Ibrahim bin Adham pernah ditanya tentang apa yang dapat menyebabkan dirinya mencapai tingkat zuhud, lalu beliau menjawab bahwa alasan zuhud baginya ada tiga hal, yakni:
1) Kulihat kuburan adalah alam yang mengerikan, sedang aku tidak punya teman yang menghilangkan rasa takutku.
2) Kulihat perjalananku sangat jauh, sedang aku tidak punya bekal yang dapat mengantarkanku ke tujuan.
3) Kulihat Tuhan Yang Maha Perkasa sebagai hakim, sedang aku tidak punya alasan untuk membela diriku di hadapan-Nya.”
Ibrahim bin Adham adalah seorang yang dulunya pernah menjadi penguasa di negerinya. Lalu ia meninggalkan kekuasaannya demi mencari kebahagiaan akhirat. Di Mekah, Madinah dan di tempat-tempat yang lainnya ia tekun beribadah dan bertobat kepada Allah. Dalam al-Risalah al-Qusayriah disebutkan bahwa nama lengkap Ibrahim bin Adham adalah Abu Ishaq Ibrahim bin Mansyur, putra sang raja dari negeri Balkhan.
Pada suatu hari ia berburu ke hutan. Di sana ia mengejar seekor musang atau kelinci yang menjadi buruannya. Saat mengejar buruannya tersebut ia tiba-tiba mendengar suara tanpa rupa berkata: “Hai Ibrahim, apakah engkau diciptakan untuk berburu? Apakah engkau diperintahkan untuk berburu? Tidak lama kemudian suara tanpa rupa itu berseru kembali saat ia telah bertengger di atas pelana kudanya: “Demi Allah, bukan untuk ini engkau diciptakan dan bukan untuk melakukan ini engkau diperintahkan.”
Setelah ia turun dari kudanya, tanpa sengaja ia bertemu dengan seorang penggembala ternak mililk ayahnya. Ia menukar kuda tunggangannya berikut semua perbekalannya dengan baju penggembala itu. Selanjutnya ia masuk ke daerah pedalaman dan terus berjalan kaki hingga sampai Mekah. Di Mekah, Ibrahim bin Adham menuntut ilmu dari Sufyan at-Tsauri dan Fudhail bin ‘Iyadh. Dari Mekah ia melanjutkan perjalanannya ke Syiria. Ia makan dan minum dengan hasil keringatnya sendiri, seperti menerima upah dari mengetam, menerima upah dari memelihara kebun milik orang lain dan pekerjaan lainnya. Beliau meninggal di Syria.
(Dikutip dari kitab Nashaihul Ibad, Imam Nawawi Al-Bantani).
Sahabatku, jangan pernah menganggap ujian dan cobaan hidup yang kita jalani lebih berat dari orang lain. Karena, pahit-getir ujian yang diberikan Allah kepada para rasul, nabi dan wali jauh lebih besar daripada apa yang kita alami. Syekh Abdul Qadir Al-Jailani qaddasallahu sirrahu mengatakan: “Allah SWT selalu memberi cobaan dan ujian kepada para hamba-Nya yang Mukmin sesuai dengan kadar keimanannya.
Barangsiapa yang besar dan kuat imannya serta selalu meningkatkan imannya, maka semakin besar pula ujian yang diterimanya. Seorang rasul, ujian dan cobaannya lebih berat dan besar daripada ujian dan cobaan seorang Nabi.Hal ini karena keimanan seorang rasul itu lebih besar dan lebih kuat.
Seorang nabi itu ujian dan cobaannya lebih besar daripada seorang wali ‘abdal. Ujian seorang wali ‘abdal lebih berat daripada ujian seorang wali biasa. Ujian setiap orang itu berdasarkan tingkat keimanan dan keyakinannya. Dasar dari hal tersebut adalah hadis Rasulullah SAW, “Sesungguhnya kami, para Nabi adalah golongan orang yang paling berat ujiannya, lalu orang yang lebih menyerupai kami, lalu yang menyerupainya, dan begitulah seterusnya,” (HR Imam Ahmad, At-Tirmidzi, Ibnu Majah, An-Nasa’i dan Ad-Darimi)
Allah SWT melanggengkan ujian kepada para junjungan yang mulia tersebut, sampai mereka menjadi abadi dalam haribaan Rabbnya. Dan, mereka tidak akan pernah terlalaikan dari kesadaran mereka, karena Allah SWT sangat mencintai mereka. Mereka adalah golongan orang yang mencintai kebenaran. Sesungguhnya orang yang mencintai itu selamanya tidak akan pernah mempunyai pilihan, selain orang yang mencintainya.”
(Syekh Abdul Qadir Al-Jailani dalam kitab Futuhul Ghayb).
* Gambar Sekadar Hiasan
“Ada cahaya yang menyingkap jejak-jejak-Nya dan ada cahaya yang menyingkap sifat-sifat-Nya”.
(Syekh Ibnu Atha’illah dalam kitab Al-Hikam)”.
Syekh Abdullah Asy-Syarqawi menjelaskan bahwa ada cahaya yang menyingkap keadaan makhluk-makhluk sehingga ia menyinari ahwal (keadaan spiritual) para hamba dan menyinari yang ada di atas bumi dan di bawah langit. Ini disebut dengan kasyaf shuwari (pengungkapan bentuk). Kasyaf ini tidak dipedulikan oleh para muhaqqiq (para ahli hakikat). Ada pula cahaya yang menyingkap sifat-sifat Allah dan keindahan-Nya. Cahaya ini tak akan terlihat, kecuali para orang-orang yang darinya tampak sifat-sifat Allah. Ini disebut dengan kasyaf maknawi (pengungkapan immateril). Kasyaf inilah yang dicari oleh para muhaqqiq.
Syeikh Ibnu Atha’illah tidak mengatakan, “Ada cahaya menyingkap zat-Nya,” karena penampakkan zat Allah yang murni dan bersih dari sifat-sifat masih menjadi perdebatan di kalangan mereka. Sebagian dari mereka menafikan. Sebagian yang lain membenarkan kemungkinannya. Syeikh Muhyiddin Ibn Arabi menyebut penampakkan zat Allah yang murni ini dengan bawariq (kilat), karena ia datang dan hilang dengan cepat, dan manusia tidak sanggup menerimanya dalam waktu lama.”
Syeikh Ibnu Atha’illah dalam kitab Al-Hikam mengatakan: “Boleh jadi kalbu terhenti pada cahaya-cahaya, sebagaimana terhijabnya kalbu oleh gelapnya bayang-bayang ciptaan.”
Menurut Syekh Abdullah Asy-Syarqawi, boleh jadi kalbu kita tertutup oleh cahaya-cahaya dan terhenti dari perjalanannya menuju Allah, sebagimana jiwa tertutup oleh tebalnya ciptaan, syahwat, dan kenikmatan sehingga terhalang dari Allah SWT.
Hijab yang menghalangi dari Allah itu ada dua macam:
Pertama, hijab yang bersumber dari cahaya, yakni ilmu dan pengetahuan. Jika hati terhenti padanya, maka ia akan merasa cukup dengannya dan menjadikannya sebagai tujuan dan maksud.
Kedua, hijab yang bersumber dari kegelapan, yakni nafsu syahwat dan kebiasaanya. Ia digambarkan dengan ketebalan dan kegelapan, karena tidak dapat dihilangkan, kecuali dengan perjuangan dan penderitaan.”
(Syekh Ibnu Atha’illah dalam kitab Al-Hikam, dengan syarah oleh Syeikh Abdullah Asy-Syarqawi).
*Gambar Sekadar Hiasan
Menurut Syeikh Ibnu Atha’ilah, boleh jadi ketika seorang
hamba diam tak berzikir, kalbu yang bertempat di dadanya akan segera bergerak
meminta zikir seperti gerakan anak di perut ibunya. Kalbu manusia ibarat Isa
ibn Maryam as., sementara zikir adalah susunya. Ketika besar dan kuat, ia akan
menangis dan berteriak karena rindu pada zikir dan objeknya (Allah).
Zikir kalbu ibarat suara lebah. Ia tidak terlalu nyaring
dan menganggu, tetapi tidak pula terlalu samar tersembunyi. Ketika objek zikir
(Allah) sudah bersemayam dalam kalbu dan zikir itu menjadi samar dan tak
tampak, maka sang pezikir takkan lagi menoleh pada zikir dan kalbu. Tapi, kalau
ia masih menoleh pada zikir atau pada kalbunya, berarti masih ada hijab.
Kondisi saat seseorang tidak lagi memperhatikan zikir dan kalbunya disebut
kondisi fana. Dalam kondisi seperti itu, ia melenyapkan dirinya sehingga tak
lagi merasakan keberadaan anggota tubuhnya, hal-hal lain di luar dirinya,
ataupun lintasan-lintasan jiwanya.
Semua itu ghaib dari dirinya dan dirinya juga ghaib dari
semua itu untuk bergegas menuju Tuhan lalu lenyap di dalam-Nya. Seandainya
masih terbersit dalam benaknya bahwa ia sedang dalam kondisi fana berarti
kondisi fananya masih bercampur noda dan belum sempurna. Yang sempurna adalah kalau
ia telah fana dari dirinya sendiri dan fana dari kefanaannya.
Jalan pertama yang harus dilalui seorang salik adalah
pergi menuju Allah. Sebab, petunjuk hanya milik Allah. Seperti dikatakan Nabi
Ibrahim as., “Aku pergi menghadap kepada Tuhanku. Dialah yang akan memberi
petunjuk kepadaku.” (Q.S. al-Shaffat [37]: 99). Ketika pergi menuju Allah telah
mantap dan berlangsung secara berterusan sampai menjadi kebiasaan yang melekat
kuat, naiklah ia menuju alam yang paling tinggi seraya menyaksikan hal hakiki yang
paling suci. Gambaran alam malaikat tertanam kuat dalam dirinya dan kesucian
lahut tampak jelas di hadapannya.
Hal pertama yang tampak di alam tersebut adalah substansi
malaikat serta alam roh para nabi dan wali dalam bentuk yang sangat indah.
Dengan perantaraannya, ia bisa mengetahui berbagai hakikat yang ada. Itulah
yang terdapat di awal perjalanan sampai pada tingkatan yang sulit digambarkan.
Dalam segala sesuatu al-Haq tampak secara jelas. Inilah hasil dari esensi
zikir. Tahap pertama adalah zikir lisan. Kemudian zikir kalbu yang cenderung
diupayakan dan dipaksakan. Selanjutnya, zikir kalbu yang berlangsung secara
lugas, tanpa perlu dipaksakan.
Serta yang terakhir adalah ketika Allah sudah berkuasa di
dalam kalbu serta sirnanya zikir itu sendiri. Inilah rahasia dari sabda Nabi
saw., “Siapa ingin bersenang-senang di taman surga, perbanyaklah mengingat
Allah.” Juga sabda Nabi saw., “Zikir diam (khafiy) tujuh puluh kali lebih utama
daripada zikir yang terdengar oleh para malaikat pencatat amal”.
(Syekh Ibnu Atha’illah dalam Miftah al-Falah wa Misbah
al-Arwah).
Nabi ﷺ bersabda, “Jadilah engkau orang berilmu, atau
orang yang menuntut ilmu, atau orang yang mau mendengarkan ilmu, atau orang
yang menyukai ilmu. Dan janganlah engkau menjadi orang yang kelima maka kamu
akan celaka.” (HR. Baihaqi).
1. Orang Alim (‘Aaliman), Adalah orang yang punya ilmu
agama dan mengajarkan ilmu-ilmu syari’at di dalam hukum fiqih, tauhid dan
tasawuf. Berkat Ulama, kita yang dulu jahil (bodoh) menjadi ‘Alim (punya Ilmu).
2. Orang yang belajar (Muta’alliman), Adalah orang yang
belajar pakai kitab, duduk bersama gurunya belajar dengan kitab dan mencatat.
3. Orang yang mendengar Ilmu Agama (Mustami’an), Adalah
orang yang mendengarkan Ilmu Agama di Majelis-majelis meskipun tanpa kitab.
4. Orang yang cinta pada Ulama (Muhibban), Adalah orang
yang cinta kepada para Ulama dan Habaib, walaupun ia masih bodoh.
5. Orang yang Binasa Adalah orang yang tidak mau belajar
dan mendengarkan Ilmu Agama, tidak suka dan selalu mencari-cari kejelekan
Ulama, namun selalu melihat kebaikan orang-orang kafir, yang membuat ALLAH SWT
Murka, dan menurunkan banyak bencana.
Kelak mereka akan dikumpulkan bersama orang-orang kafir
didasar Neraka Jahanam (di bawah orang kafir). Seperti yang ALLAH SWT
Peringatkan dalam AL QUR’AN, Surat AN-NISA Ayat 140.
Semoga ALLAH SWT Masukan kita dalam golongan orang-orang
yang diredhai NYA. Menjadi JANTUNG yang terus berdenyut, berkarya dan
menebarkan Ilmu Agama sampai ALLAH SWT Menghentikannya.
* Gambar Sekadar Hiasan
Syeikh Abdul Qadir Jailani رضى
الله عنه mengatakan :
” Musibah dari Allah adakalanya merupakan hukuman
dan siksaan atas dosa dan maksiat. Bisa juga musibah merupakan penghapus dosa
dan pengampunan.
Adakalanya musibah merupakan pengangkatan derajat dan
kedudukan, seperti dialami orang-orang yang telah mendapat pertolongan Allah.
Musibah yang mereka terima bukanlah untuk menghancurkan dan menghinakan mereka,
melainkan untuk menguji dan memilih mereka. Musibah membersihkan hati mereka
dari syirik serta kebergantungan pada makhluk dan sebab-akibat.
Setiap jenis musibah memiliki ciri masing-masing.
1. Musibah yang merupakan siksaan ditandai dengan
ketidaksabaran dan keluhan kepada Allah saat musibah itu datang.
2. Musibah yang merupakan pengampunan dosa dan kesalahan
ditandai dengan kesabaran penuh.
3. Terakhir, musibah yang merupakan pengangkatan derajat
ditandai dengan keredhaan, ketenangan dan ketenteraman terhadap perbuatan Tuhan
di bumi dan langit.”
[ Syeikh Abdul Qadir Jailani رضى
الله عنه dalam Fathu al-Ghaib ]
*Gambar Sekadar Hiasan
KEUTAMAAN MEMBACA ASMAUL HUSNA
Usahakan selalu membaca Asmaul-husna berikut ini, karena Rasulullah saw mene-gaskan,
bahwa orang yang membiasakannya akan masuk surga.
Artinya : “Dia-lah Allah, Yang tiada tuhan selain Dia,
Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang; Yang Maha Raja; Yang Maha Suci; Yang
Memberi Keselamatan; Yang Memberi Keamanan; Yang Maha Memelihara; Yang Maha
Mengalahkan; Yang Maha Perkasa; Yang Maha Menciptakan; Yang Maha Melepaskan;
Yang Maha Membentuk; Yang Maha Pengampun; Yang Maha Memberi; Yang Maha Memberi
rizki; Yang Maha Pembuka pintu rahmat; Yang Maha Mengetahui; Yang Maha
Menyempitkan rizki; Yang Maha Melapangkan rizki; Yang Maha Merendahkan derajat;Yang Maha
Meninggikan derajat; Yang Maha Memuliakan;
Yang Maha Merendahkan: Yang Maha Mendengar; Yang Maha Melihat; Yang Maha
Menetapkan Hukum; Yang Maha Adil; Yang Maha Lemah Lembut; Yang Maha Waspada;
Yang Maha Penyantun; Yang Maha Agung; Yang Maha Pengampun; Yang Maha Membalas
syukur hamba-Nya; Yang Maha Tinggi; Yang Maha Besar; Yang Maha Menjaga; Yang
Maha Pemelihara; Yang Maha Menentukan perhitungan; Yang Maha Luhur; Yang Maha
Pemurah; Yang Maha Pengawas; Yang Maha Mengabulkan doa; Yang Maha Luas; Yang
Maha Bijak; Yang Maha Mengasihani; Yang Maha Mulia; Yang Maha Membangkitkan
(pada hari kiamat); Yang Maha Menyaksikan; Yang Maha Benar; Yang Maha
Menentukan segala urusan; Yang Maha Kuat; Yang Maha Teguh; Yang Maha Pelindung;
Yang Maha Terpuji; Yang Maha Penghitung; Yang Maha Memulai (penciptaan segala
makhluk); Yang Maha Mengembalikan (kepada asalnya); Yang Maha Menghidupkan;
Yang Maha Mematikan; Yang Maha Hidup Kekal; Yang Maha Mengurus segala sesuatu;
Yang Maha Kaya; Yang Maha Mulia; Yang Maha Esa; Yang kepada-Nya bergantung
segala sesuatu; Yang Maha Kuasa atas segala sesuatu; Yang Maha Kuasa berbuat
menurut kehendak-Nya; Yang Mendahulukan
segala sesuatu menurut kehendak-Nya; Yang Membelakangkan segela sesuatu menurut
kehendak-Nya; Yang Maha Awal; Yang Maha
Akhir (Kekal tak berkesudahan); Yang Maha Zhahir (terbuktikan
keberadan-Nya); Yang Maha Bathin (Yang rahasia-Nya tak terbayangkan oleh akal);
Penguasa (Yang berhak memerintah dan melarang); Yang Maha Tinggi; Yang Maha
Baik; Yang Maha Menerima taubat; Yang Maha Menuntut balas; Yang Maha Pemaaf;
Yang Maha Kasih sayang; Yang Memiliki Kerajaan; Yang Mempunyai Keagungan dan
Kebesa-ran; Yang Maha Adil; Yang Maha
Mengumpulkan manusia pada hari kiamat; Yang Maha Kaya; Yang Maha Membuat kaya;
Yang Berhak Melarang; Yang Maha Membuat bahaya; Yang Berkuasa memberi man-faat;
Yang Menciptakan cahaya; Yang Maha Memberi petunjuk ke jalan yang benar; Yang
Maha Pencipta; Yang Maha Kekal; Yang Tetap Kekal (setelah seluruh makhlukn
sirna); Yang Maha Pandai/Pemberi petunjuk ke jalan yang lurus; Yang Maha
Sabar.”.
Laa ilaaha illallooh, Al-Mujuudu fii kulli zamaan. Laa
ilaaha illallooh, Al-Ma’buudu fi kulli makaan. Laa ilaaha illallooh,
Al-Madzkuuru bikulli lisaan. Laa ilaaha illallooh, Al-Ma’ruufu bil-ihsaan. Laa
ilaaha illallooh, kulla yaumin huwa fii sya-’n. Laa ilaaha illallooh,
al-amaana, al-amaana min zawaalil iimaan, wa min fitnatis-syaithaani. Yaa
qadiimal ihsaan, kam laka ‘alainaa min ihsaan, Ihsaanikal qadiimi Yaa hannaanu
yaa mannaan. Yaa rahmaanu yaa rahiim. Yaa ghafuuru yaa ghaffaar. Ighfir lanaa
war-hamnaa wa anta khai-rur-raahimiin. Wa shallalloohu ‘alaa sayyidinaa
muhammadin wa ‘alaa aalihii wa shahbihii wa sallam. Wal hamdu lillaahin rabbil
‘aalamiin.
Artinya : “Tiada tuhan selain Allah, Yang Ada di setiap
zaman. Tiada tuhan selain Allah, Yang disembah di segala tempat. Tiada tuhan
selain Allah, Yang disebut-sebut setiap lesan. Tiada tuhan selain Allah, Yang diketahui dengan kebaikan-Nya. Tiada
tuhan selain Allah, Yang setiap hari Dia
dalam urusan. Tiada tuhan selain Allah,
menjadi aman, menjadi aman dari hilangnya keimanan, dari fitnah syetan.
Wahai Tuhan Yang Maha Dahulu kebaikan-Nya! Berapa banyak kebaikan yang Engkau
curahkan kepada kami, kabaikan-Mu yang dahulu! Wahai Yang Maha Pengasih lagi
Maha Dermawan! Wahai Yang Maha Welas-asih. Wahai Yang Maha Pengampun lagi
Pengampun segala dosa! Ampunilah kami dan kasih sayangilah kami, karena Engkau
sebaik-baik Penyayang dari sekalian yang
penyayang. Semoga shalawat dan salam dilimpahkan kepada junjungan kita,
Muhammad, beserta keluarga dan para sahabatnya. Segala puji bagi Allah, Tuhan
sekalian alam.”
Sebagian ulama salaf, setelah selesai shalat maghrib,
mereka membaca surat Yasin, disambung membaca Al-Asma-ul Husna, kemudian
berdoa.
Maksudnya: “Ya
Allah, berilah kefahaman kepadanya dalam urusan agama dan ajarkannya Takwil
(tafsir al-Quran).”
Doa ini dibaca oleh Nabi Muhammad SAW untuk Abdullah Ibnu
Abbas atau dikenali sebagai Ibnu Abbas.
Menurut para ulama’, berkat bacaan doa ini, Abdullah bin
Abbas telah menjadi salah seorang tokoh yang paling ‘alim tentang Al-Qur’an dan
paling faqih dengan tafsirannya.
Selain terkenal sebagai seorang ahli Hadis, ahli Tafsir,
dan ahli Feqah yang tersohor di zamannya, beliau turut mendapat tempat istimewa
disisi Khalifah Ar-Rasyidin dalam membantu urusan pentadbiran.
Menurut Dr. Ustaz Zahazan, boleh juga dibaca “Allahumma
faqqihhu fid deen, wa a’llimuhul hikmah (ilmu pengetahuan)”
2. SURAH TAHA AYAT 1-5
Surah Taha ini ayat 1-5 ini juga banyak manfaatnya dan
amat popular di kalangan ibu bapa.
Ayat ini dikatakan menjadi pelembut hati simbolik dengan
peristiwa di mana Umar al-Khattab yang dahulunya amat menentang Islam.
Suatu hari, apabila mendapat berita adiknya memeluk
Islam, Umar menjadi sangat marah lalu pergi mencari adiknya.
Sampai sahaja di rumah, adiknya yang sedang membaca
Al-Quran telah ditampar sehingga terbaring di atas tanah dan disuruh
menyerahkan bacaan yang dibaca. Selepas itu, Umar mula menghayati setiap
bait-bait ayat surah Taha 1-5 yang dituturkan oleh adiknya tadi. Tak
semena-mena, air mata Umar tumpah, tersentuh hatinya dan beliau terus memeluk
agama Islam pada hari itu juga dihadapan Nabi Muhammad SAW.
Maksudnya: Allah (pemberi) cahaya (kepada) langit dan
bumi. Perumpamaan cahaya-Nya seperti sebuah lubang yang tidak tembus yang di
dalamnya ada pelita besar. Pelita itu di dalam tabung kaca, (dan) tabung kaca
itu bagaikan bintang yang berkilauan, yang dinyalakan dengan minyak dari pohon
yang diberkati, iaitu pohon zaitun yang tumbuh di timur dan tidak pula di
barat, yang minyaknya (saja) hampir-hampir menerangi, walaupun tidak disentuh
api. Cahaya di atas cahaya (berlapis-lapis), Allah memberi petunjuk kepada
cahaya-Nya bagi orang yang Dia kehendaki, dan Allah membuat
perumpamaan-perumpamaan bagi manusia. Dan, Allah Maha Mengetahui segala
sesuatu.
Ayat 35 daripada surah Nur ini juga antara yang terkenal
dan sering diamalkan sebagai ayat pelembut hati, pendinding diri, penerang hati
dan sebagainya. Jika diteliti, ayat ini memiliki maksud yang sangat mendalam.
Dari ayat ini kita boleh faham bahawa sumber cahaya yang
menerangi alam ini dan hati kita datangnya daripada Allah. Ilmu itu semuanya
dari Allah. Hidayah itu juga ‘cahaya’. Dan apabila datangnya cahaya demi cahaya
itulah yang dikatakan ‘nur ala nur’ (cahaya atas cahaya). Kalau tanpa cahaya
ilmu dari Allah ini, kita akan terus berada di dalam kegelapan dan kejahilan.
4. SURAH AL-INSYIRAH
Salah satu surah ringkas dalam Juz Amma, namun cukup
power.
Ayat ini diajukan kepada Nabi Muhammad SAW bagi
menghilangkan segala kesusahan yang dipikul Baginda ketika berdakwah dan
menyampaikan risalah-Nya.
Telah diulang 2 kali dalam surah ini, ‘bahawa
sesungguhnya tiap-tiap kesukaran disertai kemudahan’.
Maka percayalah bahawa walau sesukar manapun keadaan anak
kita, Allah itu lebih mengetahui.
Bahkan, kepada Allah jualah kita memohon agar melapangkan
jiwa yang lara, memberi kefahaman dan kefasihan, menjinakkan anak yang sukar
mendengar kata, menerangkan hati sesiapa sahaja untuk memudahkan menerima
setiap pelajaran yang dipelajari.
“Maka, Kami memberikan pengertian
kepada Sulaiman (tentang hukum yang lebih tepat), dan kepada masing-masing Kami
berikan hikmah dan ilmu, dan Kami tundukkan gunung-gunung dan burung-burung,
semua bertasbih bersama Daud. Dan, Kamilah yang melakukannya.”
Ayat ini terdapat dalam kisah Nabi Daud dan Nabi Sulaiman
ketika kedua mereka sedang mencari jalan penyelesaian terhadap permasalahan
yang berlaku dalam kalangan umatnya ketika itu. Lalu, Allah memberikan mereka
kefahaman, hikmah dan ilmu kepada Nabi Sulaiman untuk memutuskan hal tersebut
secara adil dan saksama. Ayat ini juga menyebutkan kelebihan Nabi Daud dan
diakhiri dengan ‘Kamilah yang melakukannya’, bermaksud semua ini adalah
datangnya dari Allah jua.
Maka, mohonlah kefahaman yang baik untuk anak kita kerana
Allah berkuasa memberikan ilmu dan hikmah kepada sesiapa saja pada bila-bila
masa, dengan cara yang tidak kita ketahui.
JOM AMALKAN SELALU
Bacakan doa ini kepada anak-anak, di ubun kepala ketika
anak-anak sedang tidur, masa nak pergi sekolah atau selitkan sekali doa ini
buat mereka pada setiap kali lepas solat. Sambil bermain dan peluk anak pun
boleh berdoa untuk mereka kan?
Tak terhad kepada doa ini saja, ibu ayah boleh mendoakan
apa saja yang baik-baik untuk anak walaupun dalam bahasa Melayu. Mudah-mudahan
kita juga diberi kefahaman dan kelapangan hati dalam mendidik dan membesarkan
anak-anak. Insha Allah.
*Gambar Sekadar Hiasan
Seorang muslim adalah cermin bagi saudaranya. Coba kita
perhatikan ketika kita melihat kaca, lalu melihat ada sesuatu yang kotor di
tubuh kita di cermin tersebut, maka tentu kita akan bersihkan. Hasil cerminan
itulah saudara kita. Jadi salinglah menghendaki kebaikan satu dan yang lain,
bukan malah ingin mengotori.
Berikut hadis-hadis yang dibawakah oleh Imam Bukhari
dalam Adabul Mufrod.
Dari Abu Hurairah berkata, “Rasulullah ﷺ bersabda:
“Seorang Mukmin adalah cermin
bagi saudaranya. Jika dia melihat suatu aib pada diri saudaranya, maka dia
memerbaikinya.” (Hasan secara sanad)
Dari Abu Hurairah, dari Nabi ﷺ, beliau bersabda:
المؤمن مرآة أخيه، والمؤمن أخو المؤمن؛
يكف عليه ضيعته، ويحوطه من ورائه
“Seorang Mukmin adalah cermin
bagi saudaranya. Seorang Mukmin adalah saudara bagi Mukmin yang lain. Dia tidak
merusak harta miliknya dan menjaga kepentingannya.” (Hasan) Ash Shahihah
(6/923): [Abu Dawud: 40-Kitab Al Adab, 49-Bab Fin Nashihah].
Dari Al Mustaurid, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa
sallam, beliau bersabda,
من أكل بمسلم أكلة؛ فإن الله يطعمه
مثلها من جهنم، ومن كُسِيَ برجل مسلم، فإن الله عز وجل يكسوه من جهنم، ومن قام
برجل مقام رياء وسمعة؛ فإن الله يقوم به مقام رياء وسمعة يوم القيامة
“Siapa yang mencari makan dengan
(mengorbankan) seorang Muslim, Allah taala akan memberinya makan dengan yang
semisal dari Neraka Jahannam.
Dan siapa yang mencari pakaian dengan (mengorbankan)
seorang Muslim, sesungguhnya Allah taala akan memberinya pakaian dari Jahannam.
Dan siapa yang menempati suatu kedudukan dengan tujuan
riya dan sum’ah, Allah akan menempatkannya pada kedudukan orang yang riya dan
sumah di Hari Kiamat.” (Shahih) Ash Shahihah (924): [Abu Dawud: 40-Kitab Al
Adab, 35-Bab Fil Ghibah].
Semoga Allah senantiasa membekali kita dengan akhlak
mulia.
*Gambar Sekadar Hiasan
SURAH AL-IKHLAS, AL-FALAQ DAN AN-NAAS DAN FADHILATNYA
1. Katakanlah:
“Aku berlindung kepada Tuhan yang menguasai subuh,
2. Dari kejahatan
makhluk-Nya,
3. Dan dari
kejahatan malam apabila Telah gelap gulita,
4. Dan dari
kejahatan wanita-wanita tukang sihir yang menghembus pada buhul-buhul[1609],
5. Dan dari
kejahatan pendengki bila ia dengki.”
[1609] Biasanya
tukang-tukang sihir dalam melakukan sihirnya membikin buhul-buhul dari tali
lalu membacakan jampi-jampi dengan menghembus-hembuskan nafasnya ke buhul
tersebut.
1. Katakanlah:
“Aku berlidung kepada Tuhan (yang memelihara dan menguasai) manusia.
2. Sembahan
manusia.
4. Dari kejahatan
(bisikan) syaitan yang biasa bersembunyi,
5. Yang
membisikkan (kejahatan) ke dalam dada manusia, dari (golongan) jin dan manusia.
6. Dari (golongan)
jin dan manusia.
Bacalah secara rutin surat al-Ikhlas, al-Falaq dan
an-Nas. Rasulullah saw. bersabda, “Barangsiapa yang membacanya (ketiga surat
tersebut) tiga kali pada waktu pagi dan tiga kali pada waktu sore, maka segala
sesuatunya akan dicukupi Allah”.
Penjelasan :
Didalam kitab Abwabul Faraj ditambahkan mengenai fadhilah
dan keistimewaan surat Al-Ikhlas. Bahwa ia merupakan salah satu surat dalam
Al-Qur’an yang memiliki banyak keutamaan. Seluruh ayatnya memuat ajaran tentang
Keesaan Allah dan menolak segala bentuk kemusyrikan. Keutamaan lainnya dapat
kita simak dari beberapa hadis Nabi berikut.
Rasulullah saw. bersabda, “Barangsiapa yang membaca surat
al-Ikhlas tiga kali di waktu pagi dan tiga kali di waktu sore, ia akan terjaga
dari berbagai bentuk bahaya”.
Beliau saw. bersabda, “Apakah kamu merasa tidak mampu
membaca sepertiga Al-Qur’an dalam waktu satu malam?”. Para sahabat merasa
keberatan balik bertanya, “Ya Rasulallah! Siapa orangnya diantara kami yang
mampu melakukannya?”. Beliau saw bersabda, “Qul Huwalloohu ahad…(sampai akhir
surat al-Ikhlash) adalah sepertiga Al-Qur’an”. (HR Al-Bukhari).
Abu Hurairah ra. menceritakan, bahwa sewaktu Rasulullah
saw. mendengar seseorang membaca surat al-Ikhlas, beliau lalu berkomentar, “Dia
wajib!”. Ia bertanya, “Apanya yang wajib?” Beliau saw. bersabda, “Dia wajib
masuk surga”.
Imam at-Turmudzi meriwayatkan sebuah hadis, bahwa
Rasulullah saw. bersabda, “Barangsiapa yang sebelum tidur membaca surat
Al-Ikhlash seratus kali, maka pada hari kiamat nanti Allah swt. berfirman
(kepadanya), “Hai hambaku! Masuklah ke surga”.
Surat al-Ikhlash berkhasiat mendatangkan rizki yang
banyak. At-Thabrani mentakhrij hadis dari Jarir bin Abdullah, bahwa Rasulullah
saw bersabda, “Barangsiapa yang membaca surat al-Ikhlash sewaktu memasuki
rumahnya, maka penghuninya tidak mengalami kemiskinan”. (sanadnya dha’if).
Al-Hafizh Abu Musa al-Madini meriwayatkan dari Sugail bin
Sa’ad, bahwa seseorang pernah mendatangi Rasulullah saw seraya mengadukan
kemiskinan dan kesulitan mencari penghidupan. Beliau saw lalu memberi saran
kepadanya, “Jika kamu memasuki rumahmu, ucapkan salam, baik didalamnya ada
orangnya atau tidak ada, lalu ucapkan salam kepadaku, (Assalaamu ‘alaika, yaa
Rasuulallah), terus bacalah surat al-Ikhlash sekali”.
Setelah orang itu melaksanakan saran beliau saw, Allah
swt memberinya rizki yang berlimpah ruah, sampai-sampai tetangga dan kerabatnya
ikut kecipratan rizki tersebut. (Sanad-nya dha’if).
Meskipun ber-sanad dha’if, kedua hadis ini dapat
berfungsi sebagai fadhailul a’mal, tidak mengapa dipraktekkan dalam kehidupan
sehari-hari, asal tidak berkeyakinan bahwa hadis ini benar-benar ditetapkan
oleh Rasulullah saw..