Uncategorized

*Gambar Sekadar Hiasan

Rasulullah SAW bersabda, “Bentengilah hartamu dengan zakat, obati orang-orang sakit (dari kalanganmu) dengan bersedekah dan persiapkan doa untuk menghadapi datangnya bencana”. (HR. Ath-Thabrani)

Rasulullah SAW bersabda, “Tiap Muslim wajib bersedekah.”

Lalu para sahabat bertanya, “Bagaimana kalau dia tidak memiliki sesuatu?”

Nabi SAW menjawab, “Bekerja dengan ketrampilan tangannya agar bermanfaat bagi dirinya lalu dia bersedekah.”

Mereka bertanya lagi. Bagaimana kalau dia tidak mampu?”

Nabi menjawab: “Menolong orang yang memerlukan yang sedang teraniaya.”

Mereka bertanya: “Bagaimana kalau dia tidak melakukannya?”

Nabi menjawab: “Menyuruh berbuat ma’ruf.”

Mereka bertanya lagi: “Bagaimana kalau dia tidak melakukannya?”

Nabi SAW pun menjawab, “Mencegah diri dari berbuat kejahatan itulah sodaqoh.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Rasulullah SAW juga bersabda, “Satu dirham memacu dan mendahului seratus ribu dirham.”

Para sahabat bertanya, “Bagaimana itu terjadi?” Nabi SAW menjawab, “Seorang memiliki (hanya) dua dirham. Dia mengambil satu dirham dan bersedekah dengannya, dan seorang lagi memiliki harta-benda yang banyak, dia mengambil seratus ribu dirham untuk disedekahkannya. (HR. An-Nasaa’i)

Rasulullah SAW bersabda, “Barangsiapa diberi Allah harta dan tidak menunaikan zakatnya kelak pada hari kiamat dia akan dibayang-bayangi dengan seekor ular bermata satu di tengah dan punya dua lidah yang melilitnya. Ular itu mencengkeram kedua rahangnya seraya berkata, “Aku hartamu, aku pusaka simpananmu.”

Kemudian Nabi SAW membaca firman Allah surat Ali Imran ayat 180: “Dan janganlah orang-orang yang bakhil dengan harta yang Allah berikan kepada mereka dari karuniaNya menyangka bahwa kebakhilan itu baik bagi mereka. Sebenarnya kebakhilan itu buruk bagi mereka. Harta yang mereka bakhilkan itu akan dikalungkan kelak di lehernya di hari kiamat. Dan kepunyaan Allah lah segala warisan (yang ada) di langit dan di bumi. Dan Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (HR. Bukhari).

* Gambar Sekadar Hiasan

PERISTIWA HARI SABTU:

– Tipu daya Kaum Nabi Nuh a.s

– Tipu daya Kaum Nabi Salleh a.s

– Tipu daya saudara-saudara Yusuf  terhadap dirinya.

– Tipu daya orang Yahudi terhadap Nabi Isa a.s

– Tipu daya orang-orang Quraisy terhadap Nabi Muhammad s.a.w pada Perjanjian Darun Nadwah.

– Tipu daya orang-orang Yahudi atas larangan Allah.

PERISTIWA HARI AHAD:

– Allah menciptakan langit sebagai tempat putaran bulan dan bintang.

– Allah menciptakan bintang-bintang yang sentiasa beredar.

– Allah menciptakan Neraka.

– Allah menciptakan tujuh lapis bumi.

– Allah menciptakan tujuh lautan.

– Allah menciptakan anggota tubuh manusia.

– Allah menciptakan masa dan angin puting beliung.

PERISTIWA HARI ISNIN:

– Nabi Musa bermusafir menuju Bukit Tursina.

– Turunnya dalil yang menunjukkan keEsaan Allah.

– Kali pertama malaikat Jibril turun bertemu Nabi s.a.w

– Diperlihatkan segala amalan umat kepada roh baginda Nabi s.a.w

– Wafatnya baginda Nabi s.a.w

PERISTIWA PADA HARI SELASA:

– Pembunuhan Nabi Jurjis a.s

– Pembunuhan Nabi Yahaya a.s

– Pembunuhan Nabi Zakariya a.s

– Pembunuhan tukang-tukang sihir Firaun

– Pembunuhan Asiah binti Mazahim -Isteri Firaun.

– Penyembelihan lembu kaum Bani Israil

– Pembunuhan Habil bin Adam a.s

PERISTIWA PADA HARI RABU:

– ‘Auj bin Unuq dibinasakan dengan burung hud-hud.

– Qarun dibinasakan oleh bumi.

– Firaun dan tentera-tenteranya dibinasakan dengan ditenggelamkan ke dalam laut.

– Namrud dibinasakan dengan binatang

– Kaum Nabi Luth a.s dibinasakan dengan teriakan suara malaikat Jibril.

– Kaum nabi ‘Ad a.s dibinasakan dengan angin.

PERISTIWA PADA HARI KHAMIS:

– Hajat Nabi Ibrahim ditunaikan raja Mesir dan diberikan seorang perempuan bernama Siti Hajar.

– Pemerah minuman raja masuk ke dalam penjara bermulanya pertemuan dengan Nabi Yusuf a.s

– Bunyamin dipertemukan dengan saudara kandungnya, Nabi Yusuf a.s di Mesir

– Nabi Ya’kub a.s masuk ke Mesir bertemu Yusuf a.s

– Nabi Musa a.s masuk ke Mesir bertemu suku Qibti

– Rasulullah s.a.w masuk ke Kota Makkah dan mendapat kemenangan.

PERISTIWA PADA HARI JUMAAT:

– Pernikahan Nabi Adam a.s dengan Hawa

– Pernikahan Nabi Yusuf a.s dengan Zulaikha

– Pernikahan Nabi Musa a.s dengan Shafuro’

– Pernikahan Nabi Sulaiman a.s dengan Ratu Balqis

– Pernikahan Nabi Muhammad s.a.w dengan Khadijah r.a

– Pernikahan Ali bin Abi Talib dengan Fatimah Az-Zahra

*Gambar Sekadar Hiasan

Syekh Abdul Qadir Al-Jailani menuturkan bahwa Rasulullah SAW bersabda, “Malaikat Jibril a.s. berkata kepadaku, Allah SWT meyanyangi para hamba-Nya yang penyayang,” (HR Bukhari).

Rasul juga bersabda, “Sayangilah apa yang ada di bumi, maka semua yang ada di langit akan menyayangi kalian,” (HR At-Tirmidzi).

Wahai orang yang menginginkan kasih sayang Allah SWT, perhatikanlah harganya dan itu sudah ada di tanganmu! Lalu berapa harga yang harus dibayar? Yaitu, kasih sayang kepada sesama makhluk-Nya. Lalu, apa yang dimaksud dengan ‘yang ada di tanganmu?’ Yang ada di tanganmu adalah berikanlah harganya dan ambil barangnya.

Celakalah dirimu, engkau mengaku mengenal Allah SWT, namun tidak mengasihi sekalian makhluk-Nya, Pengakuanmu itu dusta. Orang yang arif akan senantiasa mengasihi sekalian makhluk berdasarkan ilmunya, serta mengasihi kaum lainnya berdasarkan hukum. Hukum itu memecah dan ilmu menyatukan. Allah SWT berfirman, “Dan, masuklah ke rumah-rumah dari pintu-pintunya..”(QS Al-Baqarah [2]: 189). Para Syeikh yang mengamalkan ilmu dan benar dalam menjalaninya merupakan pintu Al-Haqq Azza wa Jalla dan jalan menuju kedekatan kepada-Nya. Mereka merupakan pewaris para Nabi, yang menyeru kepada jalan keesaan-Nya. Mereka adalah para dokter agama dan pengajar. Maka, terimalah penjelasan yang mereka sampaikan dan layanilah mereka. Serahkan nafsu jahiliah kalian atas dasar perintah dan larangan mereka.

Semua rezeki berasal dari Al-Haqq ‘Azza wa Jalla, baik rezeki badan, batin, maupun relung jiwa, maka mintalah dari-Nya, bukan kepada selain-Nya. Rezeki badan adalah makanan dan minuman. Rezeki batin (qalb) adalah tauhid, dan rezeki relung jiwa adalah zikir khafi. Sayangilah diri kalian dengan bermujahadah, memerintahkannya dan melarangnya, serta melatihnya dengan kesungguhan. Sayangilah sekalian makhluk dengan memerintahkan mereka untuk menjalankan amal kebaikan dan mencegah kemungkaran, disertai niat yang benar dalam menasihati mereka, serta menuntun tangan mereka menuju pintu-Nya.

Kasih sayang merupakan salah satu sifat orang Mukmin, sedangkan bersikap kasar adalah ciri orang kafir. Sambunglah silaturahmi kepada orang yang memutus talinya. Berilah orang-orang yang tidak memberi kepada kalian. Dan, maafkanlah orang-orang yang menzalimi diri kalian. Jika kalian mampu melakukan hal tersebut, maka tali kalian bersambung dengan tali Al-Haqq Azza wa Jalla. Segala sesuatu yang kalian miliki ada di sisi-Nya, karena akhlak-akhlak ini merupakan bagian dari akhlak-Nya.

Sambutlah para muadzin yang menyeru kalian agar mendatangi masjid, yang merupakan rumah pertemuan dan munajat. Sambutlah mereka, maka kalian akan mendapatkan kesuksesan dan kecukupan. Jika kalian merespons seruannya maka Allah SWT akan memasukkan kalian ke dalam negeri-Nya, mengabulkan doa kalian, mendekatkan kalian, serta mengajarkan makrifat dan ilmu kepada kalian. Dia akan memperlihatkan kepada kalian segala sesuatu yang ada di sisi-ya, mendidik seluruh anggota badan kalian, menyucikan kalbu kalian, menjernihkan bashirah kalian, memberi ilham, menempatkan kalian di hadapan-Nya, mengantarkan kalbu kalian ke Negeri Kedekatan-Nya, dan mengizinkan kalian masuk menemui-Nya.

Dia Maha Dermawan jika kalian menyambut-Nya serta tidak meremehkan berdoa kepada-Nya. Dia berbuat baik kepada kalian dan mencabut apa yang harus dicabut dari diri kalian”.

(Syekh Abdul Qadir Al-Jailani dalam Jala’ Al-Khathir).

Telah berkata Imam Abdullah al-Harari (Semoga Allah Meredhai Beliau) dalam satu nasihatnya kepada seorang dari anak murid perempuannya:

“Jadilah kamu orang yang lemah lembut terhadap suamimu, rendahkan suaramu di hadapannya seolah kamu berada di hadapan salah seorang Raja-Raja. Hak suami di sisi Allah adalah sangat besar. Perangi nafsu kamu dengan bertawadhu’ terhadap suamimu”

*Gambar Sekadar Hiasan

Syeikh Abdul Qadir Al-Jailani dalam kitab Sirrul-Asrar menegaskan, “Karena itu, seseorang tidak boleh berlindung pada rahasia takdir untuk meninggalkan amal saleh. Seperti alasan, “Kalaupun aku di zaman azali sudah ditakdirkan menderita maka tidaklah ada manfaatnya beramal saleh. Dan, jika aku memang ditakdirkan bahagia maka tidaklah membahayakan bagiku untuk melakukan amal buruk.”

Pengarang kitab Tafsir Al-Bukhari berkata, “Sesungguhnya kebanyakan dari rahasia itu diketahui tapi tidak perlu dibahas seperti rahasia takdir. Seperti Iblis, ketika ia mengelak untuk tidak menghormati Adam, ia berkelit pada hakikat takdir. (Ketika ia ditanya mengapa engkau tidak menghormati Adam. Ia menjawab, “Inikah takdir-Mu Ya Allah?”). Dengan begitu ia kufur dan diusir dari surga. Sebaliknya, Nabi Adam AS selalu menimpakan kesalahan pada dirinya, maka mereka bahagia dan diberi rahmat (tidak mempermasalahkan takdir Allah SWT).

Hal yang wajib bagi semua Muslim adalah jangan berpikir tentang hakikat takdir, agar ia tidak tergoda dan terpeleset menjadi zindik. Justru yang wajib bagi seorang Muslim dan mukmin adalah yakin bahwa Allah SWT adalah Maha Bijaksana. Segala sesuatu yang terjadi dan terlihat oleh manusia di muka bumi ini, seperti kekufuran, kemunafikan, kefasikan, dan sebagainya, adalah perwujudan dari ke-Maha Kuasa-an Allah dan Hikmah-Nya. Dalam hal ini terdapat rahasia luar biasa yang tidak dapat diketahui, kecuali oleh Nabi Muhammad SAW.

Dalam sebuah hikayat diceritakan bahwa sebagian ahli makrifat bermunajat kepada Allah SWT, “Ya Allah, Engkau telah menakdirkan, Engkau menghendaki dan Engkau telah menciptakan maksiat dalam diriku,” tiba-tiba datanglah suara gaib, “Hai hamba-Ku, semua yang kau sebutkan itu adalah syarat ketuhanan, lalu mana syarat kehambaanmu?” Maka sang ahli makrifat itu menarik kembali ucapannya, “Aku salah, aku telah berdosa dan aku telah berbuat zalim pada diriku.” Maka datanglah jawaban dari suara gaib, “Aku telah mngempuni. Aku telah memaafkan dan Aku telah merahmati.”

Maka yang wajib bagi semua mukmin adalah berpandangan bahwa amal yang baik adalah atas taufik Allah dan amal yang buruk adalah dari dirinya, sehingga ia termasuk ke dalam hamba-hamba Allah yang disinggung dalam Al-Qur’an, “Dan juga orang-orang yang apabila mengerjakan perbuatan keji atau menganiaya dirinya sendiri, mereka mengingat Allah, lalu memohon ampun terhadap dosa-dosa mereka dan siapa lagi yang dapat mengampuni dosa selain dari pada Allah.” (QS. Ali ‘Imran [3]: 135)

Jika seorang hamba menganggap bahwa perbuatan maksiat berasal dari dirinya, maka ia termasuk orang yang beruntung dan selamat. Ketimbang menganggap bahwa dosa adalah dari Allah SWT, meskipun secara hakiki memang Allah SWT penciptanya.”

(Kitab Sirrul-Asrar wa Mazh-harul-Anwar; Rasaning Rasa karya Syekh Abdul Qadir Al-Jailani, terjemah KH Zezen ZA Bazul Ashab, Salima dan Pustaka Zainiyyah, Juni 2013)

Soalan:

Saya ingin bertanyakan tentang kaifiyat sujud syukur. Adakah perlu mempunyai wudhu’ dan juga menghadap kiblat?

.

Jawapan:

Alhamdulillah, segala puji bagi Allah SWT, selawat dan salam kepada junjungan besar Nabi Muhammad SAW, ahli keluarga baginda SAW, sahabat baginda SAW serta orang-orang yang mengikuti jejak langkah baginda SAW.

Disunatkan untuk melakukan sujud syukur ketika mana menerima kurnian nikmat daripada Allah SWT seumpama kelahiran anak, mendapat harta, pangkat, lulus peperiksaan dengan cemerlang dan juga selainnya. Begitu juga disunatkan untuk sujud syukur ketika mana kita terbebas dari segala bala dan bencana sepertimana terselamat dari kemalangan, gempa bumi dan juga perkara-perkara yang tidak baik. Ini adalah pendapat al-Syafi’e (begitu juga pendokong mazhab Syafi’e), Ahmad bin Hanbal (begitu juga pendokong mazhab Hanbali), Ishak, Abu Thaur dan juga Ibn al-Munzir. Adapun al-Nakha’ie, Malik dan juga Abu Hanifah berpendapat bahawa sujud syukur adalah makruh.[1] Namun, terdapat juga pendapat sebahagian Malikiyyah yang mengatakan bahawa sunatnya sujud syukur.

Dalil Sujud Syukur

Dalil yang menunjukkan kepada pensyariatan sujud syukur adalah berdasarkan hadith Nabi SAW daripada Abu Bakrah RA:

أَنَّهُ كَانَ إِذَا جَاءَهُ أَمْرُ سُرُورٍ أَوْ بُشِّرَ بِهِ خَرَّ سَاجِدًا شَاكِرًا لِلَّهِ

Maksudnya: Adalah Nabi SAW ketika telah datang sesuatu perkara yang menggembirakan ataupun diceritakan sesuatu yang gembira dengannya akan turun sujud, bersyukur terhadap Allah SWT.

Riwayat Abu Daud (2774).

Begitu juga diriwayatkan daripada para Sahabat yang mana turut juga melakukan sujud syukur ketika menerima satu perkhabaran yang gembira. Sebagai contoh, diriwayatkan bahawa Abu Bakar RA sujud syukur ketika pembukaan Yamamah. Begitu juga Ali RA telah sujud syukur apabila mendapati bahawa Dzu al-Thudayyah berada dalam kawanan Khawarij. Seterusnya, diriwayatkan juga bahawa Ka’ab bin Malik telah sujud syukur ketika mana mendengar khabar bahawa taubatnya telah diterima oleh Allah SWT.

Kaifiyat Sujud Syukur

Di dalam kitab fiqh Syafi’e dan juga Hanbali menyebutkan bahawa sifat serta kaifiyat sujud syukur itu adalah seperti mana sujud tilawah di luar solat. Oleh itu, bagi yang ingin melakukan sujud syukur mestilah dalam keadaan berwudhu’, menutup aurat, bersih dari sebarang najis bagi tubuh badan, pakaian serta tempat sujud dan perlulah menghadap kiblat. [2]

Secara praktikalnya bagi yang ingin melakukan sujud syukur adalah seperti berikut[3]:

1) Perlulah berniat terlebih dahulu untuk melakukan sujud syukur.

2) Kemudian bertakbir sepertimana takbiratul ihram dengan mengangkat tangan kerana diqiyaskan dengan solat.

3) Kemudian bertakbir sekali lagi tanpa mengangkat tangan yang mana takbir pada kali ini adalah untuk turun sujud.

4) Kemudian sujud sekali sepertimana sujudnya di dalam solat. Adapun bacaan ketika sujud syukur ini adalah bacaan sepertimana sujud di dalam solat dan kemudiannya boleh ditambahkan dengan lafaz tahmid memuji Allah SWT atas kurniaan nikmat yang telah diberikan oleh-Nya.

5) Kemudian bangun dari sujud (dalam keadaan duduk) dan memberi salam. Tidak disyaratkan untuk membaca tasyahhud dan tidak juga disunatkan untuk membacanya.

Sujud Syukur Tanpa Wudhu’ & Tidak Menghadap Kiblat

Selain dari kaifiyat yang ditunjukkan pada perbahasan sebelum ini, terdapat juga perbahasan para ulama’ mengenai sujud syukur tanpa wudhu’ serta tidak pula menghadap kiblat. Ini adalah pendapat kebanyakan salaf serta sebahagian al-Malikiyyah[4]. Begitu juga ianya adalah pendapat jemaah muhaqqiq seperti Ibn Jarir al-Tabari, Syeikh al-Islam Ibn Taimiyyah[5], Ibn al-Qayyim[6], al-Syaukani[7] dan al-San’ani[8].

Bagi yang berpendapat sedemikian, berikut adalah alasan serta justifikasi bagi menyokong pendapat mereka:

1) Pendapat yang mengatakan bahawa sujud syukur memerlukan wudhu’ perlu mendatangkan dalil. Mengqiyaskan sujud syukur dengan solat adalah tidak tepat kerana sujud syukur itu adalah sujud dan bukannya seperti solat.

2) Zahir hadith Abu Bakrah RA yang menunjukkan bahawa Nabi SAW terus sujud syukur tatkala menerima sesuatu yang menggembirakan Baginda. Tiada pula disebutkan perlunya dalam keadaan berwudhu’. Sekiranya memerlukan wudhu’ pasti akan diterangkan oleh Baginda SAW kerana berhajatkan kepadanya bahkan hadith menyebutkan Nabi SAW terus sujud tatkala menerima khabar yang gembira.

3) Sujud syukur dilakukan apabila mendapat nikmat atau terselamat dari mudarat tanda syukur kepada Allah SWT. Ianya dilakukan secara serta merta. Jika memerlukan kepada wudhu’, sudah tentu ianya tidak dapat dilakukan dengan segera kerana perlu mencari air untuk berwudhu’, mencari kiblat kemudian barulah boleh melakukan sujud syukur. Ini boleh menghilangkan rahsia makna disyariatkan sujud syukur itu sendiri.

Kesimpulan

Kami melihat di dalam isu ini, pendapat yang lebih dekat adalah pendapat yang mengatakan bahawa sujud syukur boleh dilakukan tanpa adanya wudhu’ dan juga menghadap ke kiblat. Ini dengan melihat bahawa tiada dalil yang menjadi pemutus akan perlunya untuk berwudhu’ dan menghadap kiblat.

Boleh sahaja bagi mereka yang menerima khabar gembira seperti mendapat anak, lulus peperiksaan, naik pangkat untuk terus sujud menzahirkan rasa syukur kepada Allah SWT. Begitu juga seseorang yang terselamat dari kecelakaan jalan raya, sembuh dari penyakit, boleh terus sujud menzahirkan rasa syukur serta lega dari kemudaratan yang tidak menimpa ke atasnya.

Jika ingin beramal dengan pendapat yang mengatakan perlunya wudhu’ serta menghadap kiblat juga tiada masalah kerana isu ini terdedah kepada perbahasan ilmiah yang boleh diperbahaskan lagi.

Semoga dengan pencerahan ini, dapat sama-sama untuk kita lebih memahami berkenaan sujud syukur dengan lebih baik lagi dan yang lebih utama adalah dengan mengamalkannya. Wallahu a’lam.

Allah SWT berfirman, “Aku bersaksi bahwa tiada Tuhan selain Aku, tiada sekutu bagi-Ku dan Muhammad adalah hamba dan utusan-Ku. Barangsiapa yang tak rela dengan ketentuan-Ku, tidak sabar terhadap ujian-Ku, tidak mensyukuri nikmat-Ku, dan tidak puas dengan pemberian-Ku, maka hendaknya ia menyembah tuhan selain-Ku. Barangsiapa yang sedih terhadap kehidupan dunianya, seolah-olah ia sedang murka kepada-Ku. Siapa yang mengeluh atas suatu musibah, berarti ia telah mengeluhkan-Ku. Siapa yang mendatangi orang kaya, lalu ia merendahkan diri karena kekayaannya, maka hilanglah dua pertiga agamanya.

Siapa yang memukul wajahnya karena kematian seseorang, seolah-olah ia telah mengambil tembok untuk memerangi-Ku. Siapa yang mematahkan kayu di atas kubur, seolah-olah ia telah menghancurkah Ka’bah-Ku dengan tangannya. Siapa yang tak peduli darimana ia mendapat makanan, maka Allah juga tak peduli dari pintu mana ia akan dimasukkan ke neraka Jahanam. Siapa yang tak bertambah agamanya, berarti ia merugi. Sedangkan orang yang merugi, mati adalah lebih baik baginya. Barangsiapa yang mengamalkan apa yang dia ketahui, maka Allah akan mewariskan untuknya ilmu yang tidak ia ketahui. Serta siapa yang panjang angan-angan, maka amalnya tidak akan ikhlas”.

(Imam Al-Ghazali dalam Kimiya As-Sa’adah).

Menurut Sulthanul Auliya Syeikh Abdul Qadir Jailani, terdapat 7 prinsip dasar bagi salik dalam bertarekat, yakni:

1. Mujahadah

Allah SWT berfirman, “Orang-orang yang berjihad (mencari keridhaan) Kami, benar-benar akan Kami tunjukan kepada mereka jalan-jalan Kami,” (Al-‘Ankabut [29]: 69).

Imam Juneid Al-Baghdadi mengatakan, “Aku mendengar As-Sari As-Saqathi berkata, ‘Wahai anak muda! Bekerja keraslah sebelum kalian mencapai usia sepertiku yang lemah dan tak bisa melakukan amal secara optimal.’ Hal ini dikatakan beliau setelah melihat tidak ada anak-anak muda yang gigih beribadah seperti dirinya”.

Ibrahim bin Adham menjelaskan bahwa seseorang tidak akan mencapai derajat orang-orang yang shaleh hingga ia melawati enam perkara:

1) Menutup pintu nikmat dan membuka pintu kesusahan;

2) Menutup pintu kemuliaan dan membuka pintu kehinaan;

3) Menutup pintu istirahat dan membuka pintu kerja keras;

4) Menutup pintu tidur dan membuka pintu begadang;

5) Menutup pintu kekayaan dan membuka pintu kemiskinan;

6) Menutup pintu harapan dan membuka pintu persiapan menyambut kematian.

2. Tawakal

Allah SWT berfirman, “Barang siapa yang bertawakal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupi keperluannya (QS Ath-Thalaq [65]: 3).

Hanya kepada Allah hendaknya kamu bertawakal, jika kamu benar-benar orang yang beriman,” (QS Al-Maidah [5]: 23).

Anas ibn Malik r.a. meriwayatkan, seorang laki-laki menemui Rasulullah SAW dengan mengendarai seekor unta. Ia bertanya, “Wahai Rasulullah, bolehkah aku membiarkan untaku tanpa diikat, lalu aku bertawakal?” Beliau menjawab, “Ikat dulu untamu! Lalu bertawakal!” Abu Turab Al-Nakhsyabi mengatakan, tawakal adalah melemparkan badan dalam penghambaan (‘ubudiyyah) dan mengaitkan kalbu dengan ketuhanan (rububiyyah), serta merasa tenang dengan apa yang ada. Jadi, jika diberi, dia bersyukur dan jika tidak diberi, dia bersabar.”

3. Akhlak

Allah berfirman, “Sesungguhnya kamu benar-benar berakhlak agung,” (Al-Qalam [68]: 4).

Anas ibn Malik ra. berkata bahwa Rasulullah SAW. pernah ditanya tentang orang mukmin yang imannya paling utama. Beliau menjawab, “Yang paling baik akhlaknya”. Akhlak adalah hal yang paling utama karena akhlak mencerminkan jati diri yang sebenarnya. Manusia terkubur oleh kelakuannya dan terkenal karena kelakuannya juga. Ada yang mengatakan, akhlak yang baik diberikan secara khusus oleh Allah SWT kepada Nabi Muhammad Saw. sebagaimana mukjizat dan keutamaan yang Dia berikan kepadanya. Namun, Allah tidak memuji beliau karena prestasi beliau seperti pujian-Nya kepada beliau karena akhlak beliau. Ada yang berpendapat, Allah memuji Nabi Muhammad karena akhlaknya yang agung karena beliau adalah orang yang mendermakan dunia dan akhirat (jad bi al-kaunain) dan mencukupkan diri dengan Allah. Budi pekerti yang agung berarti tidak memusuhi dan tidak layak dimusuhi karena makrifat yang mendalam akan Allah.

4. Syukur

Allah berfirman, “Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat)mu,” (Ibrahim [14]: 7).

Menurut ahli hakikat, syukur adalah mengakui nikmat yang diberikan oleh pemberi nikmat secara khusus. Allah menyebut dirinya sebagai “Yang Maha Mensyukuri” (al-Syakur) dalam arti yang meluas. Maksudnya, dia akan membalas para hamba atas syukur mereka. Ada yang mengatakan, hakikat syukur adalah memuji orang yang telah berbaik hati memberi (al-muhsin) dengan mengingat-ingat kebaikannya. Syukur hamba kepada Allah berarti memuji-Nya dengan mengingat-ingat kebaikan yang Dia berikan. Sementara, syukur Allah kepada hamba adalah pujian-Nya atas si hamba dengan menyebut kebaikannya kepada-Nya. Selanjutnya, kebaikan budi hamba adalah ketaatannya kepada Allah, dan kebaikan budi Allah adalah kemurahan-Nya memberikan nikmat kepada hamba.

5. Sabar

Allah berfirman, “Bersabarlah (hai Muhammad) dan tiadalah kesabaranmu itu melainkan dengan pertolongan Allah,” (An-Nahl [16]: 127).

Aisyah ra meriwayatkan, Nabi Saw. bersabda, “Sabar yang sesungguhnya adalah sabar ketika menghadapi guncangan yang pertama.”

Seorang laki-laki mengadu kepada Rasulullah Saw, “Wahai Rasulullah, hartaku telah habis dan tubuhku digerogoti penyakit.” Nabi Saw. menukas, “Tidak ada kebaikan pada hamba yang tidak kehilangan hartanya dan tidak sakit tubuhnya. Sesungguhnya jika Allah SWT. mencintai seorang hamba, maka Dia timpakan cobaan kepadanya. Jika Dia menimpakan cobaan kepadanya maka Dia akan membuatnya bersabar.”

Sabar ada tiga macam,

1) Sabar karena Allah, yakni sabar dalam menjalankan perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya.

2) Sabar bersama Allah, yakni sabar menerima qadha dan skenario Allah pada dirimu berupa cobaan dan kesulitan.

3) Sabar atas Allah, yakni bersabar menanti apa yang dijanjikan Allah berupa rezeki, bebas dari masalah, kecukupan, pertolongan, dan ganjaran di akhirat.

6. Ridha

Allah berfirman, “Allah meridai mereka dan mereka pun meridai Allah,” (Al-Maidah [5]: 119).

Rasulullah bersabda, “(Manis) rasa keimanan hanya bisa dicicipi oleh orang yang ridha menerima Allah sebagai Tuhan.” Allah juga berfirman, “Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu. Dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu. Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui,” (Al-Baqarah [2]: 216).

Abu Ali Al-Daqqaq ra mengatakan, ridha bukanlah tidak merasakan cobaan, akan tetapi ridha sesungguhnya adalah tidak memprotes ketentuan dan qadha. Apakah seseorang bisa mengetahui bahwa Allah meridainya? Dia bisa mengetahuinya. Jika seseorang merasakan hatinya ridha kepada Allah maka dia tahu bahwa Allah ridha kepadanya.

7. Jujur (Shiddiq)

Allah berfirman, “Hai orang-orang yang beriman bertakwalah kepada Allah dan hendaklah kamu bersama orang-orang yang benar,” (At-Taubah [9]: 119).

Diriwayatkan Abdullah ibn Mas’ud ra bahwa Rasulullah SAW bersabda, “Jika seorang hamba selalu berkata benar dan terus bergiat mengupayakan kebenaran, maka Allah akan menetapkannya sebagai shiddiq (orang yang selalu berkata benar).”

Shidq adalah pilar dan penyempurna segala hal. Ia merupakan derajat kedua setelah derajat kenabian. Shadiq adalah sifat yang melekat pada seseorang yang jujur/berlaku benar. Sedangkan shiddiq adalah bentuk mubalaghah (hiperbola), diberikan kepada orang yang terus-menerus melakukan kejujuran/kebenaran, sehingga menjadi kebiasaan dan karakternya.

Ada tiga hal yang menjadi buah manis orang yang berlaku shidq dan tidak akan lepas darinya: kenikmatan, wibawa, dan keramahan.

(Disarikan dari At-Tasawwuf dalam kitab Al-Gunyah Lithalibi Thariq Al-Haqq karya Syeikh Abdul Qadir Al-Jailani).

Ketika Rasulullah salallahu alaihi wassalam wafat, keadaan para sahabat baginda tergamam tidak terkata apa-apa. Bahkan ada yang hilang kewarasannya. Sayidina Umar al-Khattab mengembarkan pedangnya dan mengugut sesiapa yang mengatakan Rasulullah telah wafat. Uthman Affan terus mengunci bicara. Ada sahabat yang meninggal dunia mendengar berita itu.

Kebiasaannya, sayidina Bilal akan menunggu Rasulullah di hadapan pintu baginda sebelum masuk solat dan akan berjalan bersama baginda ke masjid. Tetapi Rasulullah sudah tiada, beliau tetap berdiri depan pintu rumah Rasulullah, tapi kali ini tiada siapa yang keluar bersama dengannya. Setiap kali masuk waktu, begitulah perbuatan Bilal sambil menangis. Kerana tidak mampu menanggung rasa sedih, beliau membuat keputusan untuk keluar dari Madinah dan berhijrah ke Syam walaupun ramai sahabat lain cuba memujuknya untuk tidak pergi.

Setelah beberapa tahun menetap di Syam dan tidak pernah kembali ke Madinah, suatu hari Bilal bin Rabah bermimpi bertemu dengan Rasulullah SAW. Rasulullah menyatakan bahawa Bilal sudah lama tidak menziarahinya. Lalu Bilal pulang ke Madinah. Apabila Bilal pulang, sahabat-sahabat rindu hendak mendengar azannya, lalu meminta dia azan.

Akhirnya Bilal melaungkan azan sebagaimana dia sering mengalunkan azan ketika masih bersama Rasulullah SAW. Ketika dia mengalunkan azannya, semua orang yang pernah hidup pada zaman Rasulullah keluar dari rumah, mereka seakan-akan terpana dengan azan Bilal dan seperti kembali ke zaman Rasulullah masih hidup. Hingga ada yang berkata, “Adakah Rasulullah telah hidup kembali?”

Tiba-tiba azan Bilal terhenti apabila sampai pada kalimah “Aku naik saksi bahawa sesungguhnya Muhammad itu ialah Rasulullah” dan dia menangis dengan penuh hiba. Bagi Bilal, seakan-akan masih basah ingatannya bahawa selepas dia azan, Rasulullah akan bersama para Muslimin untuk bersolat. Seluruh Madinah ketika itu basah dengan airmata bersama Bilal. Kesemua dibawa kembali kepada kenangan indah bersama seorang insan yang paling agung,  Muhammad salallahu alaihi wassalam.

✨💚✨💚✨💚✨💚✨💚

صلى الله عليك وسلم يا رسول الله فى كل لمحة ونفس عددما وسعه علم الله

✨💚✨💚✨💚✨💚✨💚

BERSELAWATLAH KE ATAS NABI MUHAMMAD S.A.W.

Sayidatina Aisyah ra meriwayatkan:

“Aku pernah menjahit baju di bilikku, tiba-tiba lampu padam, bilik menjadi gelap dan jarum terjatuh. Ketika aku cuba meraba-raba mencari jarum itu, tiba-tiba Nabi SAW datang kepadaku dari pintu bilik. Baginda mengangkat lampu dan wajahnya. Demi Allah yang tiada Tuhan selainnya, sesungguhnya telah terang setiap penjuru bilik dengan cahaya wajah Baginda sehinggalah aku dapat menjumpai kembali jarumku, kerana nur yang memancar. Kemudian aku menghadap kepadanya, lalu aku berkata: “Engkau lebih mulia daripada ayah dan ibuku wahai Rasulullah. Sungguh terang cahaya wajahmu”

Nabi SAW berkata: “Wahai Aisyah, rugi besar kepada sesiapa yang tidak dapat melihatku pada hari Kiamat” Aku bertanya: “Siapakah yang tidak boleh melihat engkau pada hari Kiamat wahai Rasulullah?” Baginda menjawab: “Rugi besar kepada sesiapa yang tidak dapat melihatku pada hari Kiamat.” Aku (Aisyah) bertanya lagi: “Siapakah yang tidak boleh melihat engkau pada hari Kiamat wahai Rasulullah?” Baginda menjawab: “Mereka yang ketika namaku disebut di sisi mereka, dia tidak berselawat ke atasku”. (H. Riwayat Ahmad dan Tirmizi)

اَللَّهُمَّ صَلِّ َعلى سيدنا مُحَمَّدٍ وَ عَلَى آِل سيدنا مُحَمَّد

اَللَّهُمَّ صَلِّ َعلى سيدنا مُحَمَّدٍ وَ عَلَى آِل سيدنا مُحَمَّد

اَللَّهُمَّ صَلِّ َعلى سيدنا مُحَمَّدٍ وَ عَلَى آِل سيدنا مُحَمَّد

Share on facebook
Facebook
Share on email
Email
Share on whatsapp
WhatsApp

*Gambar Sekadar Hiasan

Sayyidina Abu Musa Asy’ari radiyallahu-anhu meriwayatkan bahawa pada suatu ketika Rasulullah Sallallahu ‘Alaihi Wasallam telah memberitahu kami lima perkara:

(1) Sesungguhnya Allah Subhanahu Wa Ta’ala tidak tidur dan tidak layak dengan keagungan-Nya bahawa Dia tidur.

(2) Dia mengurang dan menambahkan rezeki.

(3) Amalan yang dilakukan pada waktu malam diangkat ke sisi-Nya sebelum waktu siang.

(4) Amalan-amalan yang dilakukan pada waktu siang diangkat ke sisi-Nya sebelum waktu malam.

(5) Hijab (di antara-Nya dan seluruh ciptaan-Nya) ialah nur (cahaya), jika Dia menyingkap hijab itu pasti pancaran-pancaran nur zat-Nya akan menghanguskan sekalian makhluk sejauh sampai pandangan-Nya.”

(Hadith Riwayat Muslim)

Sayyidina ‘Abdullah bin ‘Abbas radiyallahu-anhu meriwayatkan bahawa Rasulullah Sallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda, “Sesungguhnya sejak Allah Subhanahu Wa Ta’ala menjadikan Israfil alaihis-salam, dia berdiri dengan merapatkan kedua-dua kakinya dan tidak pernah dia mengangkat pandangannya, ada tujuh puluh hijab nur antara dia dengan Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Jika Israfil alaihis-salam menghampiri salah satu daripada hijab nur itu, maka pasti dia akan hangus terbakar.” (Masobihus Sunnah)

Sayyidina Abu Zar radiyallahu-anhu meriwayatkan bahawa Rasulullah Sallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda, “Sesungguhnya daku nampak apa-apa yang kamu tidak nampak dan daku dapat mendengar apa-apa yang kamu tidak dengar. Langit berderap-derap (kerana keberatan keagungan Ilahi sebagaimana pangkin atau seumpamanya berderap-derap kerana beban berat) dan sepatutnyalah ia berderap (kerana beban keagungan Allah Subhanahu Wa Ta’ala sangat berat). Di langit sana di setiap kawasan seluas empat jari pasti ada mana-mana malaikat yang meletakkan dahinya bersujud kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Demi Allah, sekiranya kamu mengetahui apa-apa yang daku ketahui sudah tentu kamu akan sedikit ketawa dan banyak menangis dan kamu tidak akan merasa nikmat bersama isteri kamu di tempat tidur dan pasti kamu akan pergi ke tempat-tempat terpencil berdoa memohon perlindungan kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala: Alangkah baiknya jika daku sebatang pohon yang dipotong (dari pangkalnya).”

(Hadith Riwayat Tirmidzi)