maahad al-Tahzib wa al-Ta'alim

Dahulu di masa lalu seorang penyair hebat dan sangat terkenal iaitu Syaikh Farazdaq dimana beliau selalu asyik memuji Rasulullah Shalallahu alaihi wassalaam

 beliau mempunyai kebiasaan melakukan ibadah haji setiap tahunnya.

Suatu waktu ketika beliau melakukan ibadah haji kemudian datang berziarah ke makam Rasulullah dan membaca qasidah di makam baginda rasulullah dan ketika itu ada seseorang yang mendengarkan qasidah pujian yang dilantunkannya.

Setelah selesai membaca qasidah, orang itu menemui Syaikh Farazdaq dan mengajak beliau untuk makan siang ke rumahnya.

Beliau pun menerima ajakan orang tersebut dan setelah berjalan jauh hingga keluar dari Madinah al-Munawwarah sampailah keduanya di rumah yang dituju.

Sesampainya di dalam rumah, orang tersebut memegangi Syaikh Farazdaq dan berkata : “Sungguh aku sangat membenci orang-orang yang memuji-muji Muhammad Shalallahu alaihi wassalaam dan kubawa engkau ke sini untuk ku gunting lidahmu!.”

Maka orang itu menarik lidah beliau lalu mengguntingnya dan berkata :

“Ambillah potongan lidahmu ini dan pergilah untuk kembali memuji Muhammad Shalallahu alaihi wassalaam

Maka Syaikh Farazdaq pun menangis karena rasa sakit dan juga sedih tidak boleh lagi membaca syair untuk Sayyidina Muhammad Shalallahu alaihi wassalaam

Kemudian beliau datang ke makam Rasulullah Shalallahu alaihi wassalaam seraya berdoa :

“Ya Allah  jika penghuni makam ini tidak suka atas pujian-pujian yang aku lantunkan untuknya, maka biarkan aku tidak lagi boleh berkata-kata seumur hidupku, karena aku tidak memerlukan lidah ini kecuali hanya untuk memujiMu dan memuji NabiMu. Namun jika Engkau dan NabiMu ridho, maka kembalikanlah lidahku ini ke mulutku seperti semula.”

Beliau terus menangis hingga tertidur dan bermimpi berjumpa dengan Rasulullah Shalallahu alaihi wassalaam  yang berkata :

“Aku suka mendengar pujian-pujianmu, berikanlah potongan lidahmu.”

Lalu Rasulullah mengambil potongan lidah itu dan mengembalikannya pada tempatnya semula.

Ketika Syaikh Farazdaq terbangun dari tidurnya beliau mendapati lidahnya telah kembali seperti sediakala,

 maka beliaupun bertambah dahsyat memuji Rasulullah Shalallahu alaihi wassalaam

Hingga di tahun selanjutnya beliau datang lagi menziarahi Rasulullah  dan kembali membaca pujian-pujian untuk Rasulullah

Dan di saat itu datanglah seorang yang masih muda dan gagah serta berwajah cerah menemui beliau dan mengajak beliau untuk makan siang di rumahnya

Beliau teringat kejadian tahun yang lalu namun beliau tetap menerima ajakan tersebut sehingga beliau dibawa ke rumah anak muda itu

Sesampainya di rumah anak muda itu, beliau dapati rumah itu adalah rumah yang dulu pernah beliau datangi lalu lidah beliau dipotong

Anak muda itu pun meminta beliau untuk masuk yang akhirnya beliau pun masuk ke dalam rumah itu hingga mendapati sebuah kurungan besar terbuat dari besi dan di dalamnya ada seekor kera yang sangat besar dan kelihatan sangat ganas, maka anak muda itu berkata :

“Engkau lihat kera besar yang ada di dalam kandang itu, dia adalah ayahku yang dahulu telah menggunting lidahmu, maka keesokan harinya Allah mengubahnya menjadi seekor kera.”

Dan hal yang seperti ini telah terjadi pada ummat terdahulu, sebagaimana firman Allah:

“Maka setelah mereka bersikap sombong terhadap segala apa yang dilarang, Kami katakan kepada mereka: “Jadilah kalian kera yang hina.” (QS. al-A’raf ayat 166)

Kemudian anak muda itu berkata : “Jika ayahku tidak boleh sembuh, maka lebih baik Allah matikan saja.”

Maka Syaikh Farazdaq berdoa : “Ya Allah  aku telah memaafkan orang itu dan tidak ada lagi dendam dan rasa benci kepadanya.”

Dan seketika itu pun Allah mematikan kera itu dan mengembalikannya pada wujud yang semula

Dari kejadian ini jelaslah bahwa sungguh Allah  mencintai orang-orang yang suka memuji Nabi Muhammad Shalallahu alaihi wassalaam

Karena pujian kepada Nabi Muhammad  disebabkan oleh cinta

* Klik Disini

.

Sampaikanlah kebaikan walaupun sebiji sawi 😊

Sholluna alannabi Muhammad ❤

* Gambar Sekadar Hiasan

Sebahagian orang salah faham bab nafkah isteri kerana dia sangka MESTI beri duit jumlah sekian sekian setiap bulan. Sedangkan perkara sebenarnya bukan begitu.

Dalam kitab Minhaju Tolibin Imam Nawawi menjelaskan secara umumnya nafkah terbahagi kepada 4 perkara :

1- Makanan

– berbeza kuantti makanan yang wajib diberi antara suami kaya dan miskin. Wajib beri lauk selain makanan asasi. Jika sudah menjadi kebiasaan suami makan bersama isteri maka dengan makan bersama itu sudah dikira suami memberi nafkah bab makan.

2- Pakaian

– pakaian yang menutupi aurat dari kepala sehingga ke kaki. Dan pakaian bersesuaian antara musim panas dengan musim sejuk.

3- Tempat Tinggal

– tempat tinggal yang sesuai dengan isteri, tidak mesti kena membeli rumah sewa pun tak apa.

4- Khadam atau pembantu

– jika isteri dari golongan yang biasa ada khadam atau orang gaji suami mesti menyediakan perkara tersebut.

Antara yang wajib juga ialah alat membersihkan diri, tempat duduk seperti hamparan, tilam dan selimut.

Antara yang tidak wajib ialah alat solek dan alat perhiasan, kos perubatan dan perkara yang menjadi tanggungjawab isteri untuk ditunaikan kepada suami.

* Klik Disini

Kesimpulannya tidak mesti kena beri duit tapi wajib disediakan keperluan seperti makanan dan tempat tinggal. Yang kedua ialah banyak penilaian terhadap keperluan isteri dan jenis2 barangan itu bergantung kepada adat dan perubahan masa mengikut kata Syeikh Dr Mustafa Dib Al Bugha.

Dan ketiganya asas kepada semua nafkah isteri ialah mencapai matlamat “bergaullah dengan mereka (para isteri) dengan cara yang baik” seperti yang disebut dalam Al Quran.

* Gambar Sekadar Hiasan

– الحَمْدُ للهِ الَّذِيْ أَطْعَمَنِيْ هَذَا الطَّعَامَ وَرَزَقَنِيْهِ مِنْ غَيْرِ حَوْلٍ مِنِّيْ وَلَا قُوَّةٍ

– اللَّهُمَّ كَمَا أَطْعَمْتَنِيْ طَيِّبًا فَاسْتَعْمِلْنِيْ صَالِحًا

– الحَمْدُ للهِ الَّذِيْ أَطْعَمَ وَسَقَى وَسَوَّغَهُ وَجَعَلَ لَهُ مَخْرَجًا

– الحَمْدُ للهِ الَّذِيْ أَطْعَمَنِيْ وَأَشْبَعَنِيْ وَأَرْوَانِيْ

Terjemahan doa di atas

– Segala puji bagi Allah yang telah memberikan daku makanan ini, yang telah memberikan daku rezeki yang datangnya bukan dari daya upaya dari ku, juga kekuatan dari ku

* Klik Disini

– Ya Allah ya tuhanku, sebagaimana dikau telah memberikan daku makan dengan makanan yang baik, dikau perlakukanlah daku sebagai orang baik dan soleh

* Gambar Sekadar Hiasan

Wahabi: “Mengapa anda mengerjakan Maulid. Padahal itu bid’ah.”

Sunni: “Maulid itu perbuatan baik, dan setiap kebaikan diperintah oleh agama untuk

dikerjakan.”

Wahabi: “Mana dalilnya?.”

Sunni: “Allah SWT berfirman dalam al-Qur’an:

ﻭَﺍﻓْﻌَﻠُﻮﺍ ﺍﻟْﺨَﻴْﺮَ ﻟَﻌَﻠَّﻜُﻢْ ﺗُﻔْﻠِﺤُﻮﻥَ

“Kerjakanlah semua kebaikan, agar kamu beruntung.” (QS. al-Hajj : 77).

Maulid itu termasuk kebaikan, karena isinya sedekah, mempelajari sirah Nabi SAW dan membaca shalawat. Berarti masuk dalam keumuman perintah dalam ayat tersebut.”

Wahabi: “Itu kan dalil umum. Tolong carikan dalil khusus dalam al-Qur’an yang menganjurkan Maulid.”

Sunni: “Sebelum saya menjawab pertanyaan Anda, tolong jelaskan dalil anda yang melarang Maulid.”

Wahabi: “Dalil kami sangat jelas. Maulid itu termasuk bid’ah. Setiap bid’ah pasti sesat.

Rasulullah SAW bersabda: “Kullu bid’atin dholalah.” Setiap bid’ah adalah sesat.”

Sunni: “Ah, kalau begitu dalil anda sama dengan dalil kami, sama-sama dalil umum. Yang saya minta adalah, jelaskan ayat atau hadits yang secara khusus melarang maulid.”

Di sini, ternyata si Wahabi mati kutu, dan tidak

bisa menjawab.

Akhirnya si Sunni berkata: “Anda percaya kepada Syaikh Ibnu Taimiyah?”

Wahabi: “Ya tentu. Beliau itu Syaikhul Islam, ulama besar, dan inspirator dakwah Syaikh

Muhammad bin Abdul Wahhab an-Najdi, panutan kami kaum Wahabi.”

Sunni: “Syaikh Ibnu Taimiyah, membenarkan dan menganjurkan Maulid, dalam kitabnya Iqtidha’ al-Shirath al-Mustaqim, hal. 621.” Lalu si Sunni menunjukkan teks asli kitab tersebut. Akhirnya si Wahabi terkejut dan terperangah. Mukanya seketika menjadi pucat. Kitab tersebut, dia bolak balik, ternyata penerbitnya juga orang Wahabi di Saudi Arabia. Akhirnya ia berkata:

Wahabi: “Syaikh Ibnu Taimiyah itu manusia biasa. Bisa salah dan bisa benar. Masalahnya

Maulid ini tidak memiliki dasar agama yang dapat dipertanggung jawabkan.”

Sunni: “Menurutmu, dasar agama itu apa saja?”

Wahabi: “Al-Qur’an dan Sunnah saja. Selain itu tidak ada lagi.”

Sunni: “Sekarang saya bertanya kepada Anda. Bagaimana hukum seorang anak memukul orang tuanya?”

Wahabi: “Jelas haram dan dosa besar.”

Sunni: “Tolong jelaskan dalil al-Qur’an atau hadits yang melarang memukul orang tua.”

Wahabi: “Allah SWT berfirman dalam al-Qur’an;

ﻓَﻠَﺎ ﺗَﻘُﻞْ ﻟَﻬُﻤَﺎ ﺃُﻑٍّ ﻭَﻟَﺎ ﺗَﻨْﻬَﺮْﻫُﻤَﺎ

“Maka janganlah kamu berkata uff kepada kedua orang tua dan jangan pula membentaknya.”

Dalam ayat tersebut, Allah melarang seorang anak berkata uff, atau berdesis terhadap orang tua, karena jelas akan menyakiti mereka. Apabila berkata uff saja dilarang karena menyakiti, apalagi memukul. Tentu lebih berat dalam hal menyakiti, dan keharamannya lebih berat pula dari pada sekedar berkata uff.”

Sunni: “Owh, ternyata di sini Anda menggunakan dalil Qiyas. Tadi Anda berkata, dalil itu hanya al-Qur’an dan Sunnah. Sekarang justru Anda menggunakan dalil Qiyas. Berarti Anda mengakui Qiyas termasuk dalil, selain al-Qur’an dan Sunnah.”

Wahabi: “Ini kan Qiyas aulawi, dalam artian hukum yang dihasilkan oleh produk Qiyas, lebih kuat dari pada yang ditunjuk oleh teks.”

Sunni: “Harusnya Anda tidak membatasi dalil pada al-Qur’an dan Sunnah saja. Tetapi juga

menyebutkan Qiyas, sebagaimana dipaparkan oleh seluruh ulama salaf. Anda tahu, bahwa menurut teori Ushul Fiqih, yang juga diakui oleh Ibnu Taimiyah, produk hukum Qiyas aulawi, lebih kuat dari pada hukum yang diproduk oleh teks. Dalam artian, memukul orang tua lebih haram dan lebih besar dosanya dari pada hanya sekedar berkata uff, karena volumenya dalam menyakiti lebih keras.”

Wahabi: “Di mana Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah

menyebutkan itu?”

Sunni: “Dalam kitab al-Musawwadah fi Ushul al-Fiqh.”

Kemudian si Sunni menunjukkan teks pernyataan Ibnu Taimiyah dalam kitab tersebut.

Akhirnya si Wahabi semakin senang, karena

kesimpulan hukumnya sesuai dengan kaedah yang ditetapkan oleh Syaikhul Islam-nya.

Wahabi: “Terus apa hubungan pertanyaan Anda, dengan persoalan Maulid yang kita diskusikan?”

Sunni: “Hukum memukul orang tua lebih haram dari pada sekadar berkata uff. Logikanya begini, Anda tahu mengapa umat Islam dianjurkan puasa Asyura?”

Wahabi: “Ya saya tahu. Dalam Shahih al-Bukhari dan Muslim diriwayatkan:

ﻋَﻦِ ﺍﺑْﻦِ ﻋَﺒَّﺎﺱٍ – ﺭﺿﻰ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻨﻬﻤﺎ – ﻗَﺎﻝَ ﻗَﺪِﻡَ ﺭَﺳُﻮﻝُ ﺍﻟﻠَّﻪِ – ﺻﻠﻰ ﺍﻟﻠﻪ

ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ – ﺍﻟْﻤَﺪِﻳﻨَﺔَ ﻓَﻮَﺟَﺪَ ﺍﻟْﻴَﻬُﻮﺩَ ﻳَﺼُﻮﻣُﻮﻥَ ﻳَﻮْﻡَ ﻋَﺎﺷُﻮﺭَﺍﺀَ ﻓَﺴُﺌِﻠُﻮﺍ ﻋَﻦْ

ﺫَﻟِﻚَ ﻓَﻘَﺎﻟُﻮﺍ ﻫَﺬَﺍ ﺍﻟْﻴَﻮْﻡُ ﺍﻟَّﺬِﻯ ﺃَﻇْﻬَﺮَ ﺍﻟﻠَّﻪُ ﻓِﻴﻪِ ﻣُﻮﺳَﻰ ﻭَﺑَﻨِﻰ ﺇِﺳْﺮَﺍﺋِﻴﻞَ ﻋَﻠَﻰ

ﻓِﺮْﻋَﻮْﻥَ ﻓَﻨَﺤْﻦُ ﻧَﺼُﻮﻣُﻪُ ﺗَﻌْﻈِﻴﻤًﺎ ﻟَﻪُ . ﻓَﻘَﺎﻝَ ﺍﻟﻨَّﺒِﻰُّ -ﺻﻠﻰ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ –

« ﻧَﺤْﻦُ ﺃَﻭْﻟَﻰ ﺑِﻤُﻮﺳَﻰ ﻣِﻨْﻜُﻢْ » . ﻓَﺄَﻣَﺮَ ﺑِﺼَﻮْﻣِﻪِ .

“Dari Ibnu Abbas RA berkata: “Rasulullah SAW

datang ke Madinah, lalu menemukan orang-orang Yahudi berpuasa Asyura. Lalu mereka ditanya, maka mereka menjawab; “Pada hari Asyura ini Allah memenangkan Musa dan Bani Israil menghadapi Fir’aun, maka kami berpuasa pada hari tersebut karena mengagungkannya.” Lalu Nabi SAW bersabda: “Kami lebih dekat kepada Musa dari pada kalian.” Maka Nabi SAW memerintahkan umat Islam berpuasa.”

Sunni: “Nah di sinilah hubungannya dengan

Maulid. Memukul orang tua tadi Anda katakana

lebih haram dari pada sekedar berkata uff.

Kemenangan Nabi Musa AS layak dirayakan dengan ibadah puasa, sedangkan lahirnya

Rasulullah Muhammad SAW jelas lebih agung daripada kemenangan Musa. Apabila kemenangan Musa AS layak dirayakan dengan suatu ibadah, maka sudah barang tentu lahirnya Nabi Muhammad SAW lebih layak dirayakan dengan acara Maulid.”

Wahabi: “Owh jadi begitu ya, maksudnya. Apakah ada ulama yang menjelaskan pengambilan hukum Maulid dengan yang Anda sebutkan tadi dari kalangan ulama besar?”

Sunni: “Ya banyak sekali, antara lain al-Hafizh

Ibnu Hajar dan al-Hafizh al-Suyuthi.”

Wahabi: “Tapi ada satu hal, yang saya kurang setuju dalam perayaan Maulid. Yaitu berdiri ketika membaca Ya Nabi. Itu jelas tidak ada dasarnya.”

Sunni: “Anda pernah menonton orang-orang Wahabi di Saudi Arabia, ketika membaca nasyid (syair atau lagu), secara berjamaah dan berdiri? Kalau tidak tahu, silahkan Anda cari di Youtube, di situ banyak sekali. Itu mengapa mereka lakukan?”

* Klik Disini

Wahabi: “Ya itu kan bernyanyi dan bersyair bersama. Kalau dengan cara duduk kurang asyik dan kurang nikmat.”

Sunni: “Maulid juga begitu. Kalau menyanyikan Ya Nabi Salam sambil duduk, dengan suara yang keras, kurang asyik juga dan kurang terasa Nikmat. Jadi hal ini tidak ada kaitannya dengan wajib atau sunnah.”

Akhirnya si Wahabi mengakui kebenaran Maulid secara syar’i. Alhamdulillah. Semoga bermanfaat.

1. Dua orang lelaki pernah bertemu Rasulullah ﷺ lalu meminta daripada Baginda supaya diberikan kuasa sebagai pemimpin. Rasulullah ﷺ menegur mereka dengan berkata:

إِنَّا لاَ نُوَلِّي هَذَا مَنْ سَأَلَهُ، وَلاَ مَنْ حَرَصَ عَلَيْهِ

“Kami tidak memberikan urusan kepimpinan ini kepada siapa yang memintanya, kami juga tidak berikan kepimpinan buat mereka yang terlalu bersungguh mendapatkannya.” (HR al-Bukhari)

2. Seorang tokoh sufi yang terkenal pernah berpesan bahawa sifat gilakan kuasa ini akan merosakkan peribadi seseorang. Sifat gilakan kuasa menyebabkan seseorang akan menjadi hasad dengki bahkan suka mencari keaiban manusia lain. Kata Fudail ibn Iyyad:

ما من أحد أحب الرئاسة إلا حسد وبغى ، وتتبع عيوب الناس ، وكره أن يُذكر أحد بخير

“Tidak ada seorang lelaki yang gilakan kuasa kepimpinan melainkan dia akan terjebak dengan hasad dan kejahatan, suka mencari keaiban manusia dan dia benci untuk menyebut kebaikan orang lain.”

3. Malah Abu Daud al-Sijistani melihat sifat ini sebagai salah satu daripada penyakit atau menggelarkannya sebagai syahwat yang tersembunyi. Beliau pernah ditanya tentang nafsu atau syahwat yang tersembunyi ini:

قيل لأبي داود السجستاني: ما الشهوة الخفية؟ قال: حب الرئاسة.

“Abu Daud pernah ditanya berkenaan dengan apa yang dimaksudkan dengan nafsu syahwat yang tersembunyai ini? Lalu dia berkata: (mereka yang) cintakan kuasa.

4. Atas dasar itu al-Imam Abu Ayyub al-Sakhtiyani berpesan bahawa mereka yang cintakan kemasyhuran dan kepimpinan ini adalah mereka yang sukar dipercayai. Kata beliau:

* Klik Disini

ما صدق عبد قط فأحب الشهرة

“Tiada yang benar langsung buat si hamba yang mencintai kemasyhuran.”

5. Berhati-hatilah dengan mereka yang terkena penyakit ini. Kecintaan terhadap kuasa akan mengaburi mereka dari kebaikan. Adalah dibimbangi kepentingan diri sendiri lebih mereka utamakan dari kesusahan rakyat. Amat sukar mencari pemimpin yang bangkit mengutamakan rakyat dari diri sendiri.

Semoga Allah membimbing kita.

Imam Al-Ghazali dalam Kitab Al-Mahabbah wa al-Syawq wa al-Uns wa al-Ridha, Ihya Ulumuddin:

Rasulullah saw bersabda: “Jika Allah mencintai seorang hamba, maka Dia akan memberinya cubaan. Jika dia bersabar, maka Dia akan memilihnya. Dan, jika dia rela (menerima cubaan itu), maka Dia akan menyuci kannya.” (HR Ad-Dailami melalui jalur Ali bin Abi Thalib).

* Klik Disini

Menurut Imam Al-Ghazali, tanda paling penting tentang kecintaan Allah kepada seorang hamba adalah kecintaan hamba itu sendiri kepada Allah. Hal tersebut sekaligus merupakan bukti kecintaan Allah kepada hamba itu. Sedangkan perbuatan yang menunjukkan bahawa seorang hamba dicintai Allah adalah bahawa Dia membimbing langsung semua urusannya, baik lahir mahupun batin, baik secara terang-terangan ataupun rahsia. Dialah yang memberi petunjuk kepadanya, menghiasi akhlaknya, yang menggerakkan seluruh organ tubuhnya, serta meluruskan lahir dan batinnya. Dialah yang akan memfokuskan cita-citanya pada satu tujuan (yakni Allah swt), menutup hatinya dari dunia dan merasa tidak berkepentingan terhadap selain Dia. Dialah yang menjadikan hamba tersebut merasa puas menikmati munajat dalam khalwat (kesendiriannya), juga menyingkap tabir antara Dia dan makrifat.

* Gambar Sekadar Hiasan

Haji Abdul Rahman Patalong kisahkan kepada kami : Ibu Maulana Ilyas al Kandahlawi (rah.a) tidak pernah makan sesuatu melainkan makanan itu dibawa pulang oleh suaminya Maulana Ismail. Beliau juga tidak mencuri pandang ke luar jendela dan sangat menjaga pandangannya. Inilah sifat seorang ibu yang melahirkan seorang wali Allah yang khas antara yang khas.

Ada satu kisah, satu jemaah telah tiba di sebuah masjid dan membuat usaha dakwah di kariah itu. Setiap malamnya mereka bermimpi berjumpa Nabi Muhammad SAW dan bangun solat tahajud. Kemudian, mereka berpindah pula ke masjid yang lain. Di masjid ini, perkara pelik telah berlaku. Tiada seorang pun antara mereka dapat bermimpi jumpa Nabi SAW dan tiada yang bangun tahajud.

Mereka menjadi gusar lalu bermesyuarat perihal amal mereka yang merosot. Akhirnya mereka buat keputusan untuk kembali ke masjid yang terdahulu. Mereka bertanya kepada orang tempatan yang telah menjamu mereka makan. “Daripada sumber mana kamu menjamu kami makan?” “Saya menggunakan wang saya sendiri daripada hasil titik peluh saya. Apabila jemaah datang saya berazam untuk menggunakan wang saya ini sepenuhnya untuk menjamu jemaah. Tidak sikitpun saya bawa duit itu pulang ke rumah. Saya membeli bahan mentah dan isteri saya akan memasaknya di rumah. Itulah makanan yang saya jamu kepada kalian.”

* Klik Disini

Tahulah mereka bahawa lelaki itu menjamu mereka dengan ikhlas daripada sumber yang halal dan tiada syubhah. Mungkin itu sebabnya mereka dapat bermimpi jumpa Baginda setiap malam. Kemudian, mereka balik ke masjid kedua dan bertanya kepada orang yang menjamu mereka. Kata orang itu, “Saya ada sorang kawan bukan Islam. Dia pesan, jika ada jemaah datang, dia mau jamu mereka makan. Dia sangat baik tapi suka berjudi. Daripada duit itulah dia telah sediakan makanan untuk kalian”. Astaghfirullah. Betapa besarnya kesan makanan kepada amalan dan hati manusia. Semoga kita ambil pengajaran.

* Gambar Sekadar Hiasan

Jangan merasa diri kita ” Baik ” walaupun kita solat cukup 5 waktu serta tepat pada waktunya.

Jangan merasa diri kita ” Baik ” walaupun kita bersedekah setiap hari malah lebih banyak nilai disedekahkan.

Jangan merasa diri kita ” Baik ” walaupun hari hari kita nasihat dan tegur orang lain yang berbuat silap.

Jangan merasa diri kita ” Baik ” walaupun kita sudah pakai jubah,berserban, bertutup litup menutup aurat dengan sempurna.

Jangan merasa diri kita ” Baik ” walaupun setiap malam kita jaga solat Tahajjud, Witir, Hajat dan amalan sunat lain.

Jangan merasa diri kita ” Baik ” walaupun hari hari kita ke masjid atau surau untuk beribadah dan menambah ilmu.

Jangan merasa diri kita ” Baik ” walaupun setiap saat kita update status berunsur nasihat dan dakwah.

Jangan merasa diri kita ” Baik ” walaupun setiap masa kita menolong orang lain.

Allah berfirman didalam al-Quran, surah an-Najm ayat 32 ;

فلا تُزٓكُّوْا آنْفُسٓكُمْ هُوٓ آعْلٓمُ بِمٓنْ اتّٓقٓى

“Janganlah kamu menganggap diri kamu suci(orang baik) kerana Allah-lah yang lebih mengetahui siapa yang benar-benar bertaqwa

Sayyidatina Aisyah (ra) ditanya orang ” Siapakah orang yang buruk?” dijawab olehnya ” iaitu orang yang merasa dirinya baik”.

Beliau ditanya lagi “Siapakah orang yang baik?”, maka dijawab “Iaitu orang yang merasa dirinya buruk”.

* Klik Disini

Kerana kita takkan pernah tahu dimanakah dan bilakah  saat HATI kita IKHLAS melakukan amalan amalan soleh, menasihati orang serta beramal ibadah lain yang bakal diterima oleh Allah Swt.

Kita tak tahu amal manakah yang Allah terima.

Selalu letak diri kita dalam keadaan;

“Aku banyak kekurangan dan kelemahan, semua orang lain lebih baik dari aku kerana hati manusia masing-masing hanya diketahui Allah”

“Akulah yang paling buruk dikalangan manusia. Aku sedang perbaiki diriku dan cuba bantu orang lain ” untuk menjadi lebih baik.

Kerana Allah hanya memandang tepat pada hati hambaNya. Tidak merasa diri sebagai orang baik hendaklah ada sehingga dia menghembuskan nafas yang terakhir.

Wujud keikhlasan atau sekadar penuh Riak dan Hasad. Jadi laksanakanlah sesuatu kebaikan hanya kerana mengharapkan REDHA Allah. Kerana orang yang terus beramal sambil memperbaiki dan memeriksa niatnya akan ditarbiah oleh Allah akan hatinya.

Dengan cara ini, seseorang orang akan melatih dirinya untuk bersifat tawadhu’ dan menjauhkan dirinya dari penyakit ujub(merasa kagum dengan diri sendiri) dan takabbur.

Disamping itu kita sentiasa berusaha memperbaiki diri sendiri serta orang lain dengan kelembutan dan kasih sayang.

Hanya Allah yang akan terus beri kita PETUNJUK serta JALAN KEBENARAN.

* Gambar Sekadar Hiasan

Mas kahwin termasuk dalam rukun nikah yang kelima iaitu ijab dan kabul (akad). Mas kahwin disebut dalam akad. Justeru untuk mengukuhkan pengetahuan kepada seluruh bakal pengantin, jom kita tengok senarai mengenai mas kahwin yang perlu anda tahu.

1) Islam tidak menentukan jumlah minimum atau maksimum mas kahwin yang hendak diberikan oleh pengantin lelaki kepada pengantin perempuan.

2) Namun Jabatan Agama Islam setiap negeri dalam negara kita sudah meletakkan jumlah minimum yang perlu dibayar. Jumlah ini tidak membebankan. Pengantin lelaki boleh memberikan lebih daripada nilai yang sudah ditetapkan.

3) Mas kahwin lebih penting berbanding wang hantaran dalam perkahwinan. Mas kahwin wajib diberikan manakala wang hantaran hanyalah adat. Kewajipan mas kahwin adalah berdasarkan Al-Qur’an, hadis dan ijmak.

4) Mas kahwin ialah hak pengantin perempuan sepenuhnya. Suami dilarang menggunakan wang mas kahwin yang telah diberikan tanpa kerelaan isteri.

5) Mas kahwin yang disebut ‘tunai’ perlu diberikan sebelum pasangan suami isteri bernikah. Suami wajib membayarnya sebelum menyetubuhi isteri. Selagi mas kahwin belum dibayar, isteri berhak menghalang suami menyetubuhinya.

* Klik Disini

6) Jika mas kahwin sebut ‘hutang’ lalu isteri meninggal dunia sebelum sempat suami membayar, mas kahwin itu akan dijadikan harta pusaka yang perlu diwariskan mengikut ketetapan ALLAH.

7) Kalau suami hendak guna duit mas kahwin isteri selepas berkahwin, perlu minta izin isteri. Selepas guna, perlu ganti semula sebagai menghormati hak isteri itu sendiri.

8) Mas kahwin boleh juga diberikan dalam bentuk sesuatu yang bermanfaat selain daripada wang. Misalnya emas dan Al-Qur’an.

Raja Namrud (hidup sekitar tahun 2275 SM- 1943 SM) juga disebut eja Namrudz bin Kan’aan (2275 SM – 1943 SM) adalah salah satu seorang Raja yang memerintah Mesopotamia purba (kini dikenali negara Iraq). Ia memiliki gelaran “a mighty hunter” yang bermaksud “pemburu yang hebat” atau “pemburu yang perkasa”, kerana kebijakannya dalam berburu. Nama lengkapnya adalah Namrudz bin Kan’aan bin Kush bin Ham bin Nuh (Nabi Nuh a.s.) atau juga sesetengah pendapat (Raja Namrud bin Kush bin Ham bin Nuh). Selain itu beliau diberi gelaran Dewa Bacchus atau Dewa Wain serta Dewa Matahari.

Namrud sendiri merupakan kata jamak yang mempunyai pengertian “Mari memberontak”. Namanya tercatat dalam Taurat, Injil dan kisah-kisah Islam. Pada zamannya, Namrud merupakan seorang raja yang cerdas, namun kecerdasannya itu membuatnya bersikap sombong dan takbur sehinggakan dia mengaku menjadi seorang ateis atau sebagai Tuhan dan usahanya mendapat tentangan hebat dari Nabi Ibrahim a.s. Namanya terkenal kerana usahanya sebagai pendiri Menara Babel. Menurut Kitab Bible kerajaannya termasuklah Babel, Erech, Accad dan Calneh, di tanah Shinar, yang juga dikenali sebagai tanah Namrud.

Keturunan Nabi Nuh a.s. Bapa Namrud ialah Kush iaitu cucu kepada nabi Nuh a.s., manakala ibunya ialah Semiramis. Ibunya pada usia remaja telah berkahwin dengan bapanya. Adalah dipercayai sehari selepas mengadakan hubungan kelamin dengan Semiramis, bapanya telah meninggal dunia. Oleh itu, apabila Namrud lahir beliau tidak berbapa. Ibunya adalah seorang yang wanita yang cantik lagi bijaksana.

Setelah beliau dilahirkan, ibunya membuat cerita kononnya dia tidak pernah disentuh oleh manusia dan Namrud adalah anak yang suci. Ini telah menambahkan keyakinan Namrud bahawa beliau adalah anak tuhan. Apabila beliau menjadi dewasa, beliau menjadi seorang yang kacak dan ibunya cemburu dengan teman wanitanya. Oleh itu, Semiramis telah berkahwin dengan Namrud iaitu anaknya sendiri.

Pemerintahan Raja.

Raja Namrud telah dianugerahkan daya intelek yang tinggi dan menjadi pakar dalam pelbagai bidang seperti seni reka, matematik dan ilmu falak. Beliau telah menemui sistem sexagesimal yang membahagikan bulatan kepada 360 darjah, satu darjah kepada 60 minit dan 1 minit kepada 60 saat. Selain itu beliau menetapkan bahawa satu hari terbahagi kepada 24 jam setiap jam kepada 60 minit dan 1 minit kepada 60 saat. Menurut beliau, hari bermula pada waktu tengah malam dan bukannya pada waktu matahari terbenam seperti yang dipercayai oleh kaum sebelumnya. Disamping itu, Namrud mahir dalam pengiraan matematik dalam pembinaan bangunan-bangunan besar, jambatan, kuil, mahligai dan empangan.

Antara sumbangan beliau ialah pembinaan sistem saliran irrigation di lembah Tigris dan Euphrates. Beliaulah orang pertama yang menggunakan batu-bata dari tanah liat yang terbakar burnt clay sebagai bahan binaan bangunan. Malah beliau terkenal sebagai arkitek Menara Babil iaitu pencakar langit yang pertama di dunia. Malangnya sebagai seorang ateis, beliau telah menyalahgunakan kebijaksanaannya untuk menyesatkan rakyatnya. Antara lain beliau telah menggunakan ilmu falak untuk mencipta pelbagai sistem meramal nasib seperti horoskop dan tilik nasib palmistry. Tujuannya ialah untuk menunjukkan bahawa manusia tidak perlukan Tuhan kerana manusia mampu meramal dan mengubah nasibnya sendiri. Selain itu, beliau membina banyak bangunan serta berhala yang tersergam indah agar manusia kagum dengan kehebatan ciptaannya sendiri.

Menara Babil yang bermaksud “Pintu Gerbang yang Sempurna” merupakan kuil dimana pendeta-pendeta menyanjung Namrud. Tujuannya dibina ialah untuk menaikkan sebuah bangunan yang mampu mencecah kayangan. Menurut buku “Sejarah Para Rasul dan Raja” pada abad ke-9 oleh ahli sejarah Islam terkenal al-Tabari, menara tersebut telah dimusnahkan oleh Allah. Pada mulanya para pembinanya menggunakan satu bahasa iaitu bahasa Suryani, tetapi ia terpecah kepada 72 bahasa yang berlainan. Akibatnya mereka tidak dapat berkomunikasi antara satu sama lain dan tidak dapat meneruskan pembinaan menara tersebut.

Beliau juga amat meminati ilmu sihir dan menggunakannya untuk mempengaruhi fikiran rakyatnya. Adalah dipercayai beliau mempelajari ilmu tersebut dari dua malaikat Harut dan Marut yang pernah disebut dalam al-Quran. Selain itu, beliau telah memulakan suatu era yang baru dimana manusia memandang rendah pada tuhan. Rakyatnya tidak digalakkan untuk melakukan kebaikan demi tuhan kerana baginya tuhan yang ghaib adalah lemah. Oleh itu orang ramai dibawah pemerintahannya boleh mengikut nafsu manusia seperti berpesta, seks rambang, meminum arak dan segala kemungkaran yang lain. Oleh yang demikian, beliau diberi gelaran Bacchus atau Dewa Wain kerana beliau ‘mabuk’ dengan keduniaan.

Beliau juga mendakwa dirinya Tuhan kerana sebagai seorang manusia beliau lebih tahu mengenai kelemahan manusia lain berbanding Tuhan yang jauh terpisah dari makhluknya sendiri.

Raja Namrud yang zalim dengan Nabi Ibrahim a.s.

Kitab Injil tidak pernah menyatakan tentang pertemuan antara Raja Namrud dengan Nabi Ibrahim a.s. Malah terdapat jurang tujuh generasi antara mereka berdua, Namrud sebagai cicit Nabi Nuh a.s, manakala Ibrahim sepuluh generasi selepas Nabi Nuh. (Genesis 10,11). Walaupun begitu, Kitab Taurat dan al-Quran menggambarkan pertembungan antara Raja Namrud dengan Nabi Ibrahim a.s sebagai satu konfrontasi hebat antara kebaikan dan kejahatan atau lebih spesifik lagi Monoteisme menentang Taghut dan Penyembahan Berhala. Namun demikian menurut sumber Yahudi, Raja Namrud sempat bertaubat sebelum beliau meninggal dunia. Tetapi penganut Islam mempercayai bahawa beliau tetap dengan pendiriannya sebagai Tuhan sehinggalah keakhir hayatnya.

Ketibaan Nabi Ibrahim a.s.

Pada satu malam Raja Namrud bermimpi melihat bintang yang terbit dari barat. Semakin tinggi ia naik, semakin terang bintang itu menyinar. Sehinggakan ia sampai ke zenith dimana ia menerangi seluruh alam semesta. Selepas terbangun Raja Namrud pun memanggil penasihatnya dan menceritakan mimpi tersebut. Penasihat itu memberitahu beliau bahawa terdapat beberapa tafsiran bagi mimpinya itu. Antara tafsirannya ialah:

Akan lahir seorang insan dalam masa setahun.

Insan itu akan dilahirkan di Faddam A’ram.

Insan itu akan menjadi pemusnah batu berhala.

Insan itu akan membuktikan kepalsuan Raja Namrud.

Insan itu akan menyebarkan agama bahawa tuhan yang esa wujud dan darinya akan lahir zuriat-zuriat para nabi dan aulia.

Nabi terakhir dari zuriat ini akan membawa agama yang ibarat bintang di zenith iaitu menyinari seluruh alam semesta.

Akibat insan ini Raja Namrud akan mati secara dasyhat.

Menurut cerita yang lain, Namrud bermimpi melihat seorang kanak-kanak melompat dan masuk ke biliknya, kemudian merampas mahkota yang dipakainya, lalu menghancurkannya. Sebaik mendengar berita ini Namrud pun menjadi gelisah dan sedar bahawa insan ini akan membawa kepada kejatuhannya. Dengan serta-merta Raja Namrud menghantar bala tenteranya ke Faddam A’ram.

Penduduk lelaki telah dipisahkan dari isteri-isteri mereka. Wanita-wanita yang mengandung telah dibunuh. Raja Namrud pun mengeluarkan perintah bahawa sesiapa yang melahirkan anak akan dibunuh bersama anaknya sekali. Selepas satu tahun beliau mendapat petanda bahawa insan itu akan dilahirkan. Beliau mengesyaki Azaar iaitu orang yang paling dipercayainya kerana Azaar pernah dibenarkan untuk memasuki bandar tersebut. Walaupun begitu Azaar menafikannya dan isterinya pula tidak menunjukkan tanda-tanda hamil. Namun, beliau tidak mempercayainya dan menugaskan seorang tentera untuk menjaga isteri Azaar. Setahun telah berlalu dan tentera Namrud telah dikeluarkan dari bandar Faddam A’ram.

Nabi Ibrahim a.s. menentang kebatilan yang disebarkan Raja Namrud.

Raja Namrud lega kerana menyangkakan bahawa beliau telah menggagalkan kelahiran insan yang akan menentangnya itu. Walaupun begitu insan itu telah dilahirkan disebuah gua berhampiran Faddam A’ram. Semasa insan itu iaitu Nabi Ibrahim a.s. dewasa beliau telah menghancurkan beberapa batu berhala. Ini telah menimbulkan kemarahan rakyat jelata yang menangkap serta membawanya kepada muka pengadilan dihadapan Raja Namrud.

Ditanyalah Nabi Ibrahim oleh Raja Namrud, “Apakah engkau yang menghancur dan merosakkan tuhan-tuhan kami?” Dengan tenang dan selamba, Nabi Ibrahim menjawab, “Patung besar yang berkalungkan kapak di lehernya itulah yang melakukannya. Cuba tanya kepada patung-patung itu siapakah yang menghancurkannya.” Raja Namrud pun terdiam sejenak. Kemudian beliau berkata, “Engkau kan tahu bahawa patung-patung itu tidak dapat bercakap dan berkata mengapa engkau minta kami bertanya kepadanya?” Tibalah saat yang memang dinantikan oleh Nabi Ibrahim, maka sebagai jawapan atas pertanyaan yang terakhir itu beliau berpidato membentangkan kebatilan persembahan mereka, yang mereka pertahankan mati-matian, semata-mata hanya kerana adat itu adalah warisan nenek-moyang.

Berkata Nabi Ibrahim kepada Raja Namrud itu, “Jika begitu, mengapa kamu sembah patung-patung itu, yang tidak dapat berkata-kata, tidak dapat melihat dan tidak dapat mendengar, tidak dapat membawa manfaat atau menolak mudarat, bahkan tidak dapat menolong dirinya sendiri dari kehancuran dan kebinasaan? Alangkah bodohnya kamu dengan kepercayaan dan persembahan kamu itu! Tidakkah dapat kamu berfikir dengan akal bahawa persembahan kamu adalah perbuatan yang keliru yang hanya difahami oleh syaitan.

Mengapa kamu tidak menyembah Tuhan yang menciptakan kamu, menciptakan alam sekeliling kamu dan menguasakan kamu di atas bumi dengan segala isi dan kekayaan. Alangkah hina dinanya kamu dengan persembahan kamu itu.” Setelah selesai, barulah Raja Namrud sedar bahawa jejaka dihadapannya ialah insan dalam mimpinya itu. Budak ini bijak berpidato dan mempunyai logik yang lebih tinggi daripada beliau dan mampu menggugat kepercayaan rakyatnya terhadap penyembahan berhala.

Selain itu, budak ini sangat yakin dengan wujudnya tuhan yang esa dan tidak percaya dengan berhala. Budak ini langsung tidak gentar dengan Raja Namrud dan berani membantahnya. Raja Namrud pun tahu bahawa beliau mesti membunuh Nabi Ibrahim dengan serta merta. Lalu beliau pun membuat keputusan untuk membakar Nabi Ibrahim hidup-hidup sebagai hukuman atas perbuatannya menghina dan menghancurkan tuhan-tuhan mereka. Maka berserulah Raja Namrud kepada rakyat yang hadir menyaksikan pengadilan itu, “Bakarlah ia dan belalah tuhan-tuhanmu, jika kamu benar-benar setia kepadanya.” Nabi Ibrahim pun dilemparkan ke dalam bukit api yang menyala-nyala. Tetapi dengan ajaibnya beliau terselamat.

Hanya tali temali dan rantai yang mengikat tangan dan kakinya yang terbakar hangus, sedangkan tubuh dan pakaian yang terlekat pada tubuhnya tetap utuh, tidak sedikit pun tersentuh oleh api. Orang ramai tercengang dengan keajaiban ini dan mula mempersoalkan kepercayaan kepada Raja Namrud. Malah anak perempuan Raja Namrud sendiri, Puteri Razia mengaku di hadapan orang ramai bahawa tuhan Nabi Ibrahim a.s. adalah tuhan yang sebenarnya.

Ini telah menaikkan kemarahan Namrud yang mengarahkan tenteranya untuk membunuh puterinya itu. Puteri itu pun meluru kearah api yang besar itu lalu berkata, “Tuhan Nabi Ibrahim selamatkanlah aku”. Puteri Razia pun turut terselamat dari terbakar dalam api yang membara itu dan kedengaran dia mengucap kalimah syahadah. Tindakan derhaka puterinya menjadikan hati Raja Namrud semakin membara.

Sebaik sahaja puteri Razia keluar dari api tersebut beliau serta tenteranya telah mengejarnya kedalam hutan. Ini memberi peluang kepada Nabi Ibrahim serta Sarah, bapanya Azaar serta anak saudaranya Nabi Luth a.s. untuk melarikan diri. Raja Namrud dan tenteranya cuba mencari Puteri Razia tetapi puteri itu telah hilang. Selepas sekian lama, mereka pun pulang dan mendapati bahawa Nabi Ibrahim turut hilang. Setelah peristiwa ini, Raja Namrud semakin gelisah kerana rakyatnya mula hilang kepercayaan terhadap kekuasaannya. Oleh itu, beliau berazam pula untuk membunuh Tuhan nabi Ibrahim.

Raja Namrud cuba membunuh Allah SWT.

Seperti kepercayaan orang dahulukala, beliau menganggap bahawa Tuhan bersemayam di atas kayangan. Oleh itu Raja Namrud telah berusaha untuk membina sebuah kenderaan yang mampu terbang keatas langit. Empat ekor burung yang besar digunakan untuk mengangkat kenderaan itu kelangit. Empat tiang yang panjang dicucuk dengan makanan telah dinaikkan agar burung-burung itu terbang ke atas. Beliau yakin apabila sampai dilangit, beliau akan menghampiri Allah dan boleh memanahnya sehingga mati.

Sebaik sahaja kenderaan naik keudara, Raja Namrud pun bersedia dengan anak panahnya. Beliau terkenal sebagai pemanah yang handal dan hadiahnya yang paling besar ialah Allah. Walaupun begitu, Namrud hairan kerana semakin tinggi kenderaan itu naik semakin jauh langit itu berada. Lama-kelamaan, udara pun menjadi semakin nipis dan beliau semakin sukar untuk bernafas. Dengan sepenuh hati beliau mengacukan panahnya kelangit dan memanah keudara. Selang beberapa ketika kemudian, panahnya jatuh semula dengan berlumuran darah. Raja Namrud berasa gembira kerana menyangka beliau berjaya membunuh Tuhan Nabi Ibrahim a.s. lalu Namrud pun menolak tiang-tiang itu kebawah supaya burung-burung itu semula ke bumi.

Apabila sampai ke tanah, Namrud dengan bangganya menunjukkan anak panahnya dikhalayak ramai dan mengaku bahawa beliau telah memburu serta membunuh Allah. Raja Namrud pun menjemput Nabi Ibrahim a.s ke istananya untuk menunjukkan kekuasaan beliau. Apabila ditunjuk akan panahnya itu, nabi Ibrahim bertanya apabila Raja Namrud memanah tuhan, adakah langit semakin jauh atau semakin dekat. Beliau terpaksa mengaku bahawa langit semakin jauh.

Nabi Ibrahim mendakwa bahawa darah itu adalah sebenarnya darah ikan yang dilumur oleh malaikat dilangit dan Raja Namrud tidak berupaya untuk membunuh Allah. Barulah beliau sedar bahawa beliau telah dikaburkan matanya oleh Allah. Namrud tetap mahu menunjukkan kekuasannya. Lalu beliau memanggil tenteranya untuk membawa dua orang tawanan.

Satunya telah dikenakan hukuman bunuh manakala seorang lagi telah dibebaskan. Dengan angkuh beliau berkata berkata kepada nabi Ibrahim, “Lihatlah saya dapat memberi kehidupan kepada seorang dan mengambil nyawa orang yang lain!” Nabi Ibrahim pula menjawab, “Tuhan yang saya sembah berkuasa untuk menerbitkan matahari dari timur. Bolehkah Raja Namrud menerbitkan matahari disebelah barat pula?” Beliau pun terpaksa mengaku kalah dengan logik nabi Ibrahim a.s.

Dengan nada yang tinggi beliau mencabar Allah untuk menentangnya disebuah tempat tertentu. Beliau akan mengumpul seluruh bala tenteranya untuk berperang dengan Allah.Raja Namrud pun mengumpul bala tenteranya yang ramai lengkap dengan senjata yang serba canggih untuk menghadapi Tuhan nabi Ibrahim a.s. Apa bila tiba ditempat itu, Allah telah menurunkan beribu-ribu nyamuk atau serangga yang halus. Senjata buatan manusia yang paling hebat pun tidak mampu menepis serangan makhluk yang halus ini. Dalam beberapa ketika, mereka telah menembusi kulit tentera Raja Namrud dan membunuh mereka dengan dahsyat sekali. Namrud bagaimanapun berjaya melarikan diri tetapi seekor nyamuk telah masuk ke otaknya.

* Klik Disini

Dipercayai selama empat puluh hari dan empat puluh malam, Namrud merana kerana otaknya dihisap oleh nyamuk itu. Dalam tempoh tersebut, nabi Ibrahim sering mengunjungi serta memberi dakwah kepada beliau, namun Namrud tetap mendakwa dirinya Tuhan. Akhirnya Namrud memanggil orang suruhannya untuk mengambil sebatang besi yang besar untuk memukul kepalanya agar sakitnya hilang. Selepas kepalanya dipukul, Namrud mengarahkan orang suruhannya untuk memberi pukulan yang paling kuat dan ini telah membawa kepada kematian Raja Namrud yang zalim itu.

Kemudian, nyamuk tersebut merangkak keluar dari telinganya. Maka berakhirlah kehidupan seorang raja takbur yang mati akibat serangan seekor nyamuk yang kecil. Wallahu a’lam.