab, “Tadi, ketika engkau memanggilku, adalah waktu khusus aku dengan Tuhanku.” Imam itu tidak mau waktu khususnya dengan Tuhan diganggu oleh hal-hal lain.

Jika kita boleh menyediakan waktu khusus bagi orang-orang yang kita cintai, bagi keluarga dan kerabat kita, mengapa kita tidak boleh menyediakan waktu khusus buat Dia yang seharusnya dicintai semua makhluk? Seorang Imam mengajarkan cara berkhalwat itu dengan singkat : mulailah setiap kita hendak tidur dengan musyarathah (pensyaratan) terhadap apa yang akan kita lakukan esok hari, lalu sepanjang esok hari itu, kita berusaha untuk muraqabah (penjagaan), menjaga dan berusaha agar apa yang kita syaratkan malam sebelumnya itu terlaksana, dan akhirilah pada saat menjelang tidur lagi dengan muhasabah (perhitungan), dengan mengevolusi apakah yang sudah kita syaratkan itu terpenuhi atau tidak. Pada saat muhasabah itulah saat terbaik untuk berkhalwat dengan Tuhan.

* Klik Disini

Tidakkah kita dengar kerinduan Tuhan yang memanggil kita untuk berduaan dengan-Nya? Wahai orang yang berselimut, bangunlah di malam hari, walaupun sedikit, atau setengahnya, atau kurangilah dari setengahnya itu sedikit, dan bacalah Al-Quran. (QS. Al-Muzammil:1-4) Tuhan mengajak kita untuk meluangkan waktu malam kita. Jika kita tidak boleh, Tuhan meringankannya dengan hanya meminta setengah dari malam itu. Jika itu pun kita masih tidak bisa, Tuhan berkata, “… sedikit saja dari waktu malam mu itu”. Atau kalau itu pun masih sukar bagi kita, bacalah Al-Quran di malam hari.

Kebanyakan kita masih sukar untuk melakukan itu. Satu-satunya cara agar boleh memenuhi kerinduan Tuhan itu adalah dengan menaklukkan keinginan diri kita dan berserah diri pada keinginan Tuhan. Itulah tujuan dari semua hikmah dalam tasawuf. Kerana itu, untuk menjawab judul tulisan ini, siapakah dia Wali Allah? Imam Ghazali menjawabnya dengan hikmah-hikmah dari cerita budak di atas.

Pertama, dialah wali Allah yang berjalan di muka bumi dan menyebarkan kebahagiaan pada sesama manusia. Kedua, dialah wali Allah yang menyebarkan nikmat Tuhan dengan mengajak sesamanya untuk berjalan bersamanya menuju Allah. Dan terakhir, dialah wali Allah yang meluangkan sebahagian bahkan seluruh waktunya beribadat kepada Allah, pasrah dalam cinta kepada-Nya. Adakah dia wali Allah yang berjalan di muka bumi? Maha Benar Allah, yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana. Semoga bermanfaat. Wa min Allah at Tawfiq.

* Gambar Sekadar Hiasan

Terdapat 5 hal pokok yang harus dilalui bagi seorang si salik untuk meraih jalan sufi:

1). MU’AHADAH:

Mu’ahadah berarti mengingat perjanjian dengan Allah SWT. Sebelum manusia lahir ke dunia, yakni ketika masih berada di alam ghaib atau alam arwah, Allah telah membuat “Kontrak Perjanjian Primordial” tauhid dengan para ruh. Allah SWT berfirman: “Dan (ingatlah), ketika Tuhanmu mengeluarkan keturunan anak-anak Adam dari sulbi mereka dan Allah mengambil kesaksian terhadap jiwa mereka (seraya berfirman): “Bukankah aku ini Tuhanmu?” mereka menjawab: “Betul (Engkau Tuban kami), Kami menjadi saksi”. (kami lakukan yang demikian itu) agar di hari kiamat kamu tidak mengatakan: “Sesungguhnya Kami (Bani Adam) adalah orang-orang yang lengah terhadap ini (keesaan Tuhan).” (QSAl-Araf [7]: 172).

Kontrak tauhid ini terjadi ketika manusia masih dalam keadaan ruh, sebelum berupa material (badan jasmani). Maka wajar manusia tidak pernah merasa membuat kontrak tauhid tersebut. Kerana itu, mu’ahadah konkritnya diikrarkan oleh manusia mukmin kepada Allah setelah kelahirannya ke dunia, berupa ikrar janji kepada Allah.  Wujudnya bisa berupa 17 kali rakaat shalat dalam sehari dan semalam. Maka, kita menyatakan “Iyyaka na’budu wa iyyaka nasta’in” Artinya, ”Hanya kepadamulah kami menyembah dan hanya kepada-Mulah kami meminta pertolongan. (QS Al-Fatihah)”.

Janji ini mengandung ketinggian dan kemantapan aqidah. Mengakui tidak ada lain yang berhak disembah dan dimintai pertolongan, kecuali hanya Allah semata. Tidak ada satu pun bentuk ibadah dan isti’anah (permintaan pertolongan) yang boleh dialamatkan kepada selain Allah SWT. Dalam bentuk lain, mu’ahadah juga bisa diwujudkan dalam ikrar manusia ketika mengucapkan kalimat “Sesungguhnya shalatku, ibadahku, hidup dan matiku hanya kuperuntukkan (ku-abdikan) bagi Allah SWT, Tuhan semesta alam.”

2). MUJAHADAH:

Mujahadah bererti bersungguh hati melaksanakan ibadah dan teguh beramal shaleh, sesuai dengan apa yang telah diperintahkan Allah SWT. Kerana inilah tujuan kita diciptakan, yakni untuk menyembah kepada-Nya. Dengan beribadah, manusia menjadikan dirinya ‘abd (hamba) yang dituntut berbakti dan mengabdi kepada ma’bud (Allah Maha Menjadikan).

* Klik Disini

Mujahadah adalah sarana menunjukkan ketaatan seorang hamba kepada Allah, sebagai wujud keimanan dan ketakwaan kepada-Nya. Orang-orang yang selalu bermujahadah merealisasikan keimanannya dengan beribadah dan beramal shaleh dijanjikan akan mendapatkan petunjuk jalan kebenaran untuk menuju (ridha) Allah SWT hidayah dan rusyda yang dijanjikan Allah diberikan kepada yang terus bermujahadah dengan istiqamah.

Kecerdasan dan kearifan akan memandu dengan selalu ingat kepada Allah SWT, tidak terpukau oleh bujuk rayu hawa nafsu dan syaitan yang terus menggoda. Situasi batin dari orang-orang yang terus musyahadah (menyaksikan) keagungan Ilahi amat tenang. Sehingga tak ada kewajiban yang diperintah dilalaikan dan tidak ada larangan Allah yang dilanggar. Jiwa yang memiliki rusyda terus hadir dengan khusyuk. Inilah sebenarnya yang disebut mujahidin ‘ala nafsini wa jawarihihi, yaitu orang yang selalu bersungguh dengan nuraninya dan gerakannya.

Syeikh Abu Ali Ad-Daqqaq mengatakan: “Barangsiapa menghias lahiriahnya dengan mujahadah, Allah akan memperindah rahsia batinnya melalui musyahadah”. Imam Al Qusyairi an Naisaburi mengatakan: ”Jiwa mempunyai dua sifat yang menghalanginya dalam mencari kebaikan; Pertama larut dalam mengikuti hawa nafsu, Kedua ingkar terhadap ketaatan.  Ketika jiwa ditunggangi nafsu, wajib dikendalikan dengan kendali takwa. Ketika jiwa bersikeras ingkar kepada kehendak Tuhan, wajib dilunakkan dengan menolak keinginan hawa nafsunya. Ketika jiwa bangkit memberontak, wajib ditaklukkan dengan musyahadah dan istighfar. Sesungguhnya bertahan dalam lapar (puasa) dan bangun malam di perempat malam (tahajjud), adalah sesuatu yang mudah. Sedangkan membina akhlak dan membersihkan jiwa dari sesuatu yang mengotorinya sangatlah sulit. ”

Mujahadah adalah suatu keniscayaan yang mesti diperbuat oleh siapa saja yang ingin kebersihan jiwa serta kematangan iman dan takwa. Allah SWT berfirman, “Dan sesunggunya Kami telah menciptakan manusia dan mengetahui apa yang dibisikkan oleh hatinya dan Kami lebih dekat kepadanya dari pada urat lehernya, (yaitu) ketika dua orang malaikat mencatat amal perbuatannya, seorang duduk di sebelah kanan dan yang lain duduk di sebelah kiri. Tiada satu ucapan pun yang diucapkannya melainkan ada di dekatnya Malaikat pengawas yang selalu hadir”. (Q.S. Qaaf: 16-18).

3). MURAQABAH:

Muraqabah berarti merasa selalu diawasi oleh Allah SWT sehingga dengan kesadaran ini mendorong manusia senantiasa rajin melaksanakan perintah dan menjauhi larangan-Nya. Sesungguhnya manusia hakikinya selalu berhasrat dan ingin kepada kebaikan dan menjunjung nilai kejujuran dan keadilan, meskipun tidak ada orang yang melihatnya. Kehati-hatian (mawas diri) adalah kesadaran. Kesadaran ini makin terpelihara dalam diri seseorang hamba jika meyakini bahwa Allah SWT selalu melihat dirinya. Syeikh Ahmad bin Muhammad Ibnu Al Husain Al Jurairy mengatakan, “Jalan kesuksesan itu dibangun di atas dua bagian. Pertama, hendaknya engkau memaksa jiwamu muraqabah (merasa diawasi) oleh Allah SWT.

Kedua, hendaknya ilmu yang engkau miliki tampak di dalam perilaku lahiriahmu sehari-hari.” Syeikh Abu Utsman Al Maghriby mengatakan, “Abu Hafs mengatakan kepadaku, ‘ketika engkau duduk mengajar orang banyak jadilah seorang penasihat kepada hati dan jiwamu sendiri dan jangan biarkan dirimu tertipu oleh ramainya orang berkumpul di sekelilingmu, sebab mungkin mereka hanya melihat wujud lahiriahmu, sedangkan Allah SWT memperhatikan wujud batinmu.”

Dalam setiap keadaan seorang hamba tidak akan pernah terlepas dari ujian yang harus disikapinya dengan kesabaran, serta nikmat yang harus disyukuri. Muraqabah adalah sikap tidak berlepas diri dari kewajiban yang difardhukan Allah SWT yang mesti dilaksanakan, dan larangan yang wajib dihindari. Muraqabah dapat membentuk mental dan kepribadian seseorang sehingga ia menjadi manusia yang jujur. Maka, berlaku jujurlah engkau dalam perkara sekecil apa pun dan di manapun engkau berada. Kejujuran dan keikhlasan adalah dua hal yang harus engkau wujudkan dalam hidupmu. Ia akan bermanfaat bagi dirimu sendiri. Ikatlah ucapanmu, baik yang lahir maupun yang batin, karena malaikat senantiasa mengontrolmu. Allah SWT Maha Mengetahui segala hal di dalam batin.

4). MUHASABAH:

Muhasabah berarti introspeksi diri, menghitung diri dengan amal yang telah dilakukan. Manusia yang beruntung adalah manusia yang tahu diri, dan selalu mempersiapkan diri untuk kehidupan kelak yang abadi di yaumul akhir. Dengan melaksanakan muhasabah, seorang hamba akan selalu menggunakan waktu dan jatah hidupnya dengan sebaik-baiknya,dengan penuh perhitungan baik amal ibadah mahdhah maupun amal sholeh berkaitan kehidupan bermasyarakat. Allah SWT memerintahkan hamba untuk selalu mengintrospeksi dirinya dengan meningkatkan ketaqwaannya kepada Allah SWT.

Muhasabah dapat dilaksanakan dengan cara meningkatkan ubudiyah serta mempergunakan waktu dengan sebaik-baiknya. Berbicara tentang waktu, seorang ulama yang bernama Malik bin Nabi berkata, “Tidak terbit fajar suatu hari, kecuali ia berseru, “Wahai anak cucu Adam, aku ciptaan baru yang menjadi saksi usahamu. Gunakan aku karena aku tidak akan kembali lagi sampai hari kiamat”. Waktu adalah modal utama manusia. Apabila tidak dipergunakan dengan baik, waktu akan terus berlalu. Banyak sekali hadits Nabi SAW yang memperingatkan manusia agar mempergunakan waktu dan mengaturnya sebaik mungkin.“Dua nikmat yang sering disia-siakan banyak orang: Kesehatan dan kesempatan (waktu luang).” (H.R. Bukhari melalui Ibnu Abbas r.a).

5. MU’AQABAH: Muaqabah berarti pemberian sanksi terhadap diri sendiri. Apabila melakukan kesalahan atau sesuatu yang bersifat dosa maka ia segera menghapus dengan amal yang lebih utama meskipun terasa berat, seperti berinfaq dan sebagainya. Kesalahan maupun dosa adalah kesesatan. Karena itu, agar manusia tidak tersesat hendaklah manusia bertaubat kepada Allah, mengerjakan kebajikan sesuai dengan norma yang ditentukan untuk menuju ridha dan ampunan Allah. Berkubang dan hanyut dalam kesalahan adalah perbuatan yang melampaui batas dan wajib ditinggalkan. Orang baik adalah orang yang manakala berbuat salah, bersegera mengakui dirinya salah, kemudian bertobat, dalam arti kembali ke jalan Allah dan berniat dan berupaya kuat untuk tidak akan pernah mengulanginya

Al-Junaid al-Baghdadi beribadah 400 rakaat solat sehari.

Abd al-Wahhab ash-Sharani khatam Quran 2 kali sehari

Sayid Abdul Qadir Jailani setiap kali berwuduk dia akan solat 2 rakaat dan wuduknya tidak pernah putus dari isyak ke subuh. Dan solat malam 1000 rakaat.

Syeikh Nuruddin Asy-Syaukani mengamalkan bacaan salawat 10,000 sehari

Syeikh Ahmad Az-Zawawi mengamalkan salawat sebanyak 40,000 kali sehari

Imam Ahmad sembahyang malamnya 500 rakaat.. sembahyang dhuhanya 300 rakaat.. sehari semalam 800 rakaat..

Imam Ali Zainal Abidin dikenali Assajjad sujud setiap malamnya sebanyak 1000X sujud, terkenal dengan solat malam sebanyak 500 rakaat. Oleh sebab itu dikenal dengan Assajjad (orang yang banyak bersujud).

Anda Akan Takjub,

Imam Ahmad solat malam 500 rakaat, solat dhuha 300 rakaat.

Imam Syafie solat 120 000 rakaat

Rabiatul Adawiyah solat tahajud 300 rakaat.

* Klik Disini

Sayyidah Nafisah baca quran satu malam 15 juz, 2 malam khatam 240x khatam.

Syeikh Habib Hasan bin Soleh al-Bahar satu hari baca 90 000x surah al-ikhlas.

* Gambar Sekadar Hiasan

Shalawat Munjiyat

اَللّٰهُمَّ صَلِّ عَلٰى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ صَلاَةٌ تُنْجِيْنَا بِهَا مِنْ جَمِيْعِ الْاَهْوَالِ وَالْاٰفَاتِ وَتَقْضِيْ لَنَابِهَاجَمِيعَ الْحَاجَاتِ وَتُطَهِّرُنَابِهَا مِنْ جَمِيْعِ السَيِّئَاتِ وَتَرْفَعُنَابِهَا عِنْدَكَ اَعْلَى الدَّرَجَاتِ وَتُبَلِّغُنَابِهَا اَقْصَى الْغَايَاتِ مِنْ جَمِيْعِ الْخَيْرَاتِ فِى الْحَيَاةِ وَبَعْدَ الْمَمَاتِ

Allahumma sholli ‘alaa sayyidinaa Muhammadin sholaatan tunjiinaa bihaa min jamii’il-ahwaali wal-aafaati wa taqdhii lanaa bihaa jamii’al-haajaati wa tuthahirunaa bihaa min jamii’is-sayyi’aati wa tarfa’unaa bihaa ‘indaka a’lad-darajaati wa tuballigunaa bihaa aqshal-gaayaati min jamii’il-khairaati fil-hayaati wa ba’dal-mamaati.

* Klik Disini

 Ya Allah, limpahkanlah rahmat kepada junjungan kami Nabi Muhammad Saw yang melaluinya Engkau akan menyelamatkan kami dari semua keadaan yang menakutkan dan membahayakan, dengan rahmat itu Engkau akan mendatangkan semua hajat kami dan membersihkan semua keburukan kami, mengangkat kami pada derajat tertinggi , menyampaikan kami pada puncak tujuan, dari semua kebaikan di waktu hidup dan sesudah mati.

* Gambar Sekadar Hiasan

Adalah lumrah bagi manusia untuk berasa ‘down’ atau kecewa terhadap apa jua yang ditakdirkan kepada diri mereka. Namun percayalah itu semua merupakan ujian Allah yang mahu menguji hambaNya agar kembali mengadu dan pasrah kepadaNya. Yang penting, sabar dan mintalah pertolongan Allah kerana Dialah sahaja Yang Maha Berkuasa atas segala sesuatu.

Dari Salman Al-Farisi r.a meriwayatkan bahawa baginda Rasulullah SAW bersabda:

“Sesungguhnya Allah mempunyai sifat malu, dan memberi kepada orang yang tidak meminta dengan pemberian yang banyak. Apabila seseorang mengangkat tangannya dihadapan Allah, memohon sesuatu, maka Allah amat malu untuk memulangkan kedua tangan tersebut dengan tangan kosong”.  (Hadis Riwayat Tirmizi)

Oleh itu, marilah kita mengamalkan doa penenang hati ini untuk meredakan perasaan sedih, marah, gelisah, stres, dan mengusir semua perkara negatif dari fikiran kita.

* Klik Disini

Mudah-mudahan kita sentiasa berada di bawah lindungan dan rahmat Allah.

* Gambar Sekadar Hiasan

FARDHU AIN bermaksud (fardhu) wajib dan (ain) individu. Bermakna ilmu fardhu ain hukumnya WAJIB dipelajari oleh setiap manusia, hukum tidak mempelajarinya adalah DOSA BESAR kata ulama. Apakah ilmu FARDHU AIN?  Ilmu fardhu ain terpecah kepada tiga bahagian iaitu:

1. Ilmu Akidah/ Ilmu tauhid/ Ilmu Usuluddin.

2. Ilmu Feqah

3. Tasawwuf

Maksud AQIDAH adalah pegangan, keyakinan ataupun iktikad seorang islam yang mengaku beriman dan mukallaf. Adapun pegangan umat Islam adalah pegangan Ahlus Sunnah Wal Jamaah (ASWJ) yang berlandaskan 2 ulama iaitu Imam Abu Hassan ‘Ali Asy’ari dan Imam Abu Mansur Al-Maturidi.

Ilmu AQIDAH membahaskan tentang sifat-sifat Allah dan sifat-sifat Nabi dan ia membicarakan tentang pegangan umbi/asas/kepercayaan umat Islam.

Ilmu FEKAH pula terbahagi kepada 4 iaitu:

1. Ibadah (solat, haji, zakat dll)

2. Muamalat (ekonomi, jual beli, riba)

3. Jinayah (Hudud, qisas, ta’zir)

4. Munakahat (rumahtangga, perkahwinan)

Ilmu TASAWWUF terbahagi kepada 4 iaitu:

1. Kewajipan hati (Redha,ikhlas)

2. Maksiat anggota badan (tangan, kaki, mata, mulut)

3. Taubat/ Rukun taubat

4. Maksiat Hati (riya’, ujub, takkabur)

* Klik Disini

Maka kesemua ilmu diatas ini adalah ilmu yang PALING WAJIB dipelajari oleh setiap individu Islam. Ketiga-tiga ilmu AQIDAH, FEKAH dan TASAWWUF adalah wajib belajar namun paling wajib adalah ilmu AQIDAH. Mengapa? “Kami bersama Nabi Muhammad s.a.w. Ketika kami kecil, kami mempelajari al-iman (Aqidah) dahulu sebelum kami mempelajari Al-Quran, kemudian selepas kami mempelajari Al-Quran, maka bertambah-tambah iman kami” Diriwayatkan oleh Ibnu Majah. Ini dalil bahawa dalam Ilmu Fardhu ain, ilmu Aqidah adalah paling utama dan paling wajib di dalam wajib.

* Gambar Sekadar Hiasan

Sebenarnya ada cara hilangkan rasa gemuruh ini. Apa yang anda boleh lakukan adalah:

1. BANYAKKAN PRAKTIS PERKARA YANG BUAT ANDA GEMURUH

Jika anda cepat gemuruh apabila bercakap di hadapan orang ramai atau public speaking, anda boleh atasinya dengan menghadirkan diri dalam mesyuarat atau diskusi awam.

Sesekali suarakan pandangan anda pada isu berbangkit. Jadi anda akan lebih konfiden untuk bercakap kepada orang awam.

2. BERSEDIA

Jika anda bakal menghadapi temu duga kerja, pastikan anda sudah mencari maklumat mengenai syarikat tersebut, jawatan dan juga soalan-soalan yang akan ditanya sewaktu dalam temu duga nanti.

Apabila anda bersedia dengan maklumat yang ada, dengan sendirinya anda yakin pada diri sendiri secara tak langsung dapat mengurangkan rasa gemuruh.

* Klik Disini

3. FIKIR POSITIF

Yakin dengan diri yang anda mampu melakukan yang terbaik.

Tenangkan diri dengan bersifat positif yang semuanya akan anda lakukan dengan jayanya.

Apabila anda sudah set dengan fikiran positif, maka hasilnya pasti juga positif.

4. TENANGKAN DIRI

Relakskan diri daripada memikirkan pelbagai perkara. Duduk dan regangkan diri agar badan lebih ‘longgar’.

Seeloknya, bawa diri berjalan agar minda lebih tenang. Tutupkan mata dan fokus pada matlamat anda.

5. FOKUS PADA PERNAFASAN

Tarik nafas perlahan-lahan dan lepaskan.

Lakukan berulang kali sehingga rasa diri relaks. Ia dapat mengurangkan perasaan gemuruh.

6. PAKAI PAKAIAN YANG MEMBUATKAN ANDA ‘BERNAFAS’

Perasaan gemuruh boleh meningkatkan pengeluaran peluh.

Elak memakai pakaian yang ketat atau tidak selesa kerana ia boleh menambah lagi rasa gemuruh.

Pakai pakaian yang longgar dan mudah menyerap peluh.

7. KURANGKAN PERGERAKAN

Kurangkan pergerakan kerana ia boleh menyebabkan orang sekeliling merasai perasaan gemuruh yang anda hadapi.

Untuk tampil yakin, pegang pen di tangan kerana ia dapat mengatasi rasa gemuruh. Pastikan anda juga berdiri lurus.

8. BERI SEMANGAT PADA DIRI SENDIRI

Dengan ini, diri akan lebih bersemangat, yakin pada diri sendiri dan kurang rasa gemuruh.

Cakap “You can do it!” pada diri anda di cermin.

9. ELAK KAFEIN

Seeloknya, elak minum kopi, teh dan energy drink yang mengandungi kafein sehari sebelum event yang membuat anda gemuruh.

Sebaliknya, cuba amalkan teh herba yang boleh membantu memberi ketenangan.

10. TIDUR SECUKUPNYA

Pastikan anda mendapatkan tidur yang cukup. Kurang tidur boleh menambah rasa lesu, tidak bermaya dan mudah panik.

Apabila panik, perasaan gemuruh juga meningkat.

YAKIN PADA DIRI SENDIRI

Walaupun anda dah mengamalkan semua cara hilangkan gemuruh di atas, perlu ada keyakinan pada diri sendiri.

Bila hilang keyakinan, maka dengan mudah, perasaan panik dan gugur secara automatiknya akan hadir pada diri.

* Gambar Sekadar Hiasan

Mengapa ramai yang berilmu tetapi tidak beradap. Menjadi ahli ibadah di masjid & surau tetapi kurang sabar di jalanan atau seumpamanya. Mengapa???

Kerana talbis iblis (perangkap/tipudaya) sangat halus sehinggakan mereka yang bijak pandai pun terkulai dan termakan pujuk rayunya. Syaitan mencari kelemahan untuk menjatuhkan kita dengan apa cara sekalipun. Seperti mana kita beristiqamah mereka juga istiqamah merancang dan mencari strategi yang terbaik untuk menjatuhkan kita.

Dalam surah Al-A’raf ayat 16-17 yang bermaksud:

Iblis menjawab, ‘Karena Engkau telah menghukumku tersesat, maka saya benar-benar akan (menghalang-halangi) mereka dari jalan-Mu yang lurus, kemudian saya akan mendatangi mereka dari muka dan dari belakang mereka, dari kanan dan dari kiri mereka. Dan Engkau tidak akan mendapati kebanyakan mereka bersyukur.

* Klik Disini

Itulah tekad mereka mahukan manusia tersesat dan terpesong dari landasan yang sebenar. Ada di kalangan manusia yang sabar dalam beribadah seperti contoh berpuasa, melakukan solat sunat, berjemaah di masjid tetapi kurangnya sabar dalam berkata-kata seperti contoh bercakap hal yang sia-sia, suka menceritakan perkara yang tidak baik mengenai orang lain, menjadi pemarah bila di jalan raya dan seumpamanya. Mengapa hal itu berlaku?

Syaitan juga menggalakkan pertengkaran. Selalunya manusia tidak sedar itu adalah bisikan dan cucukan daripada syaitan yang akan sentiasa menambah perisa bagi menghangatkan lagi suasana yang panas.

Firman Allah SWT dalam surah Isra’ ayat 53 yang bermaksud:

Dan katakanlah kepada hamba-hamba-Ku: “Hendaklah mereka mengucapkan perkataan yang lebih baik (benar). Sesungguhnya syaitan itu menimbulkan perselisihan di antara mereka. Sesungguhnya syaitan itu adalah musuh yang nyata bagi manusia.

Rasulullah SAW banyak kali mengingatkan umat Baginda mengenai kejinya nafsu marah yang tidak terkawal kerana ia antara pintu digunakan syaitan dan iblis dalam menguasai manusia.

Rasulullah SAW bersabda: Sesungguhnya syaitan menyusup dalam diri manusia melalui aliran darah. (HR Bukhari)

Saat manusia marah, syaitan terus memasuki salur darah manusia menyebabkan berlaku hilang pertimbangan akal fikiran, manakala wajah mulai merah dengan degupan jantung berlari kencang.

Oleh itu jadilah manusia yang sentiasa ikhlas dalam apa jua kedaan sekalipun kerana ikhlas merupakan senjata yang ampuh untuk mempertahankan iman dan pendinding.

“Maka demi kemuliaanMu maka aku akan sesatkan semua anak Adam kecuali hamba-hambaMu yang ikhlas”.

Surah Saad: ayat 82-83

* Gambar Sekadar Hiasan

ﻗﺎﻟﻮﺍ : ﻣﻘﺎﻣﻚ ﺣﻴﺚ ﺃﻗﺎﻣﻚ

Para Ulama’ berkata : “Kedudukanmu disisi Allah sesuai dengan apa kamu disibukkan..

ﺇﺫﺍ ﺃﺭﺩﺕ ﺃﻥ ﺗﻌﺮﻑ ﻗﺪﺭﻙ ﻋﻨﺪ ﺍﻟﻠﻪ ، ﻓﺎﻧﻈﺮ ﺃﻳﻦ ﺃﻗﺎﻣﻚ ؟

Jika engkau ingin tahu kedudukanmu disisi Allah SWT, maka lihatlah yang manakah sekarang ini kesibukanmu..

ﻓﺈﺫﺍ ﺷﻐﻠﺖ ﺑﺎﻟﺬﻛﺮ ﻓﺎﻋﻠﻢ ﺃﻧﻪ ﻳﺮﻳﺪ ﺃﻥ ﻳﺬﻛﺮﻙ

1.Jika engkau disibukkan oleh dzikir, maka ketahuilah bahwasannya Allah ingin untuk mengingatmu..

ﺇﺫﺍ ﺷﻐﻠﺖ ﺑﺎﻟﻘﺮﺁﻥ ، ﻓﺎﻋﻠﻢ ﺃﻧﻪ ﻳﺮﻳﺪ ﺃﻥ ﻳﺤﺪﺛﻚ

* Klik Disini

2. Jika engkau disibukkan dengan Al-Qur’an, maka ketahuilah bahwasannya Allah ingin berbicara denganmu..

ﺇﺫﺍ ﺷﻐﻠﺖ ﺑﺎﻟﻄﺎﻋﺎﺕ ، ﻓﺎﻋﻠﻢ ﺃﻧﻪ ﻗﺮﺑﻚ

3.Jika engkau disibukkan dengan ketaatan-ketaatan*, maka ketahuilah bahwasannya Allah ingin mendekatkanmu kepadaNya

ﻭﺇﺫﺍ ﺍﺣﻀﺮﻙ ﻓﻲ ﻣﺠﺎﻟﺲ ﺻﻠﺤﺎﺋﻪ ﻭﺃﻭﻟﻴﺎﺀﻩ ﻓﺎﻋﻠﻢ ﺃﻧﻪ ﻳﺮﻳﺪ ﺃﻥ ﻳﻠﺤﻘﻚ ﺑﻬﻢ ﻓﻲ ﺣﻀﺮﺗﻪ

4. Jika Allah SWT menghadirkanmu di Majelis Orang Sholeh dan Para Auliya’nya maka ketahuilah bahwa melalui kebersamaan itu, Allah ingin memasukkanmu kedalam HadiratNya…

ﺇﺫﺍ ﺷﻐﻠﺖ ﺑﺎﻟﺪﻋﺎﺀ ، ﻓﺎﻋﻠﻢ ﺃﻧﻪ ﻳﺮﻳﺪ ﺃﻥ ﻳﻌﻄﻴﻚ

5. Jika engkau disibukkan dengan do’a, maka ketahuilah bahwasannya Allah ingin memberikan sesuatu kepadamu..

ﺇﺫﺍ ﺷﻐﻠﺖ ﺑﺎﻟﺪﻧﻴﺎ ، ﻓﺎﻋﻠﻢ ﺃﻧﻪ ﺃﺑﻌﺪﻙ

6. Jika engkau disibukkan dengan dunia, maka ketahuilah bahwasannya Allah ingin menjauh darimu..

ﺇﺫﺍ ﺷﻐﻠﺖ ﺑﺎﻟﻨﺎﺱ ، ﻓﺎﻋﻠﻢ ﺃﻧﻪ ﺃﻫﺎﻧﻚ

7.Jika engkau disibukkan dengan manusia, maka ketahuilah bahwasannya Allah hendak menghinakanmu..

ﺍﻟﻠﻬﻢ ﺍﻋﻨﺎ ﻋﻠﻰ ﺫﻛﺮﻙ ﻭﺷﻜﺮﻙ ﻭﺣﺴﻦ ﻋﺒﺎﺩﺗﻚ

Yaa Allah…

Bantulah kami agar selalu mengingat-MU, mensyukuri-MU dan agar mampu beribadah kepada-MU dengan sebaik-baiknya..

* Gambar Sekadar Hiasan

Sesiapa sahaja yang sering duduk bersama 8 orang kelompok manusia, Allah akan memberinya 8 perkara:

1.من جلس مع اﻷغنياء زاده الله حب الدنيا والرغبة فيها.

1. Barangsiapa yang duduk bersama orang-orang kaya, Allah akan menambahkan cinta kepada dunia & semangat untuk mendapatkan dunia.

2. ومن جلس مع الفقراء زاده الله الشكر والرضا بقسمة الله تعالى

2. Barangsiapa yang duduk bersama orang-orang miskin, Allah akan menambahkan perasaan syukur & redha atas pemberian Allah.

3. ومن جلس مع السلطان زاده الله الكبر وقساوة القلب

3. Barangsiapa yang duduk dengan para pemimpin/raja, Allah akan menambahkan perasaan sombong & kerasnya hati.

* Klik Disini

4. ومن جلس مع النساء زاده الله الجهل والشهوه

4. Barangsiapa yang duduk dengan perempuan, Allah akan menambahkan kebodohan & syahwat.

5. ومن جلس مع الصبيان زاده الله اللهو والمزاح

5. Barangsiapa yang duduk dengan anak-anak kecil, Allah akan menambahkan lalai & gurau senda.

6.ومن جلس مع الفساق زاده الله الجرأة على الذنوب والمعاصي واﻹقدام عليها،والتسويف في التوبة

6. Barangsiapa yang duduk dengan orang-orang fasik, Allah akan menambahkan berani berbuat dosa & kemaksiatan serta mendorongkan diri untuk berbuat maksiat kemudian menunda-nunda akan taubat.

7.ومن جلس مع الصالحين زاده الله الرغبة في الطاعات

7. Barangsiapa yang duduk dengan orang-orang soleh, Allah akan menambahkan perasaan cinta kepada amalan-amalan ketaatan.

8. ومن جلس مع العلماء زاده العلم والورع

8. Barangsiapa yang duduk dengan para ulama’, Allah akan menambahkan ilmu & perasaan tidak cintakan dunia.

(Kitab Tanbihul Ghofilin)