maahad al-Tahzib wa al-Ta'alim

* Gambar Sekadar Hiasan

Sesungguhnya pada diri setiap manusia, telah ditetapkan bagi mereka rezekinya sejak roh ditiupkan pertama kali ke dalam kandungan ibu. Sebagaimana telah disebutkan bahwa rezeki telah ditetapkan, hanya tinggal bagaimana cara kita meraih rezeki tersebut. Sama ada dengan jalan halal dan penuh keberkatan, ataupun dengan jalan haram yang mengundang kemurkaan Allah. Maka tidak salah jika ramai yang lebih suka mengatakan menjemput rezeki daripada mencari rezeki.

Bila pintu rezeki ditutup Allah, maka dunia terasa menghimpit. Islam telah mengajar umatnya bahawa meninggalkan ketaqwaan di dalam apa jua aspek kehidupan akan mengundang kemiskinan dan kemelaratan. Macam-macam kemiskinan boleh berlaku bila taqwa tidak dimiliki.

Semuanya termaktub di dalam alquran dan sunnah Rasulullah SAW. Tidak miskin harta, seseorang yang melakukan dosa terus menerus tanpa taubat boleh jadi miskin iman, miskin hidayah, miskin ilmu, miskin akhlak dan adab, miskin maruah dan jati diri. Dalam kata-kata yang lain, kalau taqwa menjadi faktor ‘pengundang’ rezeki, keberkatan dan rahmat Ilahi, maka kesan dosa, maksiat dan mungkar adalah sebaliknya.

Lalu, pernahkah selama ini terfikir dan terlintas di hati kita, bahawa dosa yang kita lakukan samada terhadap Allah dan sesama manusia selama ini menjadi faktor atau penyebab ‘sempit’ dan ‘terhalang’nya rezeki Allah dari rezeki kita? Tersebut di dalam sebuah kitab Musnad, “Sesungguhnya manusia terhalang dari rezeki lantaran dosa yang dilakukannya.”

Dalam sepotong hadis yang diriwayatkan oleh Ad Dailami, Rasululah SAW bersabda: “Perbuatan zina itu mewariskan (mendatangkan) kefakiran (kemelaratan) .” 

Tanpa asas taqwa, seandainya seseorang itu dilihat melimpah ruah hartanya sekalipun, ia tak lebih merupakan ‘istidraj’ dari Allah. Itulah pemberian yang disertai laknat dan kutukkan. Mahukah kita dikurniakan rezeki sebegitu? Mahukan kita pemberian yang sedemikian? Kalau jawapan kita ‘ya’, maka kita tak lebih umpama Qarun, Tha’labah Yahudi Mabuk serta yang sama waktu dengan mereka.

Bagi golongan ini wang, harta dan kemewahan adalah segala-galanya. Dari mana punca dan sumbernya, tidak pernah diambil kira. Mereka langsung tidak memperdulikannya. Lihat kesudahan mereka. Tiada apa lagi yang boleh menahan mereka daripada terkubur hina bersama dengan harta haram dan syubhat yang mereka usahakan selama ini.

Firman Allah s.w.t.yang bermaksud :

“Barangsiapa yang bertakwa kepada Allah, maka Allah akan menunjukkan kepadanya jalan keluar dari kesusahan, dan diberikanNya rezeki dari jalan yang tidak disangka-sangka, dan barangsiapa yang bertawakal kepada Allah, nescaya Allah mencukupkan keperluannya.” (Surah At-Talaq ayat 2-3)

Antara punca-punca rezeki sukar diperoleh :

1) Jauhnya hubungan dengan Allah S.W.T.

2) Dosa.

3) Punca rezeki yang tidak berkat.

4) Bakhil. (Tidak bersedekah dan mengeluarkan zakat.)

5) Tidak mensyukuri nikmat yang diberi.

6) Ujian.

Kadangkala seseorang pernah bertanya pada diri sendiri, “Kenapa rezekiku  sempit?  Buat berbagai usaha tetapi masih gagal mencapai matlamatnya?Berniaga merosot, puas aku berdoa dan minta pertolongan Allah tetapi masih tidak dimakbulkan-Nya?”


* Klik Disini

Perlu di ingat bahawa Allah S.W.T. Maha Mengetahui apa akan berlaku kepada para hamba-Nya dilambatkan permohonannya adalah untuk kebaikan hambanya sendiri. Kerana takwanya belum mantap, maka diuji lagi supaya semakin banyak ia berusaha, berdoa dan bertawakal maka akan melahirkan hubungan yang erat hatinya dengan Allah S.W.T. dan Dia ingin memberikan pahala yang besar kepadanya diatas kesabarannya. Oleh itu kita kena berbaik sangka dengan Allah S.W.T. berdoa dan terus berdoa jangan putus asa. Cepat atau lambat dikabulkan doa kita adalah urusan Allah S.W.T.

Sebagai kesimpulan, terdapat banyak perkara yang boleh menghalang dan membuatkan begitu mahalnya rezeki kepada kita.  Dalam usaha mencari rezeki di atas dunia ini, jangan sampai menjauhkan kita daripada beribadah dan mangingati Allah. Oleh itu, kita perlu bertawakal kepada Allah dengan hakikat tawakal yang sebenarnya. Kita mesti berusaha dan berikhtiar tetapi meletakkan pergantungan sepenuhnya kepada Allah. Kalau dapat apa yang kita inginkan, bersyukurlah. Kalau sebaliknya, bersabarlah dan berbaik sangka dengan Allah. Yang penting, kita mesti tahu meletakkan kepentingan antara dunia dan akhirat. Jangan gadaikan akhirat dengan habuan dunia yang sementara ini. Berusaha dan berikhtiarlah, kerana ia sunnatullah. Tetapi ingat, ia tidak akan dapat mengatasi takdir Allah S.W.T.

* Gambar Sekadar Hiasan

Kita memang diperintahkan oleh Allah SWT untuk berikhtiar, berusaha dan bekerja untuk mencari nafkah. Namun, seberapa besar rezeki yang kita peroleh sudah ditentukan dan telah dijamin oleh Allah. Maka, penting bagi kita untuk memahami konsep tawakal kepada Allah dan meyakini tentang jaminan Allah untuk makhluk-Nya.

Imam Al-Ghazali mengatakan, “Hendaklah engkau tahu bahwa rezeki manusia itu telah dibagikan oleh Allah sebelum kita dilahirkan. Hal ini telah disebut secara jelas dalam Al-Kitab dan Hadis-hadis Rasulullah SAW. Bahkan, engkau pun tahu bahwa apa yang dibagikan-Nya tidak dapat diganti dan tidak pula diubah. Jika engkau menolak pembagian tersebut dan berharap agar diubah, maka berarti engkau mendekati kekufuran. Semoga Allah Ta’ala melindungi kita dari pikiran semacam itu.”

Jika engkau mengetahui pembagian rezeki dari Allah itu benar adanya dan tidak mungkin berubah karena suatu hal, lalu mengapa kita menghalalkan segala cara untuk mencari rezeki, hingga lupa halal dan haram? Bahkan, melupakan kewajiban untuk beribadah.

* Klik Disini

Rasulullah SAW bersabda, “Sudah tertulis di punggung ikan dan banteng tentang rezeki si fulan. Maka, orang yang tamak tidak akan mendapatkan tambahan selain dari kepayahannya sendiri”. Gurunya Imam Al-Ghazali memberi nasihat, “Sesungguhnya apa yang ditakdirkan sebagai makanan yang engkau kunyah, maka tidak akan dikunyah oleh orang lain. Karena itu, makanlah bagian rezekimu itu dengan mulia, janganlah engkau memakannya dengan hina!”

(Disarikan dari Imam Al-Ghazali dalam Minhajul ‘Abidin).

*Gambar Sekadar Hiasan

Sayyidah Fatimah pernah mengadu kepada Rasulullah ﷺ bahwa dia ingin seperti wanita wanita lain yang berhias dengan barang kemas.

Lalu Rasulullah ﷺ membawa Sayyidah Fatimah ke satu perigi dan menimba ke dalam perigi tersebut. Setelah di angkat naik timba tersebut maka kelihatanlah barang-barang perhiasan emas di dalam timba tersebut.

Sabda Rasulullah ﷺ “Ambillah Fatimah!”

Oleh kerana teringin berhias seperti wanita yang lainnya, Sayyidah Fatimah pun mengambil. Tapi cuma SATU saja. Diambilnya pun dalam keadaan malu malu.

Kalau kitalah di offer begitu, bagaimana? Pastinya kita akan terbeliak mata dan mengambil kesemuanya malah mungkin kita suruh di timba lagi akan emas tersebut.

Rasulullah ﷺ kemudian bertanya kepada Fatimah, “Cukupkah Fatimah?”

“Cukup Ya Rasulullah.” Ujar Fatimah.

Kemudian Rasulullah berkata pada Fatimah, ketahuilah oleh mu wahai anakku Fatimah, walaupun kamu mengambil hanya satu emas itu, ia sudah mengurangkan kebahagiaan dan kelazatan kamu nanti di akhirat.”

Sayyidah Fatimah terkejut. Tanpa berfikir terus segera memulangkan emas itu kembali kepada Rasullulah. Beliau tidak sanggup menukarkan akhiratnya dengan dunia yang sedikit.

Begitu hebat  cinta wanita wanita dahulu akan akhirat. Apabila di sebut akhirat saja, mereka sanggup faqir dan miskin didunia.

Tapi kita ini, sudah berapa banyak akhirat kita yang kita tukarkan dengan dunia?

Shoppee, lazada, ikea, zalora dan pelbagai tempat tempat pemuas nafsu sudah menjadi kitab yang kita schroll hari hari untuk bershopping sehingga barang yang tak perlu pun kita beli demi memuaskan nafsu serakah dunia kita.

Wang yang sepatutnya kita gunakan untuk sedekah dan infaq sudah tiada lagi dalam list hidup kita. Yang kita fikir siang dan malam hanyalah untuk mengisi ruang nafsu serakah kita.

Dalam FB kita penuh dengan video dan gambar makanan dan resepi. Penuh dengan cerita cerita pakaian tudung dan aksesori untuk mencantikan diri kita. Sedangkan tubuh kita sudah semakin dekat dengan tanah dan berbau tanah!

Allaahu …

Kembali lah kawan kepada asal kita.

Kecilkan lah DUNIA kita. Besarkan lah AKHIRAT kita.

Ya Allah Yang Maha Pengasih, Berikan kasih sayang Mu kepada kami dan kepada para wanita kami.

Tutuplah aurat mereka. Berikan kepada mereka rasa malu yang menjadikan mereka senantiasa menjaga aurat dan kehormatan mereka dan mencintai akan akhirat.

* Gambar Sekadar Hiasan

Zikir merupakan inti dari sikap dan rasa syukur. Tidaklah dikatakan bersyukur pada Allah SWT orang yang tak pernah mau berzikir. Allah akan mengingat mereka yang sering berzikir dan menjanjikan akan menambah nikmatnya jika kita mau mensyukuri semua anugerah-Nya. Rasulullah SAW bersabda pada Mu’adz,

* Klik Disini

« يَا مُعَاذُ وَاللَّهِ إِنِّى لأُحِبُّكَ وَاللَّهِ إِنِّى لأُحِبُّكَ ». فَقَالَ « أُوصِيكَ يَا مُعَاذُ لاَ تَدَعَنَّ فِى دُبُرِ كُلِّ صَلاَةٍ تَقُولُ اللَّهُمَّ أَعِنِّى عَلَى ذِكْرِكَ وَشُكْرِكَ وَحُسْنِ عِبَادَتِكَ »

“Wahai Mu’adz, demi Allah, sungguh aku mencintaimu. Demi Allah, aku mencintaimu.” Lantas Nabi SAW bersabda, “Aku menasehatkan kepadamu –wahai Mu’adz-, janganlah engkau tinggalkan di setiap akhir shalat bacaan ‘Allahumma a’inni ‘ala dzikrika wa syukrika wa husni ‘ibadatik’ (Ya Allah tolonglah aku untuk berzikir dan bersyukur serta beribadah yang baik pada-Mu).” (HR Abu Dawud dan Ahmad).

Allah SWT berfirman,

فَاذْكُرُونِي أَذْكُرْكُمْ وَاشْكُرُوا لِي وَلَا تَكْفُرُونِ

“Karena itu, ingatlah kamu kepada-Ku niscaya Aku ingat (pula) kepadamu, dan bersyukurlah kepada-Ku, dan janganlah kamu mengingkari (nikmat)-Ku.” (QS. Al Baqarah: 152).

* Sekadar Gambar Hiasan

Sayyidina Ali r.a. mengatakan, “Barangsiapa mengumpulkan enam perkara, bererti ia telah berusaha meraih syurga dan menjauhi neraka, yakni:

1. Mengetahui Allah, lalu mentaati-Nya.

2. Mengetahui syaitan, lalu mendurhakainya.

3. Mengetahui kebahagiaan akhirat, lalu berusaha mecarinya.

4. Mengetahui dunia, lalu meninggalkannya (kecuali sebatas untuk bekal kembali ke akhirat).

* Klik Disini

5. Mengetahui kebenaran, lalu mengikutinya.

6. Mengetahui yang bathil, lalu menjauhinya.

(Nashaihul Ibad, Imam Nawawi Al-Bantani).

*Gambar Sekadar Hiasan
* Doa Nabi Sulaiman A.S

Terjemahan:

Ya Allah, masukkan kami dalam kawalan lingkungan Nabi Sulaiman, dan Nabi Sulaiman telah memiliki daripada timur dan barat dengan kebolehan anugerah Allah, sifat, perbuatan-perbuatan dan juga kekuatannya, Selamat sejahterakanlah kami Wahai Tuhan Jibrail, Mihkail, Israfil dan Izrail. Telah menguasai Nabi Sulaiman dari timur dan barat, jin, manusia, angin dan awan berserta keselamatan yang banyak. Maha suci Allah Taala yang maha mulia kemuliaan, dan kesempurnaanNya, ketahuilah oleh kamu wahai Iblis, wahai Iblis, wahai Iblis, Syaitan-syaitan tinggal dalam kegelapan. Wahai Tuhan kami, terimalah daripada kami doa Nabi Sulaiman, dan telah berselawat Allah ke atas Nabi Sulaiman, juga keatas para nabi dengan rahmatMu. Ya Allah yang amat mengasihani daripada segala-galanya.

Doa ini amat begitu masyhur diamalkan oleh para pengamal perubatan Darul Syifa, Darussalam dan lainl-lain pusat rawatan Islam.

Antaranya fadilatnya :

1) Menundukkan jin yang degil semasa rawatan.

2) Penunduk bagi binatang terutama ketika masuk ke hutan.

3) Pendinding dari gangguan jin dan sihir.

4) Penggerun kepada jin, manusia dan binatang.

5) Aura hebat dan pengaruh berwibawa.

Rasulullah SAW bersabda, “Jika Allah SWT mencintai seorang hamba, maka Dia akan memberinya cobaan. Jika ia bersabar, maka Dia akan memilihnya. Dan, jika ia rela (menerima cobaan itu), maka Dia akan menyucikannya.”

(HR Ad-Dailami melalui jalur Ali bin Abi Thalib)

Menurut Imam Al-Ghazali, indikasi paling penting tentang kecintaan Allah kepada seorang hamba adalah kecintaan hamba itu sendiri kepada Allah. Hal tersebut sekaligus merupakan bukti kecintaan Allah kepada hamba itu.

Sedangkan perbuatan yang menunjukkan bahwa seorang hamba dicintai Allah adalah bahwa Dia membimbing langsung semua urusannya, baik lahir maupun batin, baik secara terang-terangan ataupun rahasia. 

Klik Disini 

Dialah yang memberi petunjuk kepadanya, menghiasi akhlaknya, yang menggerakkan seluruh organ tubuhnya, serta meluruskan lahir dan batinnya.

Dialah yang akan memfokuskan cita-citanya pada satu tujuan (yakni Allah SWT), menutup hatinya dari dunia, dan merasa tidak berkepentingan terhadap selain Dia. Dialah yang menjadikan hamba tersebut merasa puas menikmati munajat dalam khalwat (kesendiriannya), juga menyingkap tabir antara Dia dan makrifat.

(Imam Al-Ghazali dalam Kitab Al-Mahabbah wa al-Syawq wa al-Uns wa al-Ridha).

* Gambar Sekadar Hiasan

1)   Umur anak-anak 0-6 tahun.

Pada masa ini, Rasulullah s.a.w menyuruh kita untuk memanjakan, mengasihi dan menyayangi anak dengan kasih sayang yg tidak berbatas. Berikan mereka kasih sayang tanpa mengira anak sulung mahupun bongsu dengan bersikap adil terhadap setiap anak-anak. Tidak boleh dirotan sekiranya mereka melakukan kesalahan walaupun atas dasar untuk mendidik.

Kesannya, anak-anak akan lebih dekat dengan kita dan merasakan kita sebahagian masa membesar mereka yang boleh dianggap sebagai rakan dan rujukan yang terbaik. Anak-anak merasa aman dalam meniti usia kecil mereka kerana mereka tahu yang anda (ibubapa) selalu ada disisi mereka setiap masa.

2)   Umur anak-anak 7-14 tahun.

Pada tahap ini kita mula menanamkan nilai DISIPLIN dan TANGUNGJAWAB kepada anak-anak. Menurut hadith Abu Daud, “Perintahlah anak-anak kamu supaya mendirikan sembahyang ketika berusia tujuh tahun dan pukullah mereka kerana meninggalkan sembahyang ketika berumur sepuluh tahun dan asingkanlah tempat tidur di antara mereka (lelaki dan perempuan). Pukul itu pula bukanlah untuk menyeksa, cuma sekadar untuk menggerunkan mereka.

*Klik Sini

Janganlah dipukul bahagian muka kerana muka adalah tempat penghormatan seseorang. Allah SWT mencipta sendiri muka Nabi Adam.

Kesannya, anak-anak akan lebih bertanggungjawab pada setiap suruhan terutama dalam mendirikan solat. Inilah masa terbaik bagi kita dalam memprogramkan sahsiah dan akhlak anak-anak mengikut acuan Islam. Terpulang pada ibubapa samada ingin menjadikan mereka seorang muslim, yahudi, nasrani ataupun majusi.

3)   Umur anak-anak 15- 21 tahun.

Inilah fasa remaja yang penuh sikap memberontak. Pada tahap ini, ibubapa seeloknya mendekati anak-anak dengan BERKAWAN dengan mereka. Banyakkan berborak dan berbincang dengan mereka tentang perkara yang mereka hadapi. Bagi anak remaja perempuan, berkongsilah dengan mereka tentang kisah kedatangan ‘haid’ mereka dan perasaan mereka ketika itu. Jadilah pendengar yang setia kepada mereka.

Sekiranya tidak bersetuju dengan sebarang tindakan mereka, elakkan mengherdik atau memarahi mereka terutama dihadapan adik-beradik yang lain tetapi banyakkan pendekatan secara diplomasi walaupun kita adalah orang tua mereka.Kesannya, tiada orang ketiga atau ‘asing’ akan hadir dalam hidup mereka sebagai tempat rujukan dan pendengar masalah mereka. Mereka tidak akan terpengaruh untuk keluar rumah untuk mencari keseronokkan memandangkan semua kebahagian dan keseronokkan telah ada di rumah bersama keluarga.

4)   Umur anak 21 tahun dan ke atas.

Fasa ini adalah masa ibubapa untuk memberikan sepenuh KEPERCAYAAN kepada anak-anak dengan memberi KEBEBASAN dalam membuat keputusan mereka sendiri. Ibubapa hanya perlu pantau, nasihatkan dengan diiringi doa agar setiap hala tuju yang diambil mereka adalah betul.

Bermula pengembaraan kehidupan mereka yang sebenar di luar rumah. Insha’Allah dengan segala displin yang diasah sejak tahap ke-2 sebelum ini cukup menjadi benteng diri buat mereka. Ibubapa jangan penat untuk menasihati mereka, kerana mengikut kajian nasihat yang diucap sebanyak 200 kali terhadap anak-anak mampu membentuk tingkahlaku yang baik seperti yang ibubapa inginkan.

Sesungguhnya anak, merupakan amanah..semoga kita semua dapat memikul tanggungjawab sebagai ibu bapa dengan bijaksana.

 

* Gambar Sekadar Hiasan

7 Penyakit hati : 

(1) Membanggakan diri ( al-‘ujub ) 

(2) Terpedaya dengan perasaan sendiri ( al-ghurur ) (3) Sombong atau bongkak ( at-takabbur ) (4) Suka menunjuk-nunjuk ( al-riya’ ) (5) Buruk sangka ( su’ al-zhann ) (6) Kikir ( al-syuhh ) (7) Dendam ( al-hiqd )

 

 

 

* Gambar Sekadar Hiasan

Imam Malik RA (Guru Imam Syafi’i RA) berkata : Sesungguhnya rezeki itu datang tanpa sebab, cukup dengan tawakkal yang benar kepada Allah niscaya Allah akan meberikan Rezeki. Lakukan yang menjadi bagianmu, selanjutnya biarkan Allah mengurus lainnya.

Imam Syafii RA (Murid Imam Maliki RA) berkata : Seandainya seekor burung tidak keluar dari sangkarnya, bagaimana mungkin ia akan mendapatkan rezeki.

Guru dan murid itu tetap bersikap kukuh pada pada pendapatnya masing-masing.

*Klik Disini 

Suatu ketika Imam Syafii RA keluar berjalan dan melihat serombongan orang petani tengah memetik anggur. Diapun membantu mereka. Setelah pekerjaan selesai, Imam Syafii memperolehi imbalan beberapa ikat anggur sebagai balas jasa. Imam Syafii girang, bukan karena mendapatkan anggur, tetapi pemberian itu telah menguatkan pendapatnya. Jika burung tak terbang dari sangkar, bagaimana ia akan mendapat rezeki. Seandainya dia tak membantu memanen, niscaya tidak akan mendapatkan anggur.

Imam Syafi’i RA bergegas menjumpai Gurunya Imam Malik RA. Sambil menaruh seluruh anggur yang didapatnya, beliau bercerita,:Imam Syafii sedikit mengeraskan bagian kalimat “seandainya saya tidak keluar pondok dan melakukan sesuatu (membantu memanen), tentu saja anggur itu tidak akan pernah sampai di tangan saya.”

Mendengar itu Gurunya Imam Malik RAtersenyum, seraya mengambil anggur dan mencicipinya. Imam Malik berucap pelan, “Sehari ini aku memang tidak keluar, hanya mengambil tugas sebagai guru, dan sedikit berpikir alangkah nikmatnya kalau dalam hari yang panas ini aku bisa menikmati anggur. Tiba-tiba engkau datang sambil membawakan beberapa ikat anggur segar untukku. Bukankah ini juga bagian dari rezeki yang datang tanpa sebab. Cukup dengan tawakkal yang benar kepada Allah niscaya Allah akan berikan Rezeki. Lakukan yang menjadi bagianmu, selanjutnya biarkan Allah yang mengurus lainnya.”

Guru dan murid itu kemudian saling tertawa.

Dua Imam Mazhab mengambil dua hukum yang berbeda dari hadits yang sama. Begitulah cara Ulama bila melihat perbedaan, bukan dengan cara menyalahkan orang lain dan hanya membenarkan pendapatnya saja. Semoga dapat menjadi pelajaran buat kita semua.